
“Clay, kamu itu kemana aja sih? Astaga Nak, dua hari loh kamu gak pulang pulang?” tanya bunda Ella dari ujung telfon.
“Iya Bunda maaf, nanti siang Clay pulang,” jawab Clay masih sedikit mengantuk.
“Clay kamu jangan macem macem ya Nak. Bunda gak mau kalau kamu—“
“Bun, memang nya Clay mau macem macem gimana sih? Clay udah hidup di luar negri selama beberapa tahun, apa Bunda pernah dapat laporan kalau Clay gak bener di sana?” tanya Clay di iringi dengan suara decakan kesal.
“Bukan seperti itu Nak, bunda khawatir sama kamu. Dan juga, kamu gak kasihan sama Jesika, dia disini kesepian gak ada kamu.”
“Bun, dia bukan anak TK lagi, dan juga di sana ada Claudia Bun.”
“Clay, bunda mohon sama kamu. Untuk kali ini aja, segera selesaikan urusan kamu dan kembali lagi ke jalan awal. Bunda mohon, bunda gak mau kamu, ayah dan Om Jhon sampai—“
“Bunda tenang aja, Clay tutup dulu telfon nya. Assalamuaikum,” kata Clay dengan cepat dan segera menutup panggilan telfon nya tanpa menunggu jawaban dari sang bunda.
Clay menghela nafas nya dengan kasar, rasa kantuk nya sudah hilang dalam sekejab. Ia melirik ke arah brankar dimana Naura masih tertidur dengan pulas, lalu ia segera beranjak dan memilih pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah nya.
__ADS_1
Selama dua hari ini, Clay terus menemani Naura di rumah sakit. Dan baru siang ini nanti Naura baru di perbolehkan untuk pulang. Ken? Dia juga berada di rumah sakit, namun ia hanya mengintip sesekali dan kembali lagi ke ruang kerja om Bastian.
Dan selama dua hari itu juga, om Bastian harus di buat darah tinggi oleh sikap keponakan nya sendiri yang terus mengacaukan nya. Ia menyesal bahwa sudah menawarkan tempat istirahat untuk Ken saat itu.
“Makanya, kalau gak mau kena asap, jangan main api!” sungut om Bastian yang langsung melemparkan beberapa kertas kepada ken.
“Gak ada yang main api kok!” kata Ken dengan cepat, “Lagian Mama aja yang ngasih permintaan nya aneh begitu. Mana pakai ancaman segala lagi!”
“Sekarang om mau tanya sama kamu.” Bastian menghela nafas nya sedikit panjang, lalu menatap Ken dengan wajah serius nya, “Kamu mencintai Naura?”
Deg!
“Kamu mencintai kekasih mu?” tanya om Bastian lagi, “Ah iya om baru ingat. Dia gadis yang dulu kita temui pas makan siang kan? Anak dari teman tante Nisa?”
“I—iya ... “ jawab Ken sedikit terbata. Dirinya bahkan tidak tahu mengapa kini ia selalu merasa ragu dengan apapun yang akan ia ucap kan.
“Ken, bagaimana kalau Naura dan Clayton menikah nantinya?”
__ADS_1
“Om jangan ngaco deh! Naura itu istri Ken, mana bisa menikah sama kulkas kaya dia!” seru Ken seolah tak terima, tentu saja hal itu membuat om Bastian langsung tergelak.
“Kamu tidak mencintai nya? Yakin? Tapi kenapa mendengar dia menikah dengan laki laki lain kamu gak terima hem?” kata om Bastian lalu ia menghela nafas nya berat, “Nanti akan om bantu bilang ke papa dan mama kamu. Om akan bilang kalau kamu mau bercerai dengan Naura,” imbuh nya dengan tersenyum tipis.
“Om—“
“Udah gak usah berterimakasih. Nanti, kalaupun orang tua kamu bakal menghentikan jatah kalian, masih ada om Abas yang akan bantu. Tenang aja, yang penting kalian bercerai kan?” Imbuh nya dengan manaik turunkan alis menggoda kepada Ken.
“Om Abas itu ngeselin tahu gak!”
Brakkk!
Bastian semakin tergelak ketika melihat Ken mendorong kursinya hingga jatuh dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan nya.
"Orang mau di bantu kok, malah bilang ngeselin," gumam nya terkekeh. Melihat Ken seperti ini, entah mengapa malah terlihat lucu dan menjadi hiburan tersendiri untuk Bastian.
Tentu saja, karena dirinya sudah cukup lama tidak saling menggoda dan mengganggu keponakan sulung nya itu.
__ADS_1
‘Astaga Ra, Ra. Bisa bisa nya kamu nikahin anak kamu yang masih labil begini, xckckckk!’ decak Bastian menggelengkan kepala nya, dan tak jarang ia juga masih terkekeh bila mengingat sikap ajaib seorang Kenzo.