
“Lo bawa motor!” pekik Ken terkejut ketika melihat motor yang ia kenal berada di depan kantor polisi.
“Menurut kamu?” tanya Naura balik dna menghela nafas nya dengan berat.
“Lo gila apa gimana sih!”
“Gue gila, gue gak waras, puas lo!” cetus Naura, lalu ia segera memakai helm nya dan hendak naik ke atas motor, namun dengan cepat Ken merampas kunci motor hingga membuat Naura langsung memanyunkan bibir nya kesal.
“Lo punya otak gak sih Ra! Astaga, lo itu belum ahli bawa motor, lo baru latihan beberapa kali, dan itupun udah lama. Lo mau cari mati!” sentak Ken lagi dengan raut wajah marah. Mungkin bukan marah melainkan khawatir, karena memang Naura belum terlalu bisa membawa motor.
“Nyatanya gue bisa sampai sini,” jawab Naura dengan santai, “Udahlah, gue mau pulamg Gara gara lo waktu istirahat gue ke ganggu. Lo mau balik bareng atau naik taxi, silahkan.Buruan bawa sini kunci nya!”
Naura hendak mengambil lagi kunci di tangan Ken, namun dengan cepat Ken menyembunyikan nya di belakang dan segera menepis tangan Naura.
“Gue yang bawa,” kata Ken masih menatap Naura tak percaya.
__ADS_1
“Nah, kalau begini artinya lo mau bunuh kita berdua!” saut Naura dengan cepat. “Gue belum siap mati, apalagi karena kecelakaan, jadi sini mending gue aja yang bawa motor nya!”
Saat ini, Ken masih dalam pengaruh alkohol, tentu saja Naura melarang keras bila Ken mau membawa motor. Meskipun tidak terlalu mabuk, dan masih setengah sadar, namun Naura tidak mau mengambil resiko.
“Ya udah, naik taxi!” kata Ken mengambil jalan tengah.
“Motor lo aja udah disini, terus ini motor Kiano juga mau di tinggal disini?” tanya Naura mengerutkan dahi nya menatap Ken, “Udahlah, emnding lo aja naik taxi, biar gue bawa motor lagi. Berangkat aja bisa masa pulang gak bisa. Ckck.” Gumam Naura berdecak.
Setelah terjadi perdebatan panjang lebar,kini akhirnya Ken mengalah dan merelakan nyawa nya menjadi ajang uji nyali kemampuan Naura membawa motor. Meskipun sewaktu berangkat Naura berhasil sampai di akntor polisi, namun tetap saja Naura belum terlalu ahli dan ada rasa sedikti takut di benak Ken ketika di bonceng oleh Naura.
“Sumpah, mulut lo tajem banget. Lama lama gue sumpel itu mulut biar diem,” cetus ken berdecak dan semakin mengeratkan pelukan nya pada perut Naura.
“Yang ada mulut lo yang gue sumpel karena ganggu konsentrasi gue terus!” balas Naura dengan kesal, namun tak urung membuat bibir nya tertarik ke atas sedikit.
Dalam hati, entah apa yang di rasakan oleh Naura saat ini. ia merasa seolah seperti dejavu tentang masa masa dimana ia dan Ken masih selalu bersama dulu. Saat dimana belum ada kesalah pahaman dan belum adanya perasaan orang ketiga.
__ADS_1
‘Gue kangen banget sama masa masa itu Ken,’ gumam Naura dalam hati.
“Ken, tangan lo bisa diem gak!” seru Naura ketika merasakan tangan Ken semakin memeluk nya dengan cukup erat, bahkan lebih erat dari sebelum nya.
“Gue takut mati Ra, udah deh lo konsen aja. Ntar kalau gue selamet sampai rumah gue bakal minta mafa ke lo deh.”
“Anjrr, mulut lo kaya seolah gue mau anganterin lo ke neraka!” cetus Naura menggelengkan kepala nya.
“Ra, lo kangen gak sih sama gue?” tanya Ken, kini kepala laki laki remaja itu sudha bertengger manis di bahu sebelah kiri Naura dengan tangan yang melingkar di perut.
“Gak!” jawab Naura dengan cepat.
“Bohong banget!” cibir Ken terkekeh, “Gue kangen loh Ra sama lo, sama ke cerewetan lo, sama masakan lo, sama—“
“Diem deh ken, jangan bawel atau kita bakal sama sama cepet ketemu sama sang pencipta!” cetus Naura yang merasakan jantung nya yang berdetak semakin cepat.
__ADS_1
"Gue diem!"