
Beberapa hari sejak kejadian itu, hingga kini bunda Ratna masih belum sadarkan diri. Naura terus mondar mandir antara sekolah, rumah sakit dan rumah, hingga kini tubuh nya terlihat sangat kurus dan pucat akibat kelelahan.
"Sayang, kamu sakit?" tanya mama Kiara ketika melihat Naura baru datang ke meja makan untuk sarapan.
"Enggak kok Ma, Nana gapapa. Cuma kurang istirahat sedikit," jawab Naura mencoba tersenyum.
"Sayang, biarkan bunda di temani sama suster di rumah sakit. Jangan sampai kamu juga sakit nanti nya, kalau nanti bunda sudah sadar pasti om Bastian akan segera menghubungi kita. Mama gak mau kecapean Sayang." tutur mama Kiara sambil menghela nafas panjang.
"Maaf Ma," gumam Naura begitu lirih sambil menundukkan kepala nya karena merasa bersalah sudah membuat orang lain cemas melihat keadaan nya.
"Pulang sekolah langsung pulang ya, lihat wajah kamu sudah sangat pucat begitu."
__ADS_1
Sementara itu, Ken yang yang mendengar nasehat dari mama nya untuk Naura hanya diam dan masih asik menikmati sarapan nya. Bukan Ken tidak perduli dan tidak mau ikut menimpali, namun Ken sudah cukup lelah menasehati Naura agar jaga kesehatan nya. Setiap kali Ken berbicara dengan Naura pasti akan berujung perdebatan yang mengakibatkan dirinya tersiksa seorang diri.
Setelah selesai sarapan, Ken dan Naura pun segera berangkat ke sekolah. Dan selama dalam. perjalanan, Naura hanya diam dan meringkuk di atas kursi mobil, ia memeluk lutut nya dengan kepala yang ia sandarkan pada kaca mobil.
"Sayang, apa kamu ambil izin hari ini?" tanya Ken sedikit khawatir ketika melihat wajah istrinya.
Namun, Naura dengan cepat langsung menggelengkan kepala nya, "Gak mau, aku gapapa kok Sebentar lagi juga pasti sembuh, aku sudah membawa obat ku yang di kasih om Abas kemarin," jawab Naura lirih.
Selama mata pelajaran berlangsung, Naura begitu banyak terdiam dan berusaha mendengarkan penjelasan guru, namun nyatanya kepala nya malah semakin berdenyut nyeri hingga membuat nya memilih untuk merebahkan kepala nya di atas meja.
"Naura kamu gapapa?" bisik Susan yang duduk di sebelah Naura.
__ADS_1
Naura hanya menggelengkan kepala nya sambil memejamkan mata sebentar.
"Kenapa?" tanya Hary yang langsung menendang kursi Susan dari belakang karena penasaran melihat keadaan Naura yang begitu lemas.
"Ih! " kesal Susan langsung menatap ke belakang kesal, "Gak tau!" jawab nya ketus.
Jam istirahat pun tiba, Naura masih saja diam dengan pandangan mata kosong nya. Ia terus memikirkan keadaan kakak dan bunda nya. Sudah hampir satu bulan bunda nya belum juga sadar dari koma. Sementara kakak nya juga semakin sulit untuk keluar karena keluarga dari pihak ayah Sony tidak terima dengan kematian ayah Sony.
Beberapa hari yang lalu, Naura sempat menjenguk keadaan kakak nya bersama kakak ipar nya. Meskipun kak Daniel mengatakan bahwa dirinya baik baik saja, bahkan masih bisa tersenyum untuk menghibur dirinya dan kaka ipar nya. Namun hati Naura begitu sakit dan sesak, terlebih ketika melihat bagaimana interaksi antara kak Daniel dengan anak nya yang baru berusia di bawah lima tahun.
'Ayah gak bisa pulang sama kakak. Nanti kalau kerjaan ayah sudah selesai, ayah akan pulang dan belikan kakak mainan.' itulah kata kata Daniel ketika memberikan alasan kepada anak nya yang terus mengajak nya untuk pulang.
__ADS_1
Hati Naura begitu sesak dan lagi lagi air matanya selalu menetes setiap kali mengingat saat itu, terlebih sebentar lagi istri dari kakak nya akan melahirkan anak kedua. Membuat nya semakin merasa prihatin.