
“Ya Allah, semoga Naura gapapa,” gumam Arsy dengan perasaan bersalah, matanya sudah berkaca kaca ketika melihat keadaan Naura yang jauh dari kata, baik baik saja.
“Amin,” balas Jesika yang masih menatap kepergian mobil guru yang membawa Naura dan Ken pergi ke rumah sakit.
“Tadi kalian makan apa?” tanya Clay yang sejak tadi diam kini akhirnya membuka suara, ia langsung menatap pada Jesika dan Arsy.
“Mie cup. Dan memang sih itu rasa udang, tapi hanya—“
“Itu tetap saja udang!” kata Clay menghela nafas nya dengan kasar.
“Sungguh, Clay. Aku gak tau kalau Naura ada alergi dan bisa sampai seperti itu. Dan juga, Naura gak bilang, padahal sebelum masak tadi aku sudah bilang, hanya ada makanan itu,” ucap Arsy begitu lirih dengan tangan yang saling menaut dan meremas kuat.
“Aku gak bisa terus menunggu disini,” gumam Clay begitu frustasi. Ia sangat ingin ikut ke rumah sakit, namun mobil hanya ada satu, dan juga rombongan akan pulang besok pagi. Guru juga tidak mungkin merusak acara banyak murid hanya karena satu murid.
“Kita bisa bareng om aku!” pekik Arsy tiba tiba, “Aku yakin, om aku belum pulang!”
"Dimana om kamu?" tanya Clay langsung menatap ke arah Arsy.
__ADS_1
"Di Vila. Gak jauh kok dari sini," jawab Arsy.
“Baiklah ayo.” Clay, Arsy dan Jesika, ketiga nya langsung berjalan menuju Vila. Tepat ketika ketiganya sampai di depan gerbang, mobil yang di tumpangi Mike memang hendak keluar.
“Alhamdulilah,” gumam Arsy tersenyum lebar, “Om!” pekik nya menghadang mobil Mike.
“Kamu ngapain disini?” kata Mike berdecak, karena ia pikir Chila sudah kembali ke perkemahan.
“Mau ikut bareng ke Jakarta,” jawab Arsy dengan cepat, “Ya Om, ya. Plis, temen Chila di bawa ke rumah sakit gara gara dari sini tadi. Jadi om harus tanggung jawab!”
“Chila gak bercanda, Naura memang di bawa ke rumah sakit gara gara makan mie Cup dari dapur Vila nya om. Jadi sekarang dia di bawa ke rumah sakit, jadi plis anterin kita buat nyusul Naura.” Pinta Arsy dengan mengangkupkan kedua tangan nya di depan dagu.
“Astaga, buruan!” seru Mike kembali berdecak dan menghela nafas nya dengan berat.
Akhirnya, mau tak mau Mike memberikan tumpangan kepada Arsy dan teman teman nya. Tentu saja, dengan Arsy dan Jesika duduk di belakang, smenetara Clay duduk di depan bersama Mike. Sepanjang perjalanan, Arsy terus bercerita dan berceloteh seperti biasa bila bersama Mike. Satu keadaan yang Clay sama sekali tidak pernah menduga.
Arsy, yang selama ini ia kenal sebagai cewek alim, kalem dan lembut. Ternyata memiliki sisi ke bar- bar’an seperti Naura. Ya, bar – bar, bahkan mungkin Arsy jauh lebih cerewet di bandingkan Naura.
__ADS_1
“Chila bisa diem aja gak? Kepala ku pusing!” cetus Mike semakin berdecak kesal mendengarkan ocehan keponakan nya.
“Dari tadi Chila juga diem, kan tadi cuma mau—“
“Stop Chila, atau aku akan menurunkan mu disini!” ancam Mike membuat Arsy langsung memanyunkan bibir nya dengan kesal.
“Emang om berani nurunin Chila disini? Chila bisa telfon Papa atau Ayah. Gimana?” kata Arsy mengancam balik, hingga membuat Mike terdiam dan mengalah.
“Gue gak nyangka, kalau ternyata lo sedikit bawel Ar,” bisik Jesika akhirnya mengeluarkan suara.
“Emang aku bawel? Enggak deh perasaan,” kata Arsy seolah berfikir.
“Tipikal orang yang tidak mau sadar diri, seperti itu!” sindir Mike dengan raut wajah datarnya.
“Tipikal kanebo kering kurang air juga begitu, selalu datar dan mengancam!” sindir Arsy balik.
“Nah, kalau kata kata kamu ini, aku setuju, orang berdua di depan kita sepertinya memiliki sifat yang sama,” bisik Jesika, yang mana langsung mendapatkan tatapan tajam dari Clay, “Bercanda Clay, sensi amat!” imbuh Jesika ketika melihat mata Clay dari balik kaca spion.
__ADS_1