
Sepulang sekolah, seperti permintaan Jesika. Naura segera menuju taman yang di maksud oleh Jesika. Taman yang biasanya sangat ramai bila sore hari, namun tidak dengan hari ini. Taman itu terlihat begitu sepi bahkan beberapa pedagang pedagang kaki lima yang biasa berjualan di sisi taman kini tidak ada satu pun yang terlihat.
“Jesika, kamu dimana? Aku udah—“
“Sebentar lagi.”
Naura menatap nanar pada layar ponsel nya. Belum sempat dirinya menyelesaikan ucapan nya, tiba tiba saja Jesika langsung memutus sambungan telfon begitu saja. Naura tak ingin ambil pusing, ia pun memilih untuk duduk di salah satu bangku di tengah taman sambil mendengarkan musik dan bermain ponsel.
Sementara itu, Ken yang sejak tadi menunggu kedatangan Naura di rumah merasa sedikit resah dan khawatir. Berbeda dengan hari biasanya, entah mengapa kini ia merasa bahwa hatinya begitu resah dan takut tak beralasan.
Drrtt ... Drrttt ... Drrttt ..
“Halo Ma,” jawab Ken ketika sudah mengangkat panggilan telfon dari mama Kiara.
“Assalamualikum Ken,” balas mama Kiara menyindir.
“Waalikumsalam, ada apa sih Ma?”
“Kamu ini di telfon sama mama kok begitu sih? Kaya gak seneng begitu, ada apa?”
“Gak ada apa apa, kenapa mama nelfon?”
__ADS_1
“Ckckck, kamu ini ah!” terdengar suara mama Kiara berdecak kesal, “Mama cuma mau ngabarin kalau mama belum jadi pulang besok pagi. Mama akan pulang minggu depan sama Kiano juga. “
“Tunggu, kenapa Kiano pulang juga?” tanya Ken mengerutkan dahi nya.
“Kamu gak suka Kiano pulang?”
“Pertanyaan mama yang kaya gini nih, yang bisa bikin Ken sama Kiano berantem terus,” cetus Ken dengan kesal namun malah membuat mama Kiara terkekeh.
“Ya udah ya udah, intinya mama cuma mau ngabarin itu aja. Untuk alasan nya, nanti mama jelasin di rumah. Oh iya, bagaimana kabar Naura? Kok tumben hari ini dia belum balas pesan Mama?” tanya mama Kiara seketika membuat Ken langsung terdiam, karena sejka tadi memang dirinya masih mencoba menghubungi nomor Naura.
“Mah, Ken tutup dulu yah. Ken ada acara penting.”
“Tunggu Ken. Ada apa? Naura baik baik saja kan? Awas ya Ken kalau kamu sampai nyakitin Naura, mama sunat lagi kamu!” ancam mama Kiara.
Ken kembali mencba menghubungi noor Naura karena hingga kini sudah beberapa jam sejak pulang sekolah gadis itu belum juga sampai rumah. Padahal, biasanya jarak mereka pulang sekolah hanya beberapa menit saja, namun kini sudha lebih dari tiga jam Naura belum juga smapai di rumah.
“Ra, angkat dong Ra,” gumam Ken yang terus mencoba menghubungi Naura namun tidak mendapatkan jawaban apapun.
Ken mencoba untuk mengirimkan pesan chat kepada Naura, namun hasil nya sama saja, Naura tidak menjawab.
“Jangan jangan ni anak main, sama donat bantet!” gumam Ken berdecak lalu ia mencari nomor kontak Susan dan segera menghubungi nya.
__ADS_1
Ken berharap bahwa memang Naura sedang bersama dengan Susan, namun ternyata ia salah. Setelah berhasil menelfon Susan, rupanya donat bantet itu tidak tau dimana keberadaan Naura.
“Ah iya Ken, tadi gue inget pas istirahat jesika datang ke kelas, terus—“
“Terus apa?” kata Ken dengan cepat memotong ucapan Susan.
“Dasar tukang rusuh, bisa gak sih gak usah asal serobot gitu. Gue belom selesai ngomong!” seru Susan begitu kesal.
“Iya iya ... silahkan di lanjut ms Donat!” sindir Ken berdecak dan berusaha sabar.
“Katanya tadi Jesika mau ngomong sesuatu sama Naura, jadinya mereka mau ketemuan di taman.”
“Taman mana?”
“Taman delima, itu yang ada di ujung jalan pertigaan dekat sekolahan.”
“Dia sendiri?”
“Iya.”
“Begokk! Dasar donat bantet goblokk! Kenapa lo gak temenin Naura, bangsaattt!” Tanpa menunggu jawaban dari Susan lagi, Ken langsung emutuskan sambungan telfon nya dan segera menyusul Naura. Ken berharap bahwa apa yang ia pikirkan tidak benar terjadi.
__ADS_1
‘Maafin gue Ra, maafin gue.’ Gumam Ken dalam hati sambil mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi.