KISAH CINTA DOKTER AYUNA

KISAH CINTA DOKTER AYUNA
episode 58


__ADS_3

Sinar mentari pagi perlahan masuk disela sela tirai kamar yang mana ada sepasang anak adam yang masih melepas rindu setelah tiga hari terpisah.


"Morning princes" bisik lembut Adiittya, tangannya menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah polos istrinya


"Morning mas.." jawab Ayuna malas karena rasa kantuknya belum pergi


Cup cup cup


Adiittya mengecup satu per satu bagian wajah Ayuna, kemudian menarik tubuh Ayuna ke dada bidangnya yang belum terbungkus sehelai kain.


"Terimakasih sayang"


Ayuna tak memberi jawaban, dan beberapa detik kemudian terdengar suara dengkuran halus keluar dari mulutnya.


Adiittya terkekeh melihat istrinya yang tertidur pulas dipelukannya. Setelah mengecup kening istrinya, ia menarik selimut lebih panjang untuk menutupi dirinya dan tubuh polos istrinya. Kemudian Adiittya ikut memejamkan mata menyusul istrinya tidur kembali.


Dimeja makan ada Rico yang sudah siap dengan pakaian kantornya, ia hendak sarapan namun sang tuannya belum juga turun.


"Bi, tuan belum turun." tanya Rico, matanya melirik jam yang melingkar ditangannya


"Sepertinya belum mas"


"Apa dia nggak ke kantor ?? " gerutu Rico sambil memainkan sendok diatas meja


"Emang semalam tiba jam berapa mas ??"


"Kurang lebih jam sepuluh, bi."


Ina manggut manggut "Tuan masih ngantuk kali mas, duluan saja makannya."


Rico tersenyum masam, ia mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan pada Adiittya.


Drrtt drrtt


Adiittya membuka matanya melihat jam diatas narkasnya. Lalu tangannya terulur mengambil ponselnya


"Why Rico " jawab Adiittya dengan suara serak khas bangun tidur


"Bos nggak ke kantor ??" tanya kesal Rico


"Nggak !! yang urgent kirim email saja."


"Dasar bastrad" desis Rico, ia memutus sambungan telfonnya


Didalam kamar Adiittya senyum senyum sendiri memandangi wajah lelah istrinya, ia teringat betapa gairah dan kuat kejantanannya itu, hingga istrinya mengeluarkan pelepasan berkali kali.


"Sayang bangun, ayo sarapan." Adiittya mengecup bibir mungil Ayuna


"Sayang...my love.. my honey..." bisik Lembut Adiitya ditelinga Ayuna, membuat siempunya indra pendengaran menggeliat merasakan deru nafasnya.

__ADS_1


"Aakkhhh..." desah Ayuna, perlahan ia membuka matanya "Jam berapa sekarang mas ??"


"Jam 7 lewat 10 menit sayang."


"Sudah siang ternyata." Ayuna menarik panjang selimutnya untuk menutupi bagian dadanya saat hendak duduk. "Mas nggak kerja ??" satu tangannya terulur mengelus rahang suaminya yang mulai ditumbuhi bulu halus


"Sayang sendiri nggak kerja"


Ayuna menggeleng "Mas, aku berpikir lebih baik resign saja. Aku nggak mau ada apa apa dengan anakku. Kehamilanku yang semakin besar ini, membuatku mudah lelah. Belum lagi kalau malam, tak cukup sekali kamu mintanya."


Adiittya terkekeh lalu duduk disamping Ayuna "Terserah sayang saja." menarik tubuh Ayuna kedalam pelukannya "Sekarang, mandilah !! mas akan membuat susu untukmu. Kita sarapan dikamar saja." ujar Adiittya kemudian ia mengenakan celananya dan turun kedapur.


"Pagi Rico !!"


"Baru bangun bos." Sindir Rico, mengabaikan sapaan Adiittya


"Hm" Adiittya hanya berdehem melewati Rico begitu saja, ia menghampiri bi ina yang sedang mencuci alat bekas masaknya "Bi, mana susu untuk nyonya." tanya Adiittya


"Sudah dimeja makan, Tuan."


Adiittya menata makanannya diatas nampan untuknya juga Ayuna "Urusan kantor kau handel dulu ya Ric, aku mau mengantar istriku mengurus resignnya."


"Ayuna akan resign bos ??"


"Rico !! dia bosmu !!" Adiittya tidak senang, jika ada yang memanggil Ayuna hanya namanya saja. Adiittya ingin istrinya juga dihargai seperti dirinya. Padahal itu bukan masalah untuk Ayuna sendiri.


"Get of my back now Rico !! go away !!"


Rico terkekeh mendapat umpatan dari Adiittya.


