
“Tidak mungkin, Tante sudah melihat sendiri dengan jelas waktu itu. Tante juga sudah memastikan nya pada Ken, jadi tidak mungkin salah.” Kata tante Kiara terus mendesak Naura.
Deg!
Kini Naura seolah tahu mengapa Ken membuang kalung nya. Untuk kesekian kali ia melirik ke arah Ken yang nampak acuh dan cuek seolah tak mendengarkan percakapan mereka. Naura menghela nafas nya dengan berat, ia mengadahkan wajah nya ke atas agar air mata nya tidak menetes.
“Tante, maaf banget, tapi sepertinya Tante memang salah orang. Naura bukan anak dari kerabat Tante, Naura anak Bunda. Sampai kapan pun Naura hanya anak Bunda, bukan siapa siapa, apalagi anak dari kerabat Tante. Maaf, Naura permisi dulu,” ucap Naura mengangguk sopan dan segera pamit keluar dengan sedikit berlari.
"Naura!" seru tante Kiara berusaha mengejar Naura, namun Naura tidak memperdulikan nya. Di pikirannya saat ini hanya ingin pergi, karena dirinya begitu muak dengan Ken. Hatinya benar benar sakit mengingat kembali bagaimana sikap Ken padanya.
Ia tidak menyangka bahwa ternyata Ken begitu tega padanya. Padahal bisa saja dia mengatakan baik baik, Naura bisa menyembunyikan kalung nya bila memang Ken tak ingin keluarga nya tahu. Tidak perlu sampai harus membuang dan menghilang kan nya.
Lelah berlari, kini Naura berhenti di sebuah halte bus yang berada tak jauh dari komplek perumahan milik keluarga Ken. Naura menutup wajah nya dengan kedua tangan dan menyembunyikan nya di sela paha nya. Bahu nya terlihat naik turun, tanda ia sedang menangis, ia sudah berusaha untuk menahan nya sejak tadi, namun apalah daya, ia sudah tidak sanggup menahan lebih lama lagi.
__ADS_1
“Hiks hiks, aku gak mau begini. Aku gak minta, hiks hiks. Bukan keinginan ku hiks hiks hiks.” Gumam Naura terus terisak di tengah keheningan malam.
Tak jauh dari tempat nya, sejak tadi Ken terus memperhatikan Naura dari kejauhan sambil menggenggam sesuatu yang ia keluarkan dari kantong celana nya. Sebenarnya Ken tidak tega melihat Naura serapuh itu, hatinya ikut terasa nyeri tapi rasa kecewa nya jauh lebih besar dan mampu menutup rasa pedulinya.
Tuuttt ... Tuttt..
‘Hallo’
“Jemput cewek lo sekarang! Dia lagi nangis!” ucap Ken to the point.
“Ckck, buruan datang sebelum gue tinggal pergi.” Setelah mengatakan itu, Ken langsung menutup sambungan telfon nya. Sambil menunggu kedatangan Clay, Ken pun masih terus memantau Naura dari kejauhan.
Sementara itu, Clay yang baru saja mendapatkan telfon dari Ken dan mengetahui bahwa kekasihnya sedang menangis di pinggir jalan, segera bergegas mengambil jaket dan kunci motor nya.
__ADS_1
“Clay, kamu mau kemana?” tanya seorang gadis yang baru saja keluar dari kamar nya dan melihat Clay menuruni tangga dengan tergesa.
“Ada urusan! ” jawab nya cuek dan terus melangkahkan kaki dengan terburu.
“Ini udah malam!” seru gadis itu langsung mengejar Clay.
“Justru karena udah malam, lebih baik kamu tidur. Besok sekolah!” cetus Clay berdecak ketika jalan nya di halangi.
“Tapi kamu mau kemana? Ini udah jam segini loh!”
“Bukan urusan kamu! Minggir!”
“Aku mau ikut,” ucap gadis itu dengan senyum lebar, “Kalau gak, aku aduin sama Bunda!”
__ADS_1
“Tukang ngadu!” Clay mendengus menatap gadis itu, “Tapi aku tidak takut!” imbuh nya lalu ia segera menepis bahu gadis itu dan segera berlalu karena kini pikiran nya hanya terfokus kepada Naura.
“Iihhh Clayton!” seru nya ingin kembali mengejar, namun nyatanya gagal karena Clay sudah mengendarai motor nya dan melaju keluar melewati pintu gerbang.