
Pagi ini Ayuna baru pulang dari rumah sakit setelah seminggu menjalani perawatan. Dimasa pemulihan ini, Ayuna diharuskan banyak istirahat tidak boleh banyak bergerak.
Adiittya yang tadinya fokus pada pekerjaannya, menolehkan kepala menatap istrinya yang masih fokus menonton drama kesukaannya.
"Sayaang, kenapa tidak istirahat hem." tanya Adiittya menghampiri istrinya duduk ditepi ranjang
Ayuna diam masih fokus menonton tv
"Sayang, ingat pesan dokter Manda kan ?? harus banyak istirahat." ucap Adiittya mengulang kalimatnya
Ayuna tetap tak bergeming
"Sayang, masih marah sama mas. Sayang boleh marah sama mas. Tolong jangan menyakiti anak kita." pinta Adiittya memelas
"Yang mas lakukan kemarin itu apa tidak menyakiti anak kita ??" sindir Ayuna
"Iya sayang, maafin mas. Semua gara gara mas."
"Udah biasa mas, aku kamu siksa. Setelahnya juga minta maaf lagi." ucap Ayuna ketus
Adiitya mematung mendengar perkataan Ayuna, ia tak menyangka istrinya masih menyimpan dendam walau sudah seminggu.
"Mas mau nyelesain pekerjaan mas dulu. Kalau butuh apapun, panggil mas diruang kerja." Adiittya berdiri lalu mencium kening istrinya
Ooeekk oooeekkk
Mendengar anaknya menangis histeris, perlahan Ayuna turun dari tempat tidurnya. Berjalan pelan sembari berpegangan dinding kekamar Arion
Sementara Adiittya berlari, ingin melihat anaknya juga. Adiittya terkejut melihat Ayuna sudah berdiri didepan kamar Arion. Dengan cepat ia berlari kearah Ayuna.
"Sayang, kenapa jalan jalan. Bukannya istirahat." ujar Adiittya khawatir
"Mas tidak dengar Arion menangis seperti itu." Ayuna membela diri
"Ya sudah sini mas bantu sayang." Adiittya mengalah akhirnya
Dengan berpegangan tangan Adiittya, Ayuna melanjutkan masuk kekamar Arion.
"Baby why are you crying" tanya Adiittya mengangkat anaknya dari pangkuan Lala
Tangis Arion semakin melengking, seakan mengadu pada orangtuanya. Adiittya dan Ayuna tersenyum melihat Arion yang bermanja padanya.
"Kenapa Arion bisa menangis seperti ini mbak Lala." tanya Ayuna lembut
"Maaf Nyonya tuan, tadi Tuan muda kecedot saat mau ambil mobilannya." jawab Lala menunduk
"Bagaimana bisa ??? kamu ngapain saja hah !!!" sentak Adiittya
"Ck, masss..." cegah Ayuna melototi suaminya
Lala menunduk
"Mas jangan salahin mbak Lala, Arion kan sekarang sudah mulai banyak tingkahnya."
"Tapi sayang.." Adiittya masih ngenyel
"Sssttt... jangan dibiasakan berbicara kasar jika didekat anak anak."
Adiittya mengatupkan bibirnya, memeriksa kening anaknya.
"Mbak Lala, tolong ambilkan salepnya Arion." perintah Ayuna ramah
__ADS_1
"Baik nyonya."
Ayuna mengoles salep didahi anaknya. Lala sangat menyesal, berkali kali ia mengusap airmatanya duduk diteras depan.
"Hai La, kamu kenapa ??" tanya Rico yang baru turun dari mobil.
"Aahh... Tuan Rico, saya tidak apa kok." jawab Lala gugup
"Tuan dimana ??" tanyanya lagi
"Tuan dan Nyonya dikamar Tuan muda." jelas Lala disela tangisnya
"Sudah jangan nangis lagi." Rico memberi sapu tangannya
"Terimakasih Tuan."
Rico meninggalkan Lala pergi kekamar Arion. Anak kecil itu masih menangis tersedu sedu. Ayuna membaringkan Arion dengan ia tertidur miring, menepuk nepuk pantat anaknya untuk menenangkannya. Seperti yang biasa ia lakukan.
Adiittya yang tadinya duduk ditepi ranjang, ikut berbaring miring dibelakang istrinya karena melihat Arion yang memainkan tangannya didada Ayuna.
"Mas ikhh...kok ikutan tidur sih, katanya mau nyelesaiin kerjanya." Ujar Ayuna jengkel
"Kerjanya bisa di tunda, tapi ini tidak bisa ditunda lagi sayang." goda Adiittya
Dengan dagu ditopangkan dibahu istrinya, ia memeluk istrinya dari belakang, tangannya sudah berada didada istrinya membuatnya berebut dengan sang anak.
