
Suara hentakan sepatu dari sudut lorong rumah sakit membuat Alan menoleh ke sumber suara. Matanya menyipit melihat seseorang yang tidak familiar buatnya.
"B******k, kau masih punya nyali datang kesini hah !!" tiba tiba satu tangan Alan sudah berada dileher Adiittya, mendorongnya ketembok rumah sakit
"Aku suaminya, aku berhak atas dirinya." Adiittya berusaha berbicara walau merasa susah
"Dokter Alan !!! lepaskan !!" teriak Rico berusaha melepaskan tangan Alan dari lehernya
Bug
Kepalan tangan Alan berhasil mendarat diperut Adiittya. Saat Adiittya hendak membalasnya, Rico dengan cepat menahan tangan bosnya.
"Tenang bos, jangan buat keributan disini. Kita bisa diusir security rumah sakit." cegah Rico
"Aku sudah disini, pergilah !!" perintah Adiittya dingin yang mendapat tatapan tajam dari Alan
"Hah... kau suruh aku pergi !! lalu kemana kau saat istrimu mempertaruhkan nyawanya ??" protes Alan, tersenyum kecil melihat Adiittya yang terlihat gugup
"Bukan urusanmu." jawab Adiittya santai namun tegas
"Jelas itu jadi urusanku Adiittya !! kau membuat sahabatku hampir kehilangan anaknya !!!" Alan meninggikan suaranya
"Sahabat yang menyusup kedalam rumah tangga sahabatnya. Itu yang kau sebut sahabat ??" geram Adiittya
" Apa maksudmu k*****t ???"
"Dengar pengecut !! kau sengaja kan mendekati istriku, agar dia meninggalkan aku dan kau bisa lebih muda mendapatkannya. karena kau mencintainya!! benar kan ???!!!"
Plaakkk
Alan melayangkan telapak tangannya dimuka Adiittya, membuat sudut bibir Adiittya pecah.
"Jaga mulutmu Tuan Adiittyya.., serendah rendahnya diriku, pantang bagiku merebut yang bukan milikku. Apalagi menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Camkan itu !!!" menunjuk satu jari telunjukknya kedada Adiittya
"Shhiitttt !!!" Adiittya menepis kasar tangan Alan, tatapan matanya bak ingin menelan Alan mentah mentah.
ceklek
Seorang dokter dan soerang perawat keluar dari ruang instalasi gawat darurat
"Dokterrr..." pekik Adiittya dan Alan bersamaan
"Dokter saya suaminya, bagaimana anak dan istri saya dok ??" ucap Adiittya panik
"Cih !!" senyum kecut dibibir Alan
"Tuan Adiittya, syukur alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan untuk anak dan istrimu bisa melihat dunia lagi. Dokter Ayuna sudah siuman dan berhasil melewati masa kritisnya." Dokter Manda menjelaskan
"Apa saya bisa melihat istriku, aku ingin menemaninya dokter."
"Tentu saja, setelah istri tuan dipindahkan ke ruang inap perawatan." Dokter Manda tersenyum melihat ekspresi Adiittya
__ADS_1
Adiittya, Alan dan Rico kembali duduk dikursi panjang tempat tunggu pasien. Tidak lama kemudian sebuah brankar yang membawa Ayuna keluar dari ruangan karena ia akan dipindahkan keruang perawatan.
"Sayang..." pekik Adiittya mendekat pada brankar yang membawa Ayuna seraya iku berjalan mengikuti arah brankar istrinya
Ayuna tersenyum kecut, namun tatapan matanya menyiratkan kekecewaan pada suaminya
"Dokter, aku ingin istriku mendapat ruangan yang terbaik dirumah sakit ini." sela Adiittya
"Pasti tuan." jawab Dokter Manda Mantap
Setelah Ayuna masuk keruang inap perawatan, dokter Manda memperbolehkan Adiittya, Alan dan Rico menemui Ayuna.
"Sayang, apa yang sayang rasakan sekarang, mana yang sakit, hem !!" Adiittya menggenggam tangan Ayuna yang tertancam selang infus
Ayuna tersenyum masam melihat kepanikan suaminya. Melepaskan pelan pelan tangan Adiittya dari tangannya. Sikap dingin yang ditunjukkan Ayuna membuat hatinya terenyuh. Seperti tertusuk pisau menembus jantungnya
"Sayang, jangan begini dong. Maafkan mas ya." masih berusaha memohon, dan mengambil tangan Ayuna yang sedang berbaring miring membelakanginya
"Tidak perlu minta maaf, anda tidak pernah salah tuan. Bukankah anda selalu benar." kata dingin Ayuna dibarengi cairan putih jatuh ke kebantal tempatnya mengistirahatkan kepalanya
"Sayang, mas sangat menyesal."
