
Daffa menerimanya dengan ungkapan terima kasih yang keluar dari mulutnya. "Terima kasih."
Di sela-sela itu, Daffa mengeluarkan sesuatu dari sakunya celananya.
"Sebentar, akan aku tukar dengan ini."
Daffa memberinya sebuah kertas berharga yang mungkin jumlahnya bisa lebih dibandingkan dengan sebotol minuman air putih.
"Kamu pikir kita sedang barter apa, yah?"
"Bukan barter juga sih. Yah ... Kamu tau sendiri, kan? Maksudku, harga diriku sebagai seorang lelaki akan merasa malu kalau begini terus." Daffa terus terang.
"Apa maksudmu? Kita ini teman, kan?"
"Teman?"
"Iyalah. Kamu masih ingat? Tentang salah satu pelajaran saat masih sekolah dasar? Sesama manusia kita saling membutuhkan. Tapi jika sesama teman bisa lebih dari itu, mereka saling membantu apapun keadaannya."
Beberapa jari-jari Daffa memegang dahinya, ia seakan merenung dan mencerna perkataannya. "Oh, begitu. Aku paham ... Sangat paham dengan kata-katamu."
Daffa sedikit memejamkan kedua matanya. "Tapi ... Yah. Bagaimana jadinya, apabila seseorang memaknai kata teman bukan dengan saling membantu, melainkan dengan saling memanfaatkan?"
Syifa berekspresi dengan tertawa kecil. "Mudah saja, itu tergantung pandangan mereka terhadap makna kata teman. Kondisi mental sering juga mengubah pandangan seseorang terhadap sesuatu."
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku salah seorang dari mereka?"
"Itu tidak mungkin. Seratus persen, bahkan semiliar persen itu tidak mungkin sekali."
Daffa cukup kaget, sehingga kedua matanya membuka secara sendirinya. "Kenapa?"
Syifa selangkah mendekat. "Itu karena ... Aku sangat percaya denganmu!"
Dia tersenyum sangat manis di bawah gemerlap bintang-bintang dan cahaya rembulan.
Dug!
Daffa sangat gemetaran melihatnya, sehingga memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah sungai. "Sial, akan sangat merepotkan jika dia begitu terus." Batinnya.
"Dengan adanya kepercayaan satu orang teman yang senantiasa menemani mereka, maka mereka akan terbawa arus oleh temannya dan dapat mengubah pandangan buruknya. Karena itulah kepercayaan sangat berpengaruh." Syifa meneruskan perkataannya.
"Murid nomor satu memang tidak bisa diragukan lagi."
Setelahnya, Daffa hanya meminum air botol yang tengah dipegangnya.
Gluk!
Gluk!
__ADS_1
Gluk!
Menggerakkan kakinya secara bergantian, Daffa tiba-tiba berjalan mengarah ke sepeda yang terparkir itu. Syifa hanya melihatnya melewatinya saja.
Daffa melambaikan tangannya ke atas. "Apa kamu masih betah di sini? Kalau tidak, cepatlah."
"Eh, tunggu aku!"
Syifa berderap dengan begitu cepat mengikutinya, hingga tak ada lima detik untuk bisa menyusulnya.
"Daffa, udah mau lanjut lagi? Padahal baru meminumnya beberapa kali, lebih baik kamu minum dulu sampai habis." Tutur Syifa.
Daffa tidak membalas perkataannya sama sekali, bahkan hingga mereka sampai pada tempat sepedanya dan berhenti di sana.
"Hey, Daffa!" Teriak Syifa didekatnya cukup keras, yang berusaha menyadarkannya. "Kenapa dia tiba-tiba menjadi cuek sekali?" Batinnya berpikiran panjang.
"Jangan-jangan ... ! Apa karena aku terlalu banyak membicarakan tentang teman? Jadi dia mengira kalau aku menganggapnya hanya sebagai ... Teman saja?! Gawat ini, super-duper gawat! Bagaimana kalau dia semakin cuek kepadaku seterusnya? Bagaimana ini!? Bagaimana ini! ... " Syifa menjerit begitu lama dalam hatinya, karena panik akan pemikiran yang seolah-olah dibuatnya sendiri.