Setelah sarapan didalam kamar tadi, Adittya bergegas mandi. Ayuna yang sedang menyisir rambut panjangnya, memalingkan mukanya. Entah kenapa wajahnya selalu merona melihat suaminya setengah telanjang seperti itu.


Masih menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya, Adiittya memeluk Ayuna dari belakang "Sayang, jangan terlalu cantik. Mas nggak mau pria pria diluar sana menikmati kecantikanmu."


Ayuna tersenyum dan segera menyelesaikan menyisir rambutnya. Bagaimana tidak, jantungnya sudah berdetak kencang, apalagi kepala Adiittya kini menyeruak dilehernya mengendus wanginya bahkan sesekali memberikan kecupan kecupan kecil diseputar leher jenjangnya.


C**eklek


"Boy, look at your daddy and mommy making out in the morning" kata Andrew tiba tiba masuk dengan Arion digendongan satu tangannya


Tak hanya Ayuna, Adiittya pun sama sama kagetnya.


"Shiitt, ganggu saja." Adiittya melepas pelukannya, lalu mengendong Arion "Kurang ajar kau Andrew, nggak bisa kau ketuk pintu" ia duduk disebelah Andrew


Pipi Ayuna sudah merah merona, malu pada Andrew


"Salah sendiri nggak dikunci." jawab asal Andrew, sambil mengambil cemilan dimeja


"Pake bajumu dulu mas." Ayuna mengambil Arion "No !! jangan gendong Arion sayang, kasihan baby boy yang didalam perut." sergah Adiitya,

__ADS_1


"Biar sama gue saja, si gembul" pinta Andrew


"No !! kau pulanglah !!"


"****" Andrew pergi meninggalkan mereka


Saat ini Ayuna ditemani Adittya dengan menggendong Arion sedang mengajukan surat pengunduran dirinya.


Om Leo yang juga pemegang saham dirumah sakit itu mempersilahkannya masuk saat Ayuna mengetuk pintu keruangannya.


"Pagi om" sapa Adiittya


Leo menoleh "Boy !! ada apa ini, tumben kau kemari." Leo menghampiri Adiittya "Duduklah !!" menunjuk sofa mengajak Adiittta dan Ayuna duduk.


"Dokter Leo, tujuan saya kesini mengajukan surat resign"


"Resign ?? kenapa terburu sekali. Usia kehamilanmu bukannya masih 6 bulan."


"Aku ini kaya. Aku nggak butuh uang dari istriku. Buat apa istriku capek capek kerja. Apa perlu aku beli semua rumah sakit dijakarta ini." sahut Adiittya


"Mass...!!" pekik jengah Ayuna


"Hahaha... yes, i know you are a successful businessman. So, uangmu sangat banyak. Ayuna jika kau suntuk dirumah, om dengan senang hati menerimamu kembali."


"Om Leo !!" Adiittya menatap tajam Leo, membuat Ayuna jengah


"Terimakasih Dokter Leo, dan maaf ketidaksopanan kami terutama suamiku ini." sindir Ayuna, ekor matanya melirik suaminya sedangkan yang disindir tidak merasa bersalah sama sekali


"Never mind. Memang seperti itu suamimu. Kau harus bersabar menghadapinya."


Sesuai janjinya kemarin, kini Adiittya beserta keluarga kecilnya berada dimall mengantar Ayuna membeli baju hamil.


"Seharusnya sayang tidak perlu capek capek ke mall untuk membeli baju. Sayang bisa pesan ke desainer terkenal, baju apa yang sayang mau." protes Adiittya, sambil mengusap keringat didahi Ayuna


"Enakkan dimall mas, harganya terjangkau juga bisa cuci mata."


"Apa maksudmu !!! pantas kau berdandan secantik ini !! mau jual diri kamu, hah !!" emosi Adiittya seketika meletup, ia tak peduli dengan pengunjung mall yang melihat kearahnya.


"Mass... bukan itu maksudku. Aku hanya bercanda..." suara Ayuna sudah tercekat menahan tangisnya. Ia terkejut, yang niatnya ingin bercanda, suaminya malah menanggapinya dengan serius.


"Pulang !!" Adiittya menarik lengan tangan Ayuna meski nggak kasar, tapi cukup membuat Ayuna kesakitan. Apalagi perutnya kemarin baru saja mengalami mules disertai kontraksi palsu.


"Mass.. bayar dulu bajunya" Ayuna berhenti, membuat Adiittya ikut berhenti.


Adiittya menatap tajam Ayuna, tangannya menyaut baju baju yang hendak dibeli Ayuna, kemudian dilempar ke pramuniaga hingga mengenai muka si penjaga toko itu.


"Aku bilang pulang !! ya, pulang !!"


Pipi Ayuna sudah banjir dengan air mata, ia berjalan menunduk untuk menyembunyikan rasa malu dan wajah sembabnya pada pengunjung mall disana.

__ADS_1


__ADS_2