Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 8 : Mendapat Hukuman


__ADS_3

Daffa tidak protes dan hanya berdiam diri di tempat dengan satu kakinya yang diangkat ke atas dan kedua tangannya yang memegang telinganya.


Kemudian Pak guru olahraga meninggalkan Daffa dan pergi menuju murid-murid lainnya yang sudah berbaris dengan rapi di lapangan sekolah.


"Bagus anak-anak, sudah berbaris dengan rapi." Ucap Pak guru Olahraga sambil berdiri di depan murid-murid.


"Jadi, bapak adalah guru olahraga kalian, nama bapak adalah Pak Toni." Ucap Pak Toni.


"Sebelum melakukan pelajaran, kita pemanasan dulu ya anak-anak." Ucap Pak Toni.


Mereka pun melakukan pemanasan terlebih dahulu sekitar 5 menit, sedangkan Daffa hanya bisa melihat mereka melakukan pemanasan dari tempat berdirinya yaitu di pinggir lapangan sekolah.


"Oke cukup pamanasannya, tolong dua anak pergi ke gudang lalu ambil Bola ya." Ucap Pak Toni.


"Biar saya dan Farrel yang mengambilnya Pak." Ucap Ridho sambil mengangkat tangannya


Ridho dan Farrel pun menuju ke gudang, berselang beberapa menit mereka berdua kembali dari gudang.


"Mana bolanya?" Tanya Pak Toni.


"Ini Pak," Ridho dan Farrel menjawab bersamaan sambil menyodorkan bola yang mereka bawa dari gudang.


"Itu bola kasti!" Bentak Pak Toni.


"Yang bapak maksud itu bola futsal," ucap Pak Toni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tanpa mengucapkan satu katapun, Ridho dan Farrel langsung lari terbirit-birit menuju ke gudang sambil membawa bola kasti yang tadi mereka bawa.


"Haha..." Daffa tertawa melihat Ridho dan Farrel membawa bola yang salah.


"Hm?" Pak Toni menoleh ke arah Daffa dengan mata tajam, lalu Daffa berhenti tertawa.


Dengan cepatnya, Ridho dan Farrel sudah kembali ke lapangan sekolah dan memberikan beberapa bola futsal kepada Pak Toni.


"Nah berhubung bolanya sudah ada, sekarang kalian melakukan teknik dasar menendang bola berpasangan dengan teman kalian," ucap Pak Toni sambil memegang beberapa bola di tangannya.


"Kalau sudah kalian ambil bola ini, lalu yang cewek lakukan disebelah kanan lapangan, sementara cowok disebelah kiri lapangan." Ucap Pak Toni.


"Baik pak." ucap murid-murid kompak.


Murid-murid pun melakukan apa yang dikatakan oleh Pak Toni, sedangkan Daffa sudah mulai kecapean berdiri di pinggir lapangan sekolah.


"Hadeh... Kakiku udah mulai capek." ucap Daffa mengeluh kecapean, lalu mencoba menghilangkan rasa capeknya.


Daffa memejamkan matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam, dan berpikir jernih seolah-olah susana di sekitarnya hening dan tidak ada siapa-siapa.

__ADS_1


"Daf-fa-a-was." Saat Daffa sedang fokus, ia mendengarkan suara yang tidak jelas, namun ia tidak menghiraukannya dan mencoba tetap fokus.


Setelah beberapa detik, Daffa pun membuang nafas, kemudian pada saat membuka matanya tiba-tiba ada sebuah bola tepat di depannya lalu mengenai mukanya.


"Aduh, anjir siapa ini yang nendang woy!" Ucap Daffa dengan muka marah sambil memegangi mukanya yang tadi terkena bola.


"Maaf Daf, gak sengaja." Ucap Farrel sambil memohon maaf.


"Cih..." Daffa mendecih.


Pak Toni menghampiri Daffa, lalu menenangkannya.


"Gapapa?" Tanya Pak Toni.


"Gapapa Pak," jawab Daffa.


"Oke semuanya kumpul, lalu berbaris kembali." Ucap Pak Toni sambil mengambil bola yang tadi mengenai Daffa.


"Kamu juga Daf," Ucap Pak Toni sambil berjalan menuju tengah lapangan.


Daffa sedikit lega karena dirinya sudah diperbolehkan ikut pelajaran oleh Pak Toni, lalu ia segera berjalan menuju tengah lapangan dan membuat barisan bersama murid lainnya.


