
Tok Tok Tok ....
“Sayang, kamu masih lama?” seru Ken yang sejak tadi terus menerus mengetuk pintu kamar mandi nya, karena sudah hampir setengah jam Naura berada di sana.
“Ken, sakit hiks hiks hiks,” rintih Naura terisak di dalam kamar mandi, sontak membuat Ken langsung membuka pintu nya dengan kasar karena tahu bahwa pintu itu tidak di kunci oleh Naura.
“S—sakit, apanya yang sakit?” tanya Ken ikut panik melihat wajah istrinya yang sudah pucat.
“Perut sama pinggang aku sakit, hiks hiks.” Kini posisi Naura tengah terduduk di bawah wastafel kamar mandi dengan memeluk perut nya erat. Keduanya sudah berpakaian, dan Ken sudah mengganti sprei nya dengan yang baru.
“Kamu beneran dapet? Biasanya gak sampai kaya gini kan? A—aku bangunin mama sama papa ya?” tanya Ken ikut duduk bersimpuh di depan Naura, “Atau aku telfonin om Abas?”
“Gak tau hiks hiks, aku gak kuat hiks hiks.” Naura terus merintih dan menahan sakit nya, hingga membuat Ken semakin di landa kebingungan.
Ken segera mengangkat tubuh Naura ke tempat tidur, setelah menyelimuti nya, ia segera menelfon om Bastian agar segera datang ke rumah nya. Namun sayang, nomor itu tidak aktif, mungkin karena tidak ingin di ganggu, batin Ken.
__ADS_1
Karena buntu, Ken pun akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah dan memanggil orang tua nya.
Tok... tok .. ttok ...
“Mama! Mah, Mama bangun dong. Mama bangun dulu sebentar!” panggil Ken terus mengetuk pintu kamar mama nya yang bersebelahan dengan kamar Opa dan Oma nya.
Cklek!
Bukan kamar mama dan papa nya yang terbuka, melainkan kamar sang Oma yang terbuka.
“Oma, perasaan kamar Mama yang Ken ketuk, kenapa Oma yang buka pintu?” kata Ken menghela nafas nya berat.
“Oma, Naura, i—itu Naura. Tadi Ken udah telfon om Abas gak di angkat, makanya Ken mau bangunin mama. Eh malah mama nya sibuk kayaknya di dalem. Atau lagi cetak adek baru buat Ken,” celetuk nya panjang lebar, hingga membuat oma Irish gemas.
Tuk!
__ADS_1
“Oma, sakit!” seru Ken ketika kepala nya terkena pentungan sang Oma.
“Mulut kamu ini loh, astaga. Memang nya istri kamu kenapa?”
“Ah iya, perut Naura sakit. Kayaknya dia datang bulan, tapi dia sampai nangis, padahal biasanya enggak gini Oma,” jelas Ken seolah baru teringat akan tujuan nya ke lantai bawah.
“Istri kamu datang bulan?” tanya oma Irish mengerutkan dahinya bingung.
“Iya Oma, tadi dia ngeluh karena itu nya berdarah. Eh bukan dia sih yang ngeluh, tapi Ken. Ayo Oma lihat Naura, Ken takut Oma.” Ken menarik tangan oma nya dan mengajak nya menaiki tangga dengan sabar.
Tepat setelah Ken dan oma Irish sampai di tengah tangga, pintu kamar orang tua nya baru terbuka.
“Ada apa Ken?” tanya mama Kiara segera menyusul anak dan mertuanya menaiki tangga, karena tidak biasanya oma Irish mau naik ke lantai dua bila tidak terpaksa.
“Mama sibuk banget mau buat adek baru untuk Ken ya? Mah, udah cukup si kembar itu ya, jangan di jadiin lagi!” kata Ken menatap wajah mama nya sekilas.
__ADS_1
“Adik, gundul mu itu. Udah buruan, jangan ngajak mama kamu debat terus!” cetus oma Irish berdecak menggelengkan kepala nya melihat tingkah ajaib cucu sulung nya.
Sementara mama Kiara yang masih belum mengerti, akhirnya memilih diam dan mengekor di belakang oma Irish menuju kamar putra nya.