
Di suasana kantin sekolah yang amat ramai, terlihat Daffa berjalan di tengah-tengah murid lain yang nampaknya sedang memakan makanan mereka, dan ada juga yang sedang mengobrol.
Daffa berjalan menuju ke arah Ridho dan Farrel sambil membawa bekalnya itu dan di dampingi botol air mineral yang ia beli tadi di kantin.
Ketika Daffa hampir sampai di depan mereka dan hanya beberapa langkah lagi, nampaknya Farrel mengatakan sesuatu dari tempat duduknya.
"Sini-sini, lo pasti lapar yah..." Ajak Farrel.
Sesaat setelahnya, terdengar suara Daffa yang menaruh bekal dan minumannya di atas meja. Dia tampak kebingungan ketika melihat mereka berdua. "Lah... Aku duduknya dimana... kalau bangkunya aja cuma ada dua."
"Kan gue udah bilang sini, astaga..." Farrel menghela nafasnya selagi menepuk jidatnya.
"Di pinggir kamu maksudnya?" Tanya Daffa.
"Lah terus?..." Jawab Farrel. "Lo mau makan enggak sih?" Lanjutnya.
"Eh iya-iya, aku mau...." Balas Daffa.
Farrel tampak menggeser sedikit posisi duduknya dan itu membuat setengah bagian dari bangku tersebut kosong.
Daffa pun kemudian duduk tepat di sampingnya Farrel sembari memindahkan bekal dan minumannya ke bagian depannya. Daffa dan Farrel nampaknya duduk di bangku yang sama.
Daffa segera membuka bekal makanannya dan kemudian langsung memakannya menggunakan sendok.
"Daffa, kamu pasti sangat lapar karena kejadian tadi pagi kan? Hehe..." Ejek Ridho dengan tawaan. "Makanya jangan sering-sering nipu orang, jadinya kena karma kan?... Haha..." Sambungnya.
"Sstt! Sstt! Dho, lo jangan begitu.... Kasihan, Daffa lagi makan enak-enak malah dikatain begitu." Sela Farrel sembari mengelus-elus rambutnya Daffa. Namun mukanya tampak tersenyum seperti ingin tertawa.
"Lepasin, lah! Aku bukan anak kecil." Ucap Daffa tegas selagi mengunyah makanannya.
Farrel pun melepaskannya dan tidak lagi mengelus-elus rambutnya Daffa sesuai permintaannya Daffa.
"Jadi, apa yang terjadi dengan mereka berdua pagi tadi? Tanya Farrel dengan tenang.
"Maksudmu Fandi dan juga Syifa?" Daffa bertanya balik. selagi mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Iya lah... Siapa lagi kalau bukan mereka?" jawab Farrel sembari menganggukkan kepalanya.
Daffa belum menjawabnya karena masih mencoba menelan makanannya yang tadi ia lahap terlalu banyak.
Sementara itu, Ridho tampaknya ingin mengucapkan sesuatu. "Yang kalian maksud itu... Yang banyak murid-murid bergerombol di depan sekolah ya...?" Ridho bertanya selagi memegang handphonenya.
Farrel mengangguk kembali untuk kedua kalinya sebagai jawaban darinya.
Tak lama kemudian setelah Daffa yang tak kunjung mengatakan sesuatu, Farrel sepertinya tampak kesal. "Oi Daffa, jawab lah..."
Beberapa detik setelahnya, terlihat Daffa yang berhasil menelan semua makanan di mulutnya. Kemudian Daffa mengambil botol air mineralnya dan meminumnya setelah membuka tutup botolnya.
Baru setelah itu dirinya menjawab perkataan Farrel. "Oh... Mereka berdua ya...? Yah... Aku sempat dibuat kaget beberapa kali ketika melihatnya." Terang Daffa. "Intinya sih... Fandi di tolak dengan sangat-sangat... Yah begitulah, aku yang melihatnya aja sampai malu sendiri." Sambungnya.
"Gak salah lagi," balas Farrel.
"Itu sudah pasti, karena dari dulu aku sering melihatnya," balas Ridho.
"Tapi, aku merasa aneh lah..." Ucap Daffa.
"Aku melihat Fandi yang bertingkah laku aneh seperti sangat kesal setelah ditolak sama Syifa. Aneh kan...?" jawab Daffa.
"Itu wajar saja," ucap Farrel.
"Tidak-tidak, bagiku itu sangat aneh," balas Daffa.
"Memang sudah sewajarnya kalau dia itu marah," ucap Farrel.
"Aneh..."
"Wajar..."
"Aneh....!"
"Wajar....! Makanya sana, lo coba sendiri." Farrel tampaknya sedang berdebat dengan Daffa.
__ADS_1
"Betul juga tuh. Nah, Daffa... Mending sekarang juga kamu balik ke kelas, lalu kamu lakukan seperti yang dilakukan sama... Siapa itu namanya? Oh iya, Fandi. Barangkali... hasilnya beda, kan?" Sela Ridho di saat Daffa dan Farrel tengah debat.
Daffa yang mendengar perkataannya Ridho, ia terlihat melanjutkan memakan makanannya.
"Aku tidak tertarik, lah..." Dari tampang wajahnya, sepertinya Daffa tidak niat mengucapkannya selagi dirinya masih mengunyah makanannya.
Sekilas wajahnya Ridho dan Farrel tampak kaget dengan tatapan mata mereka yang tertuju ke arah Daffa.
"Ya ampun, ya ampun... Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu setelah menjatuhkan seorang gadis bernama Syifa di kamarmu..." Ridho dan Farrel kompak mengucapkannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Seketika seluruh tubuhnya Daffa langsung berhenti bergerak sesaat setelah ia mendengar ucapan mereka berdua.
Dengan muka yang agak memerah karena malu, Daffa pun kemudian membalas perkataan mereka berdua, "Kalian berdua yang hanya tau dari cerita orang dan tidak melihat kejadiannya secara langsung, mending diam aja dah..."
"Emang begitu kenyataannya, lo jangan ngelak dah," ucap Farrel.
"Entah apa yang terjadi jika aku sama Farrel ikut keluar juga dari rumahnya kamu pada saat itu," ucap Ridho setelah Farrel selesai bicara.
Daffa merasa sangat kesal dan geram mendengar ucapan mereka. "Udah kubilang... Itu hanya kecelakaan!"
Farrel membuang wajahnya ke arah lain lalu berkata, "Ohhh... Cuman kecelakaan...." Raut wajahnya seperti menertawai Daffa karena tidak percaya.
"Huhuhu...." Ridho membuatnya menjadi tambah ramai.
"Kalian ini...!" Daffa tampak sangat kesal.
"Iya deh iya, kita berdua percaya kok. Ya udah, cepet dilanjutin makannya, kasihan tuh nasinya pada menjerit ingin dimakan." Ucap Ridho yang mencairkan suasana.
Tanpa membalas sepatah kata pun, Daffa pun kemudian segera menghabiskan makanan yang ada di dalam bekal tersebut.
Setiap waktu, Daffa menyelinginya dengan meminum air supaya dadanya tidak terasa serat.
Dan di saat suara bel sudah berbunyi tanda bahwa waktu istirahat telah usai, Daffa, Ridho, dan Farrel, mereka bertiga bersama-sama berjalan menuju ke arah kelasnya.
Bersambung....
__ADS_1