
"Stop !!"
Suara keras Mirna membuat Pak Bambang menghentikan mobilnya mendadak. Beruntung jalan yang mereka lewati saat ini sedang tidak padat kendaraan.
"Pak Bambang tepikan mobilnya, kita harus menolong anak itu." kata Mirna
"Tapi nyonya.." ucap pak bambang menggantung
"Pak bambang cari bantuan, aku akan mengalihkan para preman itu."
"Tapi itu berbahaya nyonya" enyel pak bambang
Mirna tidak bisa menunggu pak bambang lagi, ia segera turun berlari hendak menolong bocah kecil itu. Bersyukur dewi fortuna telah memihak padanya, sebelum mirna sampai pada bocah kecil itu, para preman sudah berlalu pergi. Sedetik kemudian Pak Bambang menyusul Mirna setelab menepikan mobilnya.
"Sayang kamu tidak apa apa ??" tanya mirna panik
"Saya baik baik saja nyonya." jawabnya sambil berusaha berdiri, namun rasa sakit ditubuhnya membuatnya ambruk kembali.
"Pak Bambang, bantu dia. Kita harus membawanya ke Rumah sakit."
"Tidak nyonya, saya baik baik saja." bocah kecil itu mengeyel
"No.. no.. sayang, kau sedang tidak baik."
__ADS_1
"Pak Bambang buruan angkat. Tunggu apa lagi !!" kata Mirna meninggi
"Bbb...bbaik nyonya."
Pak Bambang mengangkat tubuh bocah itu masuk kedalam mobil.
"Siapa dua pria tadi yang memukulmu, dan apa alasannya memukulmu."
Namun bocah laki laki itu hanya menunduk diam membisu
"Sudahlah jika kau enggan bercerita, yang penting kau sudah aman bersamaku."
Tidak disangka setelah beberapa menit, bibir mungil bocah itu memecah keheningan didalam mobil. Dia mulai bercerita yang baru saja dialami.
"Sayang dimana orangtuamu ?? kenapa kau harus mencari uang ??" tanya mirna kemudian
"Kedua orang tua saya meninggal satu tahun yang lalu." ucapnya pelan tapi masih bisa didengar
"Siapa namamu."
"Rico Mananta"
"Oh Rico kenapa dunia sangat kejam terhadapmu." mirna memeluk Rico kembali, bibirnya mencium pucuk kepala Rico berkali kali.
__ADS_1
Pak Bambang memarkir mobil sedan dengan cantik saat memasuki pelataran rumah sakit. Ia membopong Rico masuk keruang perawatan. Karena Rico hanya mengalami memar saja, menjadikannya tidak harus menginap dirumah sakit.
"Terimakasih banyak atas bantuannya nyonya. Maaf saya tidak bisa membalas baik budi nyonya saat ini. Tapi jika Tuhan mempertemukan saya dengan nyonya kembali. Saya akan membalas kebaikan nyonya." kata Rico menunduk
"Tuhan mengirimku untukmu sayang. Masuklah aku akan mengantarmu pulang."
"Tapi.."
"Ssttt !!!" Mirna menempelkan jari telunjuknya dibibir Rico, kemudian tersenyum lembut pada Rico
"Biarkan aku mengantarmu Rico, aku tidak bisa membiarkan kau pulang sendiri dengan keadaan seperti ini." ujar Mirna seraya mendekapnya dalam pelukannya seperti anak sendiri
Rico tersenyum, matanya berkaca kaca. Ia bersyukur di dunia yang kejam ini, ia masih bisa bertemu dengan orang yang tulus. Rico menikmati pelukan hangat dari mirna dan tanpa sadar ia telah membalasnya. Pelukan hangat yang diberikan Mirna mengingatkan pada sosok ibunya yang di rindukannya.
"Ayah bunda Rico rindu" isi hati pilu Rico
Mobil sedan hitam kini sudah sampai disebuah rumah reyot yang tak layak untuk ditinggali.
"Silahkan masuk nyonya, pak." Rico mempersilahkan tamu yang baru saja menolongnya
Tiba tiba air mata mirna jatuh tanpa diminta, hatinya kembali terenyuh mengingat Rico yang masih bocah harus banting tulang demi kalangsungan hidupnya. Yang mana diusia Rico saat ini seharusnya bisa menikmati masa masa bermainnya seperti yang biasa dilakukan anaknya.
"Rico !! bantuanku itu tidak gratis. Dan aku minta bayarannya SEKARANG !!!" tegas mirna dengan senyum menyeringai licik
__ADS_1