
Sejak siang tadi, Naura hanya berdiam diri di dalam kamar.Bukan marah dengan Ken, namun ia merasa sedikit kurang enak badan. Entah mengapa, dirinya merasa ada sesuatu yang aneh pada pinggang nya.
“Kamu kenapa?” tanya Ken yang melihat wajah Naura sedikit pucat sambil meringkuk di atas tempat tidur.
“Gapapa, aku capek,” gumam Naura lirih sambil memejamkan matanya dan menarik nafas dalam.
“Capek kenapa? Kamu masih marah ya sama aku? Maaf, Sayang. Aku tuh gak ada maksud apa- apa, aku beneran deh, tadi—“
“Ken, diem dulu. Pinggang aku sakit nih,” keluh Naura pelan.
“Mau dapet?” tanya Ken langsung ikut naik ke atas tempat tidur dan membuka baju Naura ke atas.
“Ken, jangan macem macem!” seru Naura langsung mencegah tangan Ken agar tak jadi membuka baju nya.
“Apaan sih, kamu ini pikiran nya negatif terus ke aku,” sungut Ken kesal, “Aku Cuma mau usap usapin doang!”
__ADS_1
Naura terkekeh melihat wajah Ken kesal, “Oh,” jawab nya lalu mengizinkan agar Ken membuka baju nya dan mengusap nya.
Hampir satu jam lebih Ken mengusap baju Naura, hingga tanpa sadar membuat wanita itu tertidur karena merasa nyaman. Ken yang melihat Naura tertidur, akhirnya ia ikut mengantuk dan tidur di sebelah nya dengan menjadikan lengan nya sebagai bantal Naura.
Eughhh!
Naura menggeliatkan tubuh nya ketika merasa ingin buang air kecil, ia berulang kali mengucek matanya dan melihat jam di atas meja samping nya. Jam dua dini hari, Naura menghela nafas nya berat lantaran dirinya tertidur cukup lama. Pantas saja perut nya kini terasa sedikit lapar, ia pun segera bangun dan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat, Naura keluar dan mendapati suaminya yang masih tertidur lelap, dengan posisi meringkuk memeluk guling.
Naura mengulurkan jemari tangan nya untuk mengusap kepala Ken dengan sangat lembut, agar tak membangunkan sang empu nya.
“Aku gak tahu, bagaimana hidupku kalau gak ketemu manusia rusuh kaya kamu, dulu.” Gumam nya terkekeh, mengingat kembali masa masa kecil nya dulu bersama Ken.
Saat dimana dirinya dulu meminta gendong kepada Ken, namun karena tidak kuat hingga membuat keduanya tersungkur jatuh. Saat itu, Naura langsung menangis, Ken pun ikut menangis, bukan karena sakit, namun karena cemburu. Bagaimana tidak cemburu, bila saat putra nya jatuh, sang papa malah lebih memilih menolong Naura daripada dirinya.
__ADS_1
“Hidup mu akan sepi kalau aku gak ada,” celetuk Ken tiba tiba membuka mata hingga membuat Naura hampir saja terjungkal ke belakang, kalau saja Ken tak sigap menangkap tangan nya.
“Kamu ngagetin!” seru Naura kesal, namun Ken malah terkekeh dan segera menarik tangan Naura membawa nya ke pelukan nya.
“Tapi ngangenin kan?” bisik Ken di telinga Naura, hingga membuat wanita itu merinding menahan geli.
“PD banget” cibir Naura memanyunkan bibir nya, kini posisi Naura membelakangi Ken, namun tangan Ken senantiasa memeluk nya dari belakang.
“Sayang ... “ panggil Ken setengah berbisik.
“Hemmm,” jawab Naura malas.
“Kamu laper gak?” tanya Ken lagi, “Aku laper.”
“Yang laper perut kamu apa adik kamu!” cetus Naura seolah tahu dengan maksud dan tujuan suaminya yang super duper rusuh nan mesum tersebut.
__ADS_1
“Istriku memang paling peka,” bisik Ken terkekeh lalu ia segera melancarkan aksinya.