"Sudahlah pergilah kalian semua, aku ingin sendiri."
"Sayang..." tolak Adiittya
"Tuan Adiityya !! tolong pergilah... aku mau istirahat."
"Istirahatlah Yuna, jika butuh sesuatu panggil saja aku. okey !!!" celetuk Alan, tangannya mengusap usap rambut pucuk kepala Ayuna
"Jangan sentuh istriku !!!" tiba tiba Adiittya mencekeram kerah Alan
"Berhenti memanggilnya istri, tuan Adiittya. Kau tidak pantas menjadi suaminya." Alan menanggapi dengan cuek tapi penuh penegasan
"Kau...!!!!" giliran Rico yang melayangkan tinjunya kemuka Alan
"Udah, stop !! ku mohon berhenti. Alan, terimakasih sudah membantuku. Pergilah lanjutkan tugasmu. Aku baik baik saja." kata Ayuna disela sela isak tangisnya
"Pak Rico tolong bawa Tuan Adiittya keluar. Please tinggalkan aku sendiri. Dan jangan pernah kembali lagi. Aku bisa merawat diriku sendiri dan juga anakku." kata Ayuna selanjutnya setelah menjeda kalimatnya
"Sayang !! Apa maksudmu !!" sungut Adiitya mengerutkan kedua alisnya
"Bos, sudahlah ayo kita keluar biarkan nyonya istirahat. Sepertinya nyonya butuh waktu untuk sendiri dulu." sahut Rico memegang bahu Adiitya
Akhirnya Adiityya memilih mengalah untuk keluar, tapi sebelumnya ia berpamit sama calon anaknya dulu
" My son kau yang pintar diperut mommy, jangan buat mommy mu sakit okey !!! I Love you boy." memberi sentuhan lembut pada perut Ayuna
"Sayang, sekali lagi maafkan sikap mas, jagalah anak kita dengan baik. I love you." pamit Adiittya selanjutnya tidak lupa mencium kening, pipi lalu bibir mungil istrinya
Ayuna hanya diam saja mendapat perlakuan lembut dari suaminya. Bibirnya mengatup, tangannya sibuk menghapus buliran bening dipipinya.
__ADS_1
Adiittya dan Rico kini sudah berada dibangku panjang depan kamar Ayuna , sedangkan Alan sudah berada diruangannya.
"Bos, are you okey ??" Rico terenyuh, melihat mata bos laki lakinya berkaca kaca
"I just to die Rico. Ayuna does'nt need me anymore." Eluh Adiittya
"No !!! jangan katakan itu bos. Nyonya masih membutuhkanmu. Nyonya sangat mencintaimu. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri. Bersabarlah !!! Berdo'alah, mohon ampun padaNya."
Adiittya mendongak menatap langit langit atap rumah sakit. Mengambil nafas panjang lalu membuangnya kasar. Adiittya berpikir apa jadinya jika Ayuna benar benar meninggalkannya.
"Sebaiknya kau pulang saja bos, istirahatlah dirumah, aku akan menyuruh bi ina yang menjaga nyonya disini."
"Tidak Rico. Aku ingin menjaga anak dan istriku sendiri. Aku tidak ingin jauh dari mereka. Dan kau kembalilah kekantor."
"Baiklah. Aku akan menyuruh bi ina mengantar baju gantimu."
"Rico, sekalian bawa Arion, aku sangat merindukannya."
" Siap bos. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Semoga ada kabar baik setelah ini. Aku pulang bos." pamit Rico menepuk bahu Adiittya
"Thank's."
Perasaan Rico mengiba saat meninggalkan Adiittya yang duduk sendiri. Namun tidak lama kemudian om Leo menghampiri Adiittya yang terlihat kusam serta pakaian yang acak acakan
"Hai boy.. sudah membaikkah istrimu." Leo duduk disamping Adiittya
"She's oke." jawabnya lirih
"Apa yang terjadi denganmu, kenapa kau terlihat kacau begini."
"Hem" Adiittya tersenyum getir merutuki dirinya sendiri
"Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu boy." Leo memegang bahu Adiittya
"I'm sorry."
Brrraaakkkk, pyyyaarrr
Tiba tiba Adiittya dan Dokter Leo dikejutkan suara jatuh dari didalam kamar Ayuna. Tubuh Adiittya menegang beberapa detik, kemudian segera masuk ke kamar istrinya.
"Saayyaaannngggg....."
"Ayuuunnnaaa.."
Adiittya dan Dokter Leo berteriak bersamaan.
πΉto be continue πΉ
Bosssquuuu jangan lupa sebelum beralih tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kasih BINTANG LIMA pada halaman sampul dan VOTE untuk novel ini yacchhh...... terimakasih π€π€ π€
i_eyyun ππ
__ADS_1