
Surabaya
Adiittya turun dari taxi menggeret kopernya ke halaman yang tidak cukup luas. Dia berhenti sejenak membaca sebuah karangan bunga yang cukup besar *Turut berduka cita atas meninggalnya pak hendrawan*. Seperti dilempar bogem besar, jantungnya terasa sesak. Dia mempercepat langkahnya masuk kerumah.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam... Eh Nak Adiittya." ibu keluar dari kamar Ayuna
"Maafkan Adiittya bu, terlambat datang." mencium tangan bu Aisyah
"Tidak apa Nak, masuklah istrimu sedang tidur."
Belum selangkah kaki Adiittya melangkah ibu memanggilnya kembali
"Nak Adiitya, Yuna belum makan seharian ini tolong dibujuk agar mau makan ya, kasihan si baby." kata ibu khawatir
"Apa bu ??? baby ??? maksud ibu istriku hamil ??"
"Loh Nak Adiitya belum tahu Yuna hamil ??"
Adiitya menggelengkan kepala
"Tadi Yuna pingsan, saat bu Farida memeriksa, beliau mengatakan Yuna sedang hamil empat minggu."
"Ya sudah masuklah kekamar, bujuk dia agar mau makan." Lanjut ibu
Ada rasa bersalah dihatinya melihat istrinya tidur beringsuk miring. Perlahan duduk ditepi ranjang memandangi wajah senduh istrinya. Tiba tiba tangannya terulur disudut bibir istrinya yang sobek akibat ulahnya. Ayuna menggeliat dan mengerjabkan matanya karena tidurnya merasa terganggu.
"Masss Adiittya.." ucapnya lirih
"Iya sayang." tangannya masih mengelus pipi Ayuna
"Mass... bapak mas...hik hik hik..." memeluk suaminya
"Sssttt... iya sayang, sudah..jangan menangis ya ???" mengelus elus punggung istrinya
"Bapak ninggalin yuna mass..." masih menangis
"Tidak sayang, dengar !! memang bapak sudah meninggalkan kita, tapi namanya selalu ada disini." menunjuk hati Ayuna dengan telunjuk jarinya
"Sudah, sekarang sayang tidak boleh bersedih lagi, okey !! sayang belum makan kan?" melepas pelukannya
"Yuna tidak lapar." ucap Yuna cemberut
Cup
Mencium bibir Ayuna sekilas lalu tersenyum
"Sayang mau si baby kelaparan, hem ??"
"Baby ???" cicit Yuna bingung
"Yes, there is our baby in here." jawab Adiittya memegang perut Ayuna yang masih rata
__ADS_1
"I'm pregnant ???"
"Yes my dear." jawab Adiitya lalu memeluk Ayuna erat dibalas juga oleh Ayuna, tidak lama Yuna melepaskan pelukannya.
"Kenapa lagi sayang !!! menyeka airmata Ayuna
"Ada apa dengan wajahmu mas ??"meraba luka lebab bekas pukulan Alan
"Aww.. ini... ehm.. tadi mas kejedot.. iya kejedot pintu." tersenyum sambil memegang tangan Ayuna yang dipipinya
"Mas adiittya maafkan Yuna... yuna egois yuna jahat sama mas, Yuna tidak memberi makan si baby.. huwaaaa."
"Iya sayang.. maafkan mas juga ya." memeluk kembali dan mencium pucuk kepala Yuna
"Sekarang sayang makan ya.. kasihan si baby pasti lapar."
"Yuna pengen mangga dan maunya mas Adiittya yang ambil sendiri dari pohonnya " kata Yuna memelas
"What !!! sayang ini sudah malam, besok ya kita cari mangganya, sekarang sayang makan nasi saja, okey !!"
"Pengen mangga..." rengek Ayuna
"Yuna mau kemana malam malam." tanya ibu diruang tengah yang sedang menonton tv
"Tetangga kita ada yang punya pohon mangga nggak bu, yuna lagi pengen."
"Kayaknya dirumah bulek Sarah ada, coba kau lihat sana."
Mereka berjalan keduanya, Ayuna bergelayut manja dilengan suaminya. Senyum mengembang dibibir Ayuna dengan membawa sekantong kresek buah mangga muda. Tapi tidak dengan suaminya, kaki tangannya merah merah kena gigitan keranggang waktu memanjat.
"Sayang, boleh mas nyobain mangganya ??"
