
"Mom, Re berangkat" pamit Re setelah menyelesaikan sarapannya lalu mencium tangan Ayuna
Ayuna berjongkok mencium kening Re "Belajar yang pintar ya nak. Turuti apa kata Miss disekolah." ujar Ayuna sambil merapikan seragam Re
"Yes mom." tangannya kemudian beralih keperut buncit Ayuna "Little, kamu baik baik ya diperut Mommy, jangan nakal. Kasihan mommy, tunggu kakak pulang."
"Yes, kakak." jawab Ayuna menirukan suara anak kecil
"Come on Dad" ajak Re sambil memakai tas ranselnya
"Tunggu daddy dimobil. Daddy belum kiss Mommy dan si kecil."
"Okey !! jangan lama lama" ancamnya
"Sayang hati hati dirumah, nggak usa ngapa ngapain. Kalau ada apa apa segera hubungi mas."
"Iya mas" Ayuna mengangguk seraya membenarkan dasi dan jas Adiittya
"Mas berangkat dulu ya sayang" Adiittya memberi kecupan dikening Ayuna dan m****** bibir merah muda Ayuna
"Daddy !!! Let's go !!! gerah nih !!!" teriak Re dari dalam mobil
"Astaghfiruallah... kapan si tu anak tidak menganggu kita." gerutu Adiittya yang membuat Ayuna terkikik "Iya sayang sebentar lagi" balasnya pada Re
"Ya sudah mas, buruan sana berangkat. Kasihan Re udah kegerahan.."
Adiittya mengangguk "Bye sayang" melambaikan tangan dan dibalas oleh Ayuna "Hati hati ya mas..."
Ayuna tersenyum kecil memasuki rumahnya, tangannya mengelus elus perutnya
"Semoga kau tak menuruni sifat daddy dan kakakmu, sayang." gumamnya
#######
Menjelang makan siang, entah kenapa tiba tiba saja Ayuna ingin makan siang bersama suaminya. Setelah selesai memasak dibantu bu Siti, Ayuna bergegas mandi dan menelfon Toni sopir rumahnya yang saat ini menunggui Adiittya dihotel
Sengaja memang Adiittya hanya menggunakan satu sopir saja yang akan mengantar dirinya anak dan istrinya kemana mana. Karena permintaan sang istri. Makanya Toni sangat hafal jalanan, karena dia lebih sering mondar mandir dijalanan jika Ayuna membutuhkannya atau Re pulang sekolah, Toni selalu sigap mengantarnya.
"Ton, kita jemput Re dulu"
"Baik Nyonya"
Toni segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, ia selalu ingat pesan Tuannya jika sedang membawa istri dan anaknya, tidak boleh bawa mobil dengan kecepatan penuh.
Ayuna tersenyum simpul melihat putranya berlari dengan bibir mengembang
"Mommy...!!!" mencium tangan Ayuna kemudian mencium kedua pipi Ayuna "Halo kecil, apa kau rindu kakakmu ??" tanyanya pada perut Ayuna sambil mengelusnya
Bibir Ayuna melengkung membentuk sebuah senyuman lembut, ia bersyukur putra pertamanya sangat antusias dengan kehadiran adenya.
"Iya kakak. Kecil sangat merindukanmu" jawab Ayuna
"Mommy !! apa kecil juga menyayangiku, seperti aku menyayanginya ??? apa kecil akan menjagaku, seperti aku selalu menjaganya sekarang ??"
"Tentu dong sayang. Kecil juga akan menyayangi dan menjagamu, seperti kakaknya. Kalian anak anak mommy yang pintar sekali." sambil merengkuh Re dalam pelukannya sesekali mencium pucuk kepala Re
__ADS_1
"Mommy berharap kalian bisa akur dan saling menyayangi satu sama lain, Nak" bathin Ayuna, tangannya mengelus lembut punggung Re
Berada di dekapan sang ibunya yang terasa hangat membuat Re mendengkur halus. Hingga mobil yang membawanya sampai parkiran hotel pun, Re masih terlelap dalam tidurnya
"Biar saya saja yang gendong mas Re, Nyonya" pinta Adam pengawal Re, melihat Ayuna hendak menggendong Re
"Terimaksih Adam" Ayuna keluar dari mobil lebih dulu dengan membawa bekal makan siang
"Sama sama Nyonya"
Ayuna bersama Adam dan Re berjalan menuju kantor Adiittya. Bibir Ayuna tak lepas dari senyumanya ketika semua pegawai suaminya itu menyapanya. Bahkan Ayuna pun tak segan segan melempar senyum pada pengunjung hotel atau restoran yang datang saat itu.
"Nyonya, Tuan akan sangat marah jika melihat Nyonya mengumbar senyum pada mereka." tutur Adam mengingatkan
"Itu benar Adam. Bos mu itu terlalu over. Mungkin jika aku muat masuk lemari, tuanmu itu pasti sudah membungkusku dengan plastik lalu disimpannya dilemari" canda Ayuna yang disambut tawa oleh Adam
"Nyonya bisa saja"
"Bukankah seperti itu kelakuan bosmu. Hingga menurun pada Re. Semoga saja anak kedua kami tak menurun Daddynya"
"Semoga Nyonya, jikalaupun itu terjadi. Siap siap nyonya membuat pabrik obat sakit kepala. Hahahaha...."
