
“Ra,” panggil Ken namun sang empu nya masih diam dan fokus dengan ponsel nya.
Sejak siang tadi, Naura hanya diam dan tak mau berbicara dengan Ken sama sekali. Hanya sesekali tersenyum paksa di depan para keluarga ketika makan bersama. Setelah makan, ia kembali ke kamar dan kembali mendiamkan Ken. Ia masih begitu kesal, tentang Ken yang menyindir nya dan mengatai nya ceroboh. Sungguh, bila bisa rasanya ia ingin mencekik Ken saat ini.
“Sayang ... “ panggil nya lagi, dan kini ia langsung merebahkan kepala nya di pangkuan Naura, “Jangan cemberut terus dong. Aku tuh gak bisa di giniin.” Keluh nya smabil memainkan rambut Naura.
“Naura Almaira Nolan, bagus yah. Ayo dong Ra, jangan diem terus. Jahat banget sumpah,” keluh Ken memanyunkan bibir nya kesal.
“Jahat?” Naura langsung mengerutkan dahi nya, “Siapa yang kamu bilang jahat? Sumpah ya Ken aku gak ngerti lagi sama cara berpikir otak kamu itu!” cetus nya kesal.
“Iya iya iya, oke. Aku minta maaf, udah dong kan aku udah minta maaf.” katanya menyesal.
“Kamu minta maaf nya gak tulus gitu kok!” Cetus Naura menolak permintaan maaf Ken.
“Aku tulus Sayang. Naura, cinta ku, sayang ku istri ku yang paling baik hati. cantik, manis bawel, bar bar, tomboy—”
“Cukup! Kamu itu mau ngerayu apa mau ngatain lagi sih!” seru Naura lagi lagi merasa kesal.
__ADS_1
“Hehe iya, jangan diem terus makanya. Mending kamu cium aku kalau lagi marah, gapapa aku ikhlas, mau cium dimana juga. Asal jangan diemin aku gini.” Keluh Ken memasang wajah sedih nya.
“Cium sono sama tembok!” kata Naura dengan ketus.
“Mana enak cium sama tembok, enakan juga cium sama kamu,” ucap Ken tersenyum jahil sambil mencolek dagu Naura.
“Apaan sih ah!” cetus nya menepis tangan Ken.
“Apa sih udah ah ah aja orang belum di apa apain,” goda nya lagi, hingga membuat Naura menggelengkan kepala nya.
“Karena konslet, yuk benerin. Pasti langsung—“
“Diem Ken! Lama lama ucapan kamu bakal ngelantur kemana mana! Mending kita tidurdaripada kesiangan dan besok bolos sekolah lagi!” cetus Naura langsung menyingkirkan kepala ken dan memunggungi nya begitu saja.
“Dih malah di punggungi begini,” Ken menghela nafas ya dengan berat, lalu ia segera memeluk Naura dari belakang, “Ra ... “
“Ken tangan kamu ih!” pekik Naura langsung menepis kasar tangan Ken yang mulai berjelajah sembarang arah.
__ADS_1
“Makanya kamu berbalik sini biar tangan aku diem, aku ganti sama—“
“Ken, mulut kamu astaga. Ih kesel banget aku sumpah!” jerit Naura begitu frustasi. Sikap Ken setelah menyatakan perasan nya malah menjadi semakin gesrek menurut Naura.
“Sama, aku juga gemes sama kamu Ra, makanya ayo,” rengek nya dengan menciumi tengkuk Naura dari belakang.
“Astagfirullah, ayo ngapain Ken!” Lagi lagi Naura menghela nafas nya dengan sangat kasar sambil tangan nya terus berusaha menahan tangan Ken agar tidak beraktifitas di tempat yang salah.
“Ayo Ra, kaya semalam, kamu gak kangen?”
“Enggak!” jawab nya dengan cepat, “Tangan kamu ihhh!”
“Dih bohong banget gak kangen. Padahal dalam hati pasti kangen kan?” goda Ken terus berusaha merayu Naura, namun ternyata begitu sulit karena Naura maish berada di mode merajuk, “Ra, kita belum coba gaya lain loh.” imbuh nya dengan senyum yang begitu lebar.
“Allahuakbar Kenzo!” geram Naura berusaha menahan amarah nya. Namun, semarah apapun Naura, nyatanya dirinya tetap saja kalah dengan godaan syaiton yang berwujud suaminya tersebut. Meskipun menolak dan masih kesal, namun lama kelamaan, Ken berhasil membujuk Naura hingga membuat keduanya kembali bermandikan keringat untuk menuju langit ketuju kembali.
Sebuah rasa yang membuat seorang Ken candu dan sealu ingin mengulang lagi dan lagi. Mungkin saja untuk Naura juga merasakan hal yang sama, namun karena dirinya sedang dalam mode kesal dan ingin memberikan pelajaran kepada Ken agar lebuih peka lagi terhadap sekitar nya, dirinya berusaha menolak, walau pada akhirnya ia juga yang kalah.
__ADS_1