
Pagi pagi sekali, Ayuna sudah bangun. Tiga hari ini ia hanya menghabiskan dengan tiduran saja dikamar. Jarum infus yang menancap ditangannya pun sudah dilepas, karena keadaannya yang semakin membaik.
"Lho bu dokter, mau ngapain ??" tanya yati saat melihat Ayuna didapur hendak membantunya
"Mau bantu bantulah bi, masa iya mau mandi."canda Ayuna
"Eh... udah bu dokter istirahat saja di depan. Atau jalan jalan, pagi pagi gini bagus lo dok buat ibu hamil biar lancar persalinannya."
"Iya juga sih bi, bentaran deh sekalian nunggu Arion bangun. Takutnya ntar nyariin saya."
"Ngomong ngomong Allan sering ya bi, main kemari."
"Hampir setiap hari sih, dok. Kan mas Allan yang antar jemput mbak Rara."
"Iya ya, semoga mereka segera meresmikan hubungannya ya bi."
"Amiinnn..."
"Ehem, pagi pagi uda ngomongin orang ??" Allan berdehem sambil bersandar dibibir pintu dengan Arion digendongannya
"Sejak kapan kamu disitu !!" sungut Ayuna, ia mengambil Arion "Anak gantengnya mommy uda bangun ya ??" Ayuna menghujani Arion dengan ciuman
"Iya dong mom." suara Adiittya menirukan khas anak kecil "Kamu sih Yun, asyik gosip sendiri sampe nggak dengar anaknya nangis."
sindir Allan, membuat Ayuna terkekeh kecil.
"Bi, aku tinggal mandiin Arion dulu ya."
"Inggih bu dokter."
Kemudian Ayuna pergi bersama Arion dan disusul oleh Allan
"Sini, biar aku yang gendong Arion" pinta Allan, yang langsung merebut dari tangan Ayuna
"Kok kamu ngikutin aku sih !! emang kamu nggak kerja ?? suster Rara sudah siap noh !!'
Allan menepis pelan tangan Ayuna "Ntar juga nyarinya aku kekamar kamu."
"Huh.. dasar !! dipecat jadi calon suami, tau rasa kamu !!" ledek Ayuna sambil melepas baju Arion, kemudian masuk kamar mandi untuk memandikannya.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya." tanya Allan, ia duduk disofa sebelah Ayuna yang sedang memakaikan baju Arion setelah mandi
__ADS_1
"Setelah ini aku akan mendatangi pak Edy, Al."
"Pak Edy siapa ??" Jawab Allan santai sambil mengajak Arion bercanda
"Pengacara pribadi mas Adiittya."
"Untuk apa ??"
"Aku ingin mengurus surat perceraian kami secepatnya, Al. Aku sudah capek. Aku tidak bisa bersembunyi terus dirumah Rara. Aku ingin bebas pergi kemanapun, tanpa ada rasa was was dari anak buah mas Adiittya yang mengikutiku. Aku juga nggak enak sama Rara, Al." mata Ayuna berkaca kaca mengingat rumah tangga yang bakalan bahagia selamanya, akhirnya berakhir diusia pernikahannya yang belum genap setahun.
"Apa kamu tidak ada niat kembali dan memaafkan Adiittya, Yun. Coba pikirkan lagi keputusanmu itu, kamu jangan hanya memikirkan sakit hatimu, karena ada mereka yang akan membutuhkan sosok ayahnya"
"Keputusanku sudah bulat, Al. Insyaallah aku bisa menjadi ibu dan bapak untuknya. Aku janji mereka tak akan kekurangan kasih sayang dariku." air matanya kini sudah menggenang dipelupuk matanya
Allan merengkuh pundak sahabatnya "Apapun keputusanmu aku akan mendukungmu, aku akan selalu ada untukmu."
"Terimaksih Allan." Ayuna menyenderkan kepalanya dibahu Allan, bibirnya tersenyum masam "Keluarga bahagia yang aku impikan selama ini, ternyata gak seindah bayanganku."
Dengan mendudukkan Arion dipangkuannya, satu tangan Allan mengelus elus lengan Ayuna agar sahabatnya itu kuat menghadapi cobaan rumah tangganya.
Tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang berkaca kaca sedang mengawasi keduanya sejak tadi. Hancur sudah perasaannya yang selama ini ia pendam untuk Allan. Padahal Rara sempat berpikir jika dirinya akan berjodoh dengan Allan.
Rara menuruni tangga menuju meja makan, dimana ada Yati sedang menata makanan yang sudah dimasaknya.
"Lho ! gak nunggu mas Allan, mbak ??"
"Nggak bi, sepertinya Allan sibuk dengan cintanya yang dulu pernah pupus."
Dahi Yati mengernyit, ia diam tak menjawab mencoba menelaah perkataan Rara.