"Kalau begini, pernyataanku kepada ibunda dan ayahanda Daffa akan menjadi sia-sia." Batinnya.
Syifa merasa sedih, dan diingatkannya kembali saat dirinya bertemu dengan kedua orang tuanya Daffa di dalam Toko Swalayan barusan.
***
Pertemuan ini terjadi ketika Syifa memasuki Toko Swalayan yang tempatnya tak jauh lagi dari jembatan sungai.
Syifa melihat-lihat berbagai minuman dan makanan ringan, tak lupa pula dengan harganya.
Akan tetapi, tiba-tiba ia didatangi oleh seseorang yang wajahnya tak asing lagi. Benar, itu adalah ibu Daffa.
"Eh, ibu ... Daffa?"
Ekspresi wajah Syifa pun kaget karena melihatnya, ia langsung menyapanya.
Tak berselang lama, datang pula ayah Daffa yang berlari di dalam toko itu dengan gugup, wajahnya penuh kecemasan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ayahanda juga ada di sini?"
"A–ayahanda?" Ayah Adi bingung, tapi tak berhenti berjalan menghampiri mereka berdua.
Syifa berderap ke hadapan mereka dan mencium tangan ibu dan ayah Daffa secara silih bergantian.
Setelahnya, Syifa hanya berdiri di depan mereka dengan senyuman lebarnya, membuat hati kedua orang tua Daffa bergetar akan kesopanannya.
Tapi yang sebenarnya, Syifa sangatlah gugup di hadapan mereka, keringat basah pun mulai mengguyurnya, tapi untungnya ia bisa menahan semua itu.
"Ibu—"
__ADS_1
Ayah Adi tak sempat berbicara, sebab tangan ibu Ayu tiba-tiba terangkat lebar menghalanginya. Ia tidak dibiarkan berkata sedikitpun saat ini.
"Syifa, kamu ngapain di sini malam-malam? Udah begitu, kamu juga bersama Daffa, kan?" Tanya ibu Ayu.
"Emm, gimana yah ... Bilangnya. Ah, Ibunda pasti mau bertemu dengan Daffa, kan? Mau aku panggilkan Daffanya? Dia ada di seberang sana, kok." Balas Syifa bingung dan gugup.
"Ibunda? ... "
"Biarkan saja Daffa di sana, saya mau jawaban langsung dari kamu saja."
"Sebenarnya kelasnya aku dan Daffa akan mengadakan pesta di rumahnya Vira, karena kedatangan murid baru."
"Apa kamu sudah jujur?"
"Sudah, kok."
"Hmm ... " Ibu Ayu masih belum percaya, wajahnya mendekat, matanya menatap lebar. "Yah, sepertinya kamu tidak berbohong." Kemudian ibu Ayu berdiri tegak seperti semula.
"Tapi! Tante—"
"Ibunda saja, itu lebih cocok." Sela Syifa.
Wajah ibu Ayu agak memerah. "Eh? Apa kamu punya niat terselubung?"
"Gak, kok. Beneran, deh." Balas Syifa dengan mulutnya yang tersenyum sebelah.
"Ibu juga punya satu pertanyaan lagi,"
"Apa Ibu mau menanyakan itu sekarang juga?" Ayah Adi menyela.
"Ya."
"Tanyakan saja, aku pasti akan menjawabnya." Dengan entengnya Syifa berkata seperti itu.
"Malah bagus kalau kamu mau menjawabnya. Sebelum itu, kita harus keluar dari Toko ini dulu, sebelum membicarakannya."
"Oke."
Ibu Ayu menggandeng tangan Syifa. Mereka bertiga berlalu dari Toko itu, dan berdiri di dekat sepeda motor yang terparkir di sana.
"Jadi, apa yang akan ibunda tanyakan?"
Dengan wajah seriusnya, ibu Ayu membuang napasnya terlebih dahulu lalu menariknya kembali.
"Ibu langsung ke intinya saja. Pada hari kemarin, saat sepulang dari desa. Dan saat Ibu dan Ayah tidak ada di sana, apa yang terjadi dengan Kamu, Fasa, Daffa, dan para gerombolan anak nakal itu?"
"E– eh? ... "
__ADS_1
Bersambung ....