"Mas ini tidak mau kalah ya..sama anak sendiri." jengah Ayuna
"Aku iri lo sama Arion. Dipeluk diciumi sama kamu." rengek Ayuna
"Itu salahmu sendiri mas, jahat sama aku."
Ayuna memanyunkan bibirnya, mendengar janji suaminya. Adiittya tersenyum geli, ia langsung melahap bibir istrinya. Cukup lama hingga Ayuna memukul mukul dada bidang suaminya karena kehabisan nafas. Dengan nafas memburu akhirnya Adiittya melepas ciumannya.
Keduanya saling adu mata, menahan kerinduan membuat mereka tersiksa. Adiittya membalikkan tubuh Ayuna menghadap dirinya. Ia menyingkirkan rambut rambut yang menghalangi leher Ayuna. Ia mencium, menyesap dan menjilat leher istrinya hingga meninggalkan bekas merah kebiruan.
Jantung Ayuna berdegup kencang. Perasaan hatinya antara senang dan kesal, matanya terpejam menikmati sentuhan lembut suaminya. Tidak ada suara yang keluar dari bibir mungilnya, hanya bahasa tubuh yang tidak bisa berbohong.
Karena tidak ada penolakan dari istrinya, Adiittya kembali ******* bibir ranum istrinya. Menarik tengkuk leher belakang Ayuna untuk memperdalam ciumannya.
Ceklek
"Adiittya b******k !!!" teriak Rico jengah melihat Adiittya melakukannya tanpa mengunci pintu
Adiitya dan Ayuna terkejut. Ayuna mendorong kuat tubuh Adiittya hingga tersungkur ke lantai.
"Aww sayang, pinggang mas sakit." Adu Adiittya kesakitan
Ayuna tersenyum getir "Maaf"
"No problem my sweety." Adiittya berdiri, mengecup kening istrinya
"Mas keluar dulu, memberi pelajaran bocah tengik itu." sungut Adiittya kesal
"B******n kau Rico, beraninya kau menggangguku bermesraan." hardik Adiittya diambang pintu ruang kerjanya
"I'm sorry bos, lagian lagi ena ena pintu tidak dikunci." jawab Rico tidak mau kalah
"Tidak ada rencana tadi." jawab asal Adiittya
"Mana dokumen yang kuminta." imbuh Adiittya
__ADS_1
Rico memberikan map berwarna biru, kemudian Adiittya membaca dengan teliti setiap angka, huruf tidak ada yang terlewat.
"Kau sudah menyuruh orang untuk menyelidiki masalah ini Rico." tanya Adiittya serius
"Sudah bos."
"Hasilnya."
"Ada perusahaan baru yang menawarkan harga lebih tinggi kesuplier udang kita, bos."
"Shiittt, Apa nama perusahaan itu."
"Pt, Laut Jaya dari keluarga sanjaya yang saat ini dipegang oleh putra sulungnya Abdi Sanjaya."
"Buat scedule pertemuanku dengan manager suplier itu. Kalau perlu aku akan membeli semua kolam perikanan mereka."
"Siap bos."
Sementara tubuh Ayuna menegang tidak sengaja mendengar suaminya dan Rico menyebut nama Abdi Sanjaya saat dia didepan pintu ruang kerja suaminya.
"Mass.." panggil Ayuna suaranya gemetar
"Sayang, kemana para asisten kita. Kenapa sayang yang bawa." kekhawatiran Adiittya
"Aku yang mau mas."
Rico menghampiri Ayuna mengambil alih nampan berisi jus dan cemilan.
"Kemarilah mas merindukan anak kita." Adiittya menepuk pahanya
Ayuna menuruti suaminya, namun ia berdiri disamping suaminya.
"Duduklah" perintah Adiitya menepuk pahanya kembali
"Berdiri saja mas" tolak Ayuna
Adiittya tersenyum, ia tahu jika istrinya tidak akan mau bermesraan didepan orang lain. Adiittya melingkarkan tangannya dipinggang istrinya kemudian mencium perut Ayuna.
"Baby, i miss you. Daddy sudah tidak sabar menunggumu boy."
"Calon anakmu jagoan juga bos." tanya Rico penasaran
"Yes, of course." jawabnya mantap
"Insyaallah mas. Lagian aku belum periksa kandungan lagi. Nanti kita lihat saat Usg." timpal Ayuna
"Feeling ayah 100% benar sayang."
Kemudian dengan jailnya Adiittya menarik pinggang istrinya hingga terduduk dipangkuannya.
"Mas!!" pekik lirih Ayuna, sementara tangan Adiittya sudah masuk kedalam kaos istrinya
"Mas ingin kamu sayang." suara parau Adiittya
"Mass nanti ya??" bisik Ayuna
๐นto be continue๐น
Bosssquuuu jangan lupa sebelum beralih tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kasih BINTANG LIMA pada halaman sampul dan VOTE untuk novel ini yacchhh...... terimakasih ๐ค๐ค ๐ค
i_eyyun ๐๐
__ADS_1