"Saya pamit bi, assalamu'alaikum"
"Mbak Rara gak sarapan dulu tow ??" sergah Yati,
Rara menggeleng" Di kantor saja, ada pasien vvip menunggu saya." ucap Rara bohong
Setengah berlari Rara masuk kegarasinya, lalu melajukannya dengan kecepatan penuh.
"Kau kecewa padamu, Al. Ku pikir kau laki laki baik dan bertanggungjawab, ternyata kau tak ada bedanya dengan laki laki ********. Aku nyesel menaruh hatiku padamu, Al." desis Rara didalam mobil
Begitu juga dengan Adiittya, keadaannya mulai berangsur membaik. Meski kadang masih sering uring uringan, namun ia bisa mengontrol dirinya sendiri.
__ADS_1
"Rico, bagaimana perkembangan kasus yang diMalang kemarin. Apa Pt, Laut jaya masih mengusik perusahaan kita." tanya Adiittya yang kini sudah berada dikantornya
"Tiga hari kemarin, wakil dari perusahaan mereka mengajukan kontrak kerja sama dengan kita, bos."
"Apa maksud mereka, kemarin berusaha merebut suplier perikanan kita. Malah sekarang ingin bekerjasama. Kau selidiki saja dulu, apa tujuannya serta latar belakang mereka."
"Sudah bos." Rico menjawab mantap seraya menyodorkan map merah kedepan Adiittya
Adiittya mengangkat satu alisnya "Cepat sekali kau, Rico." ia membuka dokumen yang berada didalam map itu.
"Are you sure ??!!" Adiittya menekan suaranya karena tidak yakin, "Oh God, apalagi ini." Adiittya memijit pelipis alisnya ketika membaca data pribadi Abdi Sanjaya
"Benar bos. Ceo Pt. Laut Jaya berpusat di Surabaya, yang perusahaannya tidak jauh dari rumah nyonya. Bahkan Abdi Sanjaya adalah teman Sma nyonya Ayuna. Mereka pernah dekat, nemun setelah lulus Abdi dikirim ayahnya ke London untuk melanjutkan studynya. Sedangkan waktu itu nyonya kuliah disini. Mereka dulu juga sempat ketemuan beberapa kali. Hingga akhirnya, tuan Sanjaya memberi peringatan pada Nyonya agar menjahui putranya. Kalau tidak, Sanjaya akan menghancurkan keluarga nyonya."
"Bos, are you okey." Rico mengalihkan pembicaraannya ketika melihat Adiittya nampak pucat sekali
"Hm, lanjutkan."
"Saat ini Abdi Sanjaya juga berada disini, bos. Dia menyewa apartemen dijalan Kartini."
"Apa dia tahu, Ayuna istriku."
"Tahu. Dia juga mengetahui kalau saat ini anda sedang tidak baik dengan nyonya. Sepertinya dia masih menyimpan rasa untuk nyonya. Dan tujuan kerjasama ini, saya rasa agar dia bisa mendekati nyonya kembali."
"Damn !! coba saja kalau berani mendekati istriku. Lalu bagaimana dengan istriku, kau sudah mendapatkan kabar terbarunya."
"Belum."
"Keparat kau Rico !! pecat saja semua anak buahmu itu. Dasar tidak berguna."
"Sabar bos... aku yakin sebentar lagi kita bisa menemukan nyonya. Aku sudah memblokir debit card dan credit card. Kita lihat saja nanti sampai kapan ia bisa hidup tanpa uang sepeserpun." senyum Rico menyeringai
"Dan satu lagi Rico, selidiki apa dia pulang kerumahnya yang diSurabaya. Beri satu anak buahmu untuk berjaga dirumahnya Surabaya, tapi awas jangan sampai membuat orang curiga terutama jangan sampai membuat ibu mertuaku ketakutan." imbuh Adiityya sambil mengepalkan tangannya, ia ingin mempersempit pergerakan Ayuna
Rico manggut manggut dengan bibir tersenyum licik "Yes, i do"
"Meski keyakinanku, Ayuna tidak akan bisa pergi jauh untuk saat ini karena ada Arion bersamanya, apalagi dia juga hamil besar."
"I hope so" jawab Rico sambil menarik nafas panjang "Apa kau sudah mendatangi ******** tengik itu langsung bos ??"
"Belum. Namun Andrew sudah pernah mendatanginya dan dia bilang gak tau keberadaan Ayuna."
__ADS_1
Rico menyenderkan tubuh lelahnya disandaran sofa sambil mengurut hidungnya "Bagaimana jika aku suruh satu anak buahku untuk mengikuti dokter sialan itu, bos??"
"Bodoh !!! kenapa harus bertanya padaku !!! lakukan apa yang harus kau lakukan, Rico !!" bentak Adiittya, ia kemudian duduk berhadapan dengan Rico "Hmm, that's not bad."