"Boleh"
"Aaaakkhhhhh..." Adiittya berlari mencuci mulutnya lalu minum teh sampai habis. Ayuna dan ibu tertawa melihat tingkah Adiitya
"Sayang itu asem banget lo. Gimana nanti sama si baby." duduk disamping Ayuna mengelus perut Ayuna
"Tidak apa mas, insyaallah sehat."
Perjalanan kurang lebih 1 jam telah dilalui dua pasangan ini. Bersama keduanya berjalan, tangan kiri Adiitya tidak sedikitpun melepas pinggang Ayuna semenjak turun dari pesawat sedangkan tangan kirinya menggeret koper. Mobil bmw menghentikan langkahnya lalu membawanya sampai ke apartemen mereka.
"Bi ina, mulai sekarang pastikan hanya ada menu makanan sehat dan bergizi yang terhidang dimeja makan karena istri saya lagi hamil."
"Nyonya hamil bos ???" sela Rico
"Benar, dan sebentar lagi saya akan jadi daddy, Rico."
"Waahh selamat ya bos !!" memeluk dan menepu nepuk bahu Adiittya
"Selamat Tuan, bibi ikut senang."
"Hhhmmm" deheman Adiitya bangga
__ADS_1
Setelah memberi selamat Bi ina kembali ke dapur dan Rico kembali kekantor. Sedangkan Adiitya masuk keruang kerja, mengecek email email yang sudah dikirim pegawainya.
Tengah malam Ayuna terbangun, pandangannya lebih fokus pada suaminya yang sudah terlelap. Entah kenapa semenjak hamil Ayuna lebih suka didekat suaminya, tangan cantiknya membelai wajah suaminya. kemudian memeluk perut suaminya begitu rapat, bahkan sempat mengendus endus aroma maskulin yang menguar dari tubuh suami. Begitu nyaman, memejamkan mata dan senyum tersungging.
Merasa terusik tidurnya, Adiitya menggerakkan tubuhnya dan memicingkan matanya perlahan. Senyum tersungging dibibirnya. Adiitya memiringkan badannya lalu tangannya melingkar dipingging sang istri menariknya lebih rapat lagi.
Ayuna mengendus leher Adiittya dan sesekali menghisap lehernya ditambah lagi deru nafas hangat dari Ayuna membuat yang dibawa mengeras. Mengendorkan pelukannya, tangannya mengangkat dagu sang istri perlahan m*****t bibir sang istri yang terasa manis baginya. Ciuman yang awalnya biasa sekarang semakin lama semakin dalam bahkan lidah Adiitya sudah mengabsen mulut Ayuna.
Detik selanjutnya, penyatuan cinta mereka sudah tersalurkan.
Adiitya sudah rapi dengan sarung dan baju kokonya. Duduk ditepi ranjang memandangi wajah istrinya yang masih tertidur pulas. Senyum mengembang dalam pikirnya, entah mengapa semenjak hamil istrinya lebih agresif dan menjadi sangat manja.
Cup
satu kecupan di pipi tak membuat Ayuna bangun.
Di elus elus pipi istrinya, disingkirkan helain rambut yang menutupi wajah istrinya.
Cup cup cup
Adiitya menghujani ciuman di kening, kedua mata istrinya, hidung, pipi dan terakhir bibirnya.
"Bangun sayang, waktunya sholat shubuh."bisik Adiittya ditelinga Ayuna
Ayuna menggeliat dan mengucek matanya
"Jam berapa mas.." suara serak khas bangun tidur
"setengah lima sayang, burun bangun kita sholat shubuh dulu."
Masih setengah sadar Ayuna berjalan kekamar mandi. Setelah Ayuna selesai dengan ritual mandinya. Mereka sholat shubuh berjamaah.
Rumah sakit
Sesuai permintaan sang istri, Adiitya harus mengantar Ayuna sampai masuk ruangannya.
"Ingat sayang, tidak boleh makan sembarangan. kasihan si baby."
"Iya. Mas jangan lupa nanti ada janji sama dokter Manda."
Adiitya mengangguk " Mas pergi dulu ya, anak daddy, yang pintar didalam perut mommy ya !!" bisik lembut Adiitya diperut Ayuna
"Yess daddy." kata Ayuna menirukan suara anak kecil
"Love you my dear."
"Love you too my husband."
Adiittya memberi kecupan dikening dan bibir Ayuna, kemudian berlalu pergi.
πΉto be continue πΉ
Bosssquuuu jangan lupa sebelum beralih tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kasih BINTANG LIMA pada halaman sampul dan VOTE untuk novel ini yacchhh...... terimakasih π€π€ π€
__ADS_1
i_eyyun ππ