
“Apakah selama ini lo anggep gue sebagai istri lo, Ken?” tanya Naura memberanikan diri menatap Ken lagi.
Deg!
Ken manatap mata Naura yang terus mengeluarkan cairan bening. Seketika rahang nya langsung mengeras dan tangan nya mengepal dengan kuat, ia marah karena lagi lagi harus melihat mata Naura menangis karena nya. Tapi ia juga tidak tahu mengapa ia tidak terima melihat sikap Naura dan Clay bila saat bersama.
“Jawab Ken? Hiks hks apakah selama ini lo anggep gue ada? Apakah lo anggep gue sebagai cewek? Sepupu lo atau istri lo?” jawabbb!” seru Naura meluapkan emosi nya dengan berlinang air mata.
“Kita udah kenal dari kecil Ra, harusnya lo tahu dan hafal bagaimana sifat gue bagaimana! Kenapa lo masih gak bisa mengerti sih hah!” kata Ken tak kalah seru.
“Gue masih kurang ngerti lo, kaya gimana lagi Ken? Hem? Coba jelasin lagi sama gue, dimana gue gak pernah memahami lo?”
Lagi lagi, Ken terdiam dan tak bisa menjawab pertanyaan Naura.
“Lo gak bisa jawab, karena pada nyatanya, gue udah memahami dan ngertiin lo selama ini. Tapi, lo yang gak pernah sedikit pun ngertiin gue,” imbuh Naura dengan senyum getir nya.
__ADS_1
“Gue—“
"Udah lah Ken, gue capek. Gue capek banget, serius, tolong lepasin gue.”
“Jangan harap!” kata Ken dengan cepat memotong ucapan Naura, “Sampai kapan pun gue gak akan ngelepasin lo, sebelum masa itu tiba.” Imbuh Ken dengan nafas memburu.
“Masa apa maksud lo?” tanya Naura menatap pada mata Ken, “kemarin, om Bastian udah nemuin gue. Dia yang bakal bantu dan menjamin semua kebutuhan lo kalau memang nanti seandainya mama sama papa bakal berhentiin semua fasilitas lo selama ini. Itu kan yang lo takutin?”
“Lo tenang aja Ken, om Bastian bakal bantuin lo. dan untuk gue, lo gak perlu pikirin itu, karena gue bisa cari pekerjaan sendiri. Gue bisa hidup sendiri, karena sejak dulu, gue udah—“
Praannggg!
“Lo mau lihat gue ngehancurin barang di kamar ini Ra?” tanya Ken dengan suara pelan, namun justru sangat menyeramkan karena kini Naura tahu bahwa Ken sedang menahan amarah nya, “Jangan coba coba nguji kesabaran gue. Karena lo tahu jelas bagaimana kalau gue udah lepas kendali.” Gumam Ken lagi.
Hiks hiks hiks
__ADS_1
Naura tidak lagi membuka mulut nya, meskipun ia terisak namun mulut nya maish tertutup rapat. Tangan nya dengan erat meremas selimut nya dengan mata yang terus menatap kearah Ken. Bahkan tak jarang ia juga menggigit bibir nya untuk menahan isak tangis nya agar tak keluar.
“Inget gue baik baik, gue gak akan ngebiarin lo hidup susah apalagi dengan kerjaan kerjaan sialan itu.”
“Ta—tapi kita hanya akan saling menyakiti, Ken.” Gumam Naura lirih menahan isak tangis nya.
“Segitu besar nya kah lo pengen hidup sama dia Ra! Hah!" sentak Ken lagi dan kini gelas lah yang ia jadikan lampiasan kemarahan nya, “Asal lo tahu Ra, dia cuma akan buat lo terluka. Dia gak pernah benar benar tulus sama lo!”
“Gue gak perduli Ken, yang penting gue –“
“Bangsaatttt!” pekik ken mengusap wajah nya dengan kasar, “Kenapa lo gak percaya lagi sama gue sih Ra, gue suami lo Naura, suami lo!” imbuh nya maish dengan suara meninggi hingga membuat isak tangis Naura semakin jelas terdengar.
Ken yang merasa tak tega melihat Naura menangis, bukan berusaha menenangkan nya, ia malah memilih untuk keluar dari kamar dan pergi meninggalkan Naura sendiri. Bukan karena ia tak mau, namun ia takut emosi nya semakin besar dan memuncak. Makanya ia berusaha menghindar dan menenangkan diri terlebih dulu.
Cklek!
__ADS_1
Deg!
Ken langsung terdiam mematung ketika baru membuka pintu kamar Naura.