
Di rumah milik keluarganya Daffa, lebih tepatnya di kamarnya Daffa. Terlihat Daffa yang tengah berbaring di tempat tidur dengan pakaian dan rambutnya yang tampak acak-acakan.
Berselang beberapa detik, tiba-tiba matanya Daffa membuka secara perlahan-lahan. Dengan mata yang tampaknya masih mengantuk, ia pun bangun dari tidurnya dan duduk di atas kasurnya.
Daffa mengulet seraya menguap. "Hoaammm..."
"Jam berapa ini?" Ucap Daffa.
Daffa pun kemudian melihat ke arah jam weker. "Jam delapan, kah...?" Ucapnya yang kemudian ia tampak memegangi kepalanya.
"Oh ya, Kemaren kan aku mengobrol dengan ibu dan ayah sampai larut malam." Gumam Daffa.
Sesaat setelah itu, Daffa beranjak dari tempat tidurnya, ia tampaknya berjalan ke arah jendela kamarnya.
Sesampainya tepat di depan jendela, ia pun membuka tirai yang menutupi jendela. Setelah itu baru ia membuka jendela kamarnya.
Seketika angin pagi yang terasa sejuk itu langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya Daffa melalu jendela.
Dengan muka lesunya, Daffa tampaknya terus-menerus memandang ke luar jendela.
Matahari yang terbit dari timur, langit biru yang diselimuti awan berwarna putih keabu-abuan, burung-burung berkicauan di saat berterbangan. Ia melihat semuanya.
"Sepertinya hari ini akan turun hujan," ucap Daffa dengan pelan nan lirih.
Beberapa menit lamanya Daffa memandang ke luar jendela, Daffa kemudian tampak membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu kamarnya.
***
Di sisi lain, terlihat Syifa yang telah memakai pakaian sangat rapi. Dihadapannya terdapat seorang mamahnya Syifa yaitu mamah Intan.
Sedangkan di belakangnya terlihat pak Supri dan juga kak Hendra yang sedang berdiri bersampingan.
Mereka semua sedang berada di teras rumah keluarganya Syifa.
"Kamu sudah mau pergi?" Tanya tante Intan.
"Iya mah, ini juga lagi nungguin kak Mira," jawab Syifa.
"Oh, begitu ya..." Ucap tante Intan.
"Iya," balas Syifa sembari mengangguk.
Tak lama setelah itu, terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah. "Maafkan saya...!"
__ADS_1
Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, di saat itu juga terlihat seorang wanita yang keluar dari pintu tersebut. Semua orang seketika langsung menatap ke arah wanita tersebut.
Wanita tersebut langsung menundukkan kepalanya dihadapan mereka. "S-saya benar-benar minta maaf karena telah membuat nona muda menunggu lama!" Ucap kak Mira dengan gugup.
Ternyata wanita tersebut adalah orang yang waktu itu bersama dengan adek Fasa dan juga tante Intan saat bertemu dengan Daffa.
"Ah, nggak apa-apa kok, nggak apa-apa." Balas Syifa.
Kak Mira pun kemudian kembali mengangkat kepalanya.
Sementara itu, tampaknya mukanya kak Hendra seketika memerah muda ketika dirinya memandang kak Mira. "Bi-bidadari..." Gumam kak Hendra dalam hatinya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya mah... Mungkin nanti aku pulangnya jam dua belas, dan sampaikan salamku juga kepada papah," ucap Syifa yang kemudian ia mencium tangan mamahnya.
"Iya, kalau papah sudah bangun yah..." balas tante Intan. "Dan juga hati-hati di jalan." Lanjutnya.
Pak Supri tampak menepuk bahunya kak Hendra dengan agak keras. "Kamu jangan sampai lupa dengan pesan ayah."
"Iya, aku akan melindunginya sebisa mungkin," balas kak Hendra.
Sesaat setelah itu, Syifa tiba-tiba menggenggam tangannya kak Mira. "Ayo kak Mira... Kak Hendra..."
"Siap," ucap kak Hendra.