"Kau tidak sedang menyumpaiku kan Adam ??" mata Ayuna menyipit manatap tajam Adam
"Ohh... maafkan kelancangan saya, Nyonya." Adam menundukkan kepala
"Sudahlah, aku tahu kau hanya sedang bercanda."
Adam tersenyum nyengir, merutuki kelancangannya.
Mendongak "Wa'alaikumsalam sayang...." Adiittya berdiri lalu menghampiri Ayuna dengan bibir tersenyum mekar
"Tumben sayang kemari. Ada apa nih ???!!" tuduh Adiittya setelah mencium kening istrinya
"Dam, tidurkan saja Re disofa."
Ayuna mengabaikan pertanyaan Adiittya, karena teringat Re sedang tertidur digendongan Adam.
"Terimakasih, Dam" ucap Ayuna setelah Adam menidurkan Re dengan posisi ternyaman.
Adam mengangguk "Saya permisi dulu Tuan, Nyonya."
"Katakan, apa yang membawa sayang jauh jauh kemari ??"
"Bukan aku mas, tapi nih" Ayuna menunjuk perutnya "Ini yang ingin makan siang bersama bapaknya"
Adiittya tergelak "Masa sih sayang, di dalam perut bisa ngomong ?? lucu deh kamu..." Adiittya mencubit gemas pipi Ayuna
"Iiihh....mas, itu namanya bawaan baby. Uda mau punya dua anak, masih saja nggak paham" cibir Ayuna
Tertawa keras "Maafkan mas sayang.... aneh saja menurutku." masih ngenyel
"Ya sudah, jika mas tak percaya aku bawa lagi ni bekalnya" Ayuna merapikan kembali kotak makan tapperware yang sudah dibukanya
"No sayang !!! jangan ngambek dong..." Adiittya mengambil kotak makan dari tangan Ayuna "Sini, peluk dulu. Mas kangen banget sama sayang dan baby ini."
__ADS_1
"Nggak usa macam macam deh mas..." ancam Ayuna
"Nggak sayang, lagian kalau mas macam macam gimana nasibnya Re. Siapa yang akan menjaganya ???"
Ayuna tersenyum kemudian memeluk Adiittya
"Daddy !!! awas...!!!" teriakan Re membuat Adiittya melepas dekapannya
Menautkan kedua alisnya "Kenapa Re ??"
"Jangan peluk mommy, kasihan kecil nanti terjepit perut daddy."
"Nggak akan Re, perut mommy tidak akan bisa kempes begitu saja."
"Daddy nggak pernah mengerti. Seperti balon jika ditekan terus menerus, udara didalam sana akan semakin kecil karena terjepit, dan lama kelamaan akan meletus. Sama dengan perut mommy jika sering Daddy jepit, maka kecil menjadi semakin kecil, lalu MA...TI...!!!" Re sengaja menekan kalimat terakhirnya
"Tapi perut mommy bukan balon sayang... perut mommy tidak akan bisa meletus, kecuali kecil sudah waktunya keluar." jelas Ayuna memberi pengertian
"Mom.... bisa saja itu terjadi" menoleh ke arah Adiittya dan menatapnya sinis "Pokoknya Daddy tidak boleh sering sering memeluk mommy !!! Kasihan si kecil, dia pasti kesakitan."
"Mulai deh.... nih anak, Rezek banget !!!" Adiittya menyandarkan kepalanya disofa sambil melirik Re yang membuka kotak makannya
"Kenapa pake bangun segala sih nih anak !! padahal aku berharap dia tertidur hingga pulang nanti. Kalau gini kan aku nggak bisa mesra mesraan sama kamu sayang." gerutu Adiittya pada Ayuna
"Nggak usa menggerutu Dad !!! aku mendengarnya !!!" tebak Re tanpa mengalihkan pandangan dari bekalnya
"Tidak Re, daddy hanya mengobrol sama mommy.... Kau tak perlu tersinggung."
"Tapi aku mendengarnya dengan jelas. Telingaku masih waras." enyel Re tak mau kalah
"Nggak sayang" Adiittya mencium pucuk kepala Re "Makan yuk, daripada berdebat membuat perut Daddy lapar." Adiittya mengambil bekalnya "Re, Daddy suapin ya ???!!"
Menggelengkan kepala "Dua tanganku masih berfungsi dengan benar" tolak Re
"Halah... biasa juga kamu disuapin mommy, Re ??"
Menatap Adiittya kesal
"Itu dulu !!!"
Mulut Adiittya mencebik
"Kenapa mulut Daddy monyong begitu ???" tanya Re tak terima melihat Adiittya mencebik
Adiittya terperangah "Sepertinya ada semut di mulut Daddy" bohong Adiittya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal
Ayuna tersenyum "Sabar ya mass... gitu gitu juga anakmu." tutur Ayuna sambil mengelus dada Adiittya
•
•
•
•
__ADS_1
🌹 Kakak lophers kasih vote doong, biar semakin semangat lagi authornya....😢😢🌹