"Sekarang yang cowok bermain bola duluan, yang cewek nanti sesudah cowok selesai bermain."


Murid cewek pergi ke pinggir lapangan, sedangkan murid cowok bersiap-siap untuk bertanding.


"Baik, Pak." Ucap Daffa lalu pergi ke pinggir lapangan.


"Jadi murid cowok jumlahnya dua belas ya, karena Daffa sedang pemanasan jadinya lima lawan lima terlebih dahulu," ucap Pak Toni


"Baik, Pak." ucap seluruh murid cowok bersamaan.


Daffa melakukan pemanasan di samping perkumpulan murid cewek yang sedang duduk sambil menonton di pinggir lapangan. Sedangkan Pak Toni memberi arahan kepada murid cowok.


"Jadi waktunya 30 menit, dan yang kalah harus memutari lapangan sebanyak 3x oke?" Pak Toni menjelaskan aturannya.


"Oke pak,' ucap murid cowok bersamaan.


Dari 10 anak dibagi menjadi 2 tim yaitu tim A dan tim B, Ridho dan Farrel termasuk tim A, Waktu pertandingan 30 menit dan tidak ada istirahat. Walaupun Daffa sedang pemanasan, ia sudah mengajukan kepada Pak Toni agar dirinya berada di tim B.


"Priiittt...." Pak Toni meniup peluit tanda pertandingan sudah dimulai.


Baru berjalan 5 menit pertandingan, tim B memegang bola di dalam area kotak penaltinya sendiri dan memberikan hadiah penalti kepada tim A.


Ridho maju untuk mengambil tendangan penalti, ia mengambil ancang-ancang lalu dengan mudahnya ia menjebol gawang tim lawan.

__ADS_1


"Semangat Dho..." Teriak Vira sambil menepuk tangannya.


Skor menjadi 1-0 keunggulan bagi tim A. Pertandingan terus berlanjut, sedangkan Daffa sudah hampir selesai melakukan pemanasan.


Berselang beberapa menit, Daffa selesai melakukan pemanasan kemudian ia berteriak memanggil Pak Toni.


"Pak... Aku sudah selesai melakukan pemanasan," teriak Daffa memanggil Pak Toni sambil mengangkat tangannya ke atas.


"Nanti, tunggu bolanya keluar lapangan." Ucap Pak Toni.


"Oke, Pak." Ucap Daffa.


Sambil menunggu bolanya keluar lapangan, Daffa duduk menikmati angin yang sejuk sambil menonton pertandingan mereka.


"Kamu gak usah ikut, palingan nanti jatuh lagi," Ucap Syifa kepada Daffa sambil menahan tawa.


"Benar juga yah... Tapi kamu lihat saja nanti," ucap Daffa sambil tersenyum percaya diri.


"Hah? Apa? Hahaha..." Syifa tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Daffa dengan percaya dirinya.


Sudah berjalan 16 menit pertandingan, tapi bola tak kunjung keluar lapangan sampai-sampai Daffa bosan melihatnya.


"Dho, ayok kita lakukan umpan satu dua," ucap Farrel sambil menggiring bola ke belakang untuk mengulur waktu.


"Ayok lah, dari tadi kamu bawa sendiri terus sih bolanya," Ucap Ridho.


"Iya maaf hehe..." Ucap Farrel tertawa kecil.


Ridho dan Farrel pun maju bersamaan lalu melewati pemain lawan dengan umpan satu dua yang cantik, dan pada saat sudah dekat dari gawang lawan, Ridho mengumpan lambung ke arah Farrel, lalu Farrel menerima umpan tersebut dan menendang dengan keras menuju ke gawang lawan.


"Goooll..." Para murid cewek teriak sangat keras hingga Daffa menutup kedua telinganya.


"Wahh... Keren banget... Mereka berdua..." Teriak para murid cewek.


"Berisik banget woy," ucap Daffa sambil menjauh dari mereka.


"Priiittt..." Pak Toni meniup peluit.


Suara peluit yang Pak Toni bunyikan membuat keadaan menjadi seperti semula, kemudian Pak Toni mengundang Daffa dan satu murid lainnya.


"Daffa sini masuk ke lapangan," ucap Pak Toni.


"Baik, Pak." Ucap Daffa.


Daffa pun berdiri, lalu ia menatap ke arah Ridho dan Farrel dengan senyuman kecil percaya dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2