Wajahnya kak Mira seakan tersenyum saat dirinya melihat ke arah Syifa yang berada di sampingnya. "Tak kusangka dia sudah sebesar ini." Gumamnya.
Mereka bertiga pun berjalan meninggalkan tante Intan dan juga pak Supri.
Syifa melambaikan tangannya ke mamahnya selagi berjalan. "Dahhh...!"
Tante Intan pun membalasnya juga dengan melambaikan tangannya dengan ekspresi wajahnya yang tampak tersenyum.
Tante Intan tiba-tiba berhenti melambaikan tangannya, wajahnya berubah seperti mencemaskannya. "Entah mengapa firasatku terasa tidak enak." Batin Tante Intan.
***
Di sisi Daffa, ia tampaknya sedang berjalan menuju meja makan.
Daffa melihat ibu dan ayahnya yang sedang makan sambil duduk ketika ia hampir sampai di sana.
Ayahnya Daffa sepertinya mengetahui jika Daffa tengah berjalan ke arahnya. "Oh, Daffa kah?"
Daffa pun kemudian duduk di kursi bersama dengan kedua orangtuanya. "Ayah tidak berangkat kerja?"
__ADS_1
"Ya, ini sebentar lagi juga ayah akan berangkat," jawab ayah Adi yang sedang mengusap mulutnya dengan tisu.
Pandangannya berganti ke arah piring yang berada tepat di depan ayahnya itu yang terlihat kosong. Sepertinya ayah telah menghabiskan makanannya.
"Daffa, ini piringnya kamu," ucap ibu Ayu yang memberikan piring kepada Daffa selagi dirinya mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Ah, iya. Terimakasih, bu." Balas Daffa sembari menerima piring tersebut.
Daffa menaruh piringnya tepat di depannya dan kemudian ia mengambil nasinya lalu menaruhnya di atas piringnya secara perlahan-lahan.
"Apa kamu masih berniat mengikuti eskul renang?" Tanya ayah Adi.
"Ya, begitulah," jawab Daffa selagi dirinya mengambil nasi.
Piring yang dihadapannya Daffa pun telah terisi penuh oleh berbagai lauk dan juga nasi.
Saat Daffa ingin menyantap suapan pertamanya, tiba-tiba ayahnya menghentikan pergerakan tangannya. "Tunggu dulu, Daffa..."
"Hm?" Daffa tampak kebingungan.
"Kalau begitu, ayah tidak mengizinkanmu ikut ekstrakurikuler renang. jadi, lebih baik kamu segera keluar dan bergabung ke ekstrakurikuler sepakbola. Kamu tau sendiri kan? Kalau kamu itu lebih hebat dalam bermain bola," ucap ayah Adi terus terang.
"Hah...?! Kenapa ayah memakasa begitu? Terserah aku lah mau ikut yang mana..." Ucap Daffa dengan wajah yang tampak kesal.
"Apa?! Jadi kamu tidak mau menuruti apa kata ayah?" Balas ayah Adi.
Ibu Ayu yang melihat ada perdebatan antara mereka berdua, ia pun hendak menenangkannya. "Sudahlah, sudah..." Ucapnya dengan lembut dan pelan.
Namun sepertinya Daffa dan ayah Adi mengacuhkannya.
"Pokoknya kamu harus gabung ke eskul sepakbola!" Ucap ayah Adi dengan nada tinggi.
"Gak... Aku akan tetap ikut eskul renang!" Balas Daffa dengan nada tinggi.
Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain dengan wajah yang tampak kesal. "Grrrr....!"
Di saat yang sama, terlihat ibu Ayu yang tiba-tiba sedikit menggeser kursinya ke belakang dan kemudian ia berdiri dari tempat duduknya.
Daffa dan ayahnya pun sama-sama menoleh ke arah timbulnya suara kursi tersebut.
Daffa dan ayahnya tampak sangat kaget ketika mereka melihat ke arah ibunya Daffa. Seketika ekspresi wajah mereka berdua berubah drastis menjadi ketakutan.
"Se-seram..." Gumam Daffa dan ayahnya saat melihat wajah ibunya.
__ADS_1
Bersambung....