Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 69 : Bertemu Dengan Sang Nenek


__ADS_3

Tak berselang lama setelah Risma cabut dari tempat, mereka pun kembali berjalan dengan Daffa yang mengawalinya.


Hari yang semakin panas dikarenakan silaunya cahaya matahari yang berada tepat di atas mereka, keringat mulai tampak bercucuran di saat cahaya matahari menggoreng kulit mereka, Syifa tak kuat lagi menahan panasnya dan itu sebabnya ia mengeluarkan sebuah payung kecil lalu memberikannya kepada Fasa.


Di panas terik matahari itu, mereka terus melangkahkan kakinya secara bergantian dan tak lama lagi mereka akan sampai di rumah neneknya Daffa, rumah itu sudah terlihat cukup jelas dari sudut pandang mereka ketika berjalan.


Namun sepertinya ada yang sedikit berbeda dengan sebelumnya, Syifa mencoba untuk menjauhi Daffa karena rasa kesalnya masih terasa di dalam dirinya.


Jarak 2 meter ada pada di antara mereka, Syifa hanya memandangi arah sampingnya yang penuh dengan pemandangan alam, sesekali ia melirik untuk memperhatikan gerak kakinya Daffa dari belakang.


Langkah kaki Daffa tiba-tiba terhenti di saat Syifa sedang tak melihatnya tetapi untungnya ia berhasil mengerem tepat sebelum menabrak Daffa. "Kenapa jauh-jauh?"


"Hmph! Gak apa-apa..." Balas Syifa sambil membuang mukanya.


Daffa membalik badan lalu ia menatap wajahnya Syifa. "Apa kamu lupa sama perkataanmu sendiri?"


"Entahlah... Aku gak tau," Syifa berpura-pura tak tahu dan mengelaknya.


"Kamu kan harus berpura-pura saat berada di depan nenek." Ucap Daffa.


Syifa hanya berdiam diri tak membalas sepatah kata pun dan masih saja membuang mukanya dari Daffa, hatinya sudah terlanjur terluka terlebih dahulu.


Daffa kebingungan melihat sikap Syifa yang cuek terhadapnya, lama kelamaan ia mulai sedikit merasa cemas akan keberlangsungan rencananya.


Otaknya tengah berpikir keras mencari sebuah kata yang cocok untuk dikatakan dari mulutnya agar Syifa tidak merajuk lebih lama lagi. Tak butuh waktu lama Daffa sekilas menemukannya akan tetapi ia ragu-ragu untuk mengucapkannya kepada Syifa.


Daffa bingung berhasil tidaknya perkataan yang sudah dihafalkannya hingga terngiang-ngiang dibenaknya, ia berulang kali memotivasi diri sendiri untuk lebih berani bertindak.


Satu menit mungkin sudah ada, mereka berdua tetap berdiri di tempat yang sama tanpa berkata apapun, Fasa yang melihatnya pun sampai dibuat heran hingga mencibirkan bibirnya.


Walaupun perasaannya sangat malu tapi Daffa akhirnya tetap memberanikan diri untuk mengatakan kalimat yang sudah ada di kepalanya, tarikan nafas yang panjang pun ia lakukan.


Daffa menarik salah satu tangannya Syifa, ia genggam dengan sangat lembut. Syifa langsung menoleh ke arahnya ketika tangannya yang tiba-tiba di tarik.


Sebelum itu Daffa tersenyum lebar duluan bersamaan dengan suasana sekitar yang tiba-tiba menjadi dingin. "Tenang aja, di hatiku cuma ada kamu..."


Dag,


Dig,

__ADS_1


Dug,


Mereka menjadi seperti patung sesaat, tak ada yang bergerak kecuali kepala mereka yang sedikit bergerak hanya karena salah tingkah. Pipi mereka memerah, wajahnya dipenuhi keringat dingin. "Apa dia menyatakan perasaannya?" Gumam Syifa dalam hati.


Suasana hati Syifa seketika berubah, perasaan yang aneh mulai bermunculan pada dirinya di saat dadanya terasa sesak dan berdebar sangat kencang. "Kalau itu memang benar, itu sangat menyenangkan..."


Senyuman lebar yang terlihat sangat manis terbentuk di wajahnya, Syifa sangat senang hingga satu tetesan air mata kebahagiaan jatuh ke tanah.


"Baik!" Balas Syifa dengan nada cukup tinggi hingga terdengar sangat nyaring.


Setelah beberapa menit mereka tak berdiam diri di tempat lagi, Daffa kembali berjalan sambil menarik salah satu tangan Syifa dengan pelan. Syifa yang suasana hatinya sedang sangat baik, lantas ia menggenggam tangan Daffa dengan sangat erat.


Daffa tertawa kecil di hati sebagai rasa kelegaan. Rasa kekhawatiran Daffa yang tadi telah menghilang, tetapi kini malah berganti dengan perasaan sangat memalukan yang mungkin akan terasa sampai lama. "Huh, pokoknya jangan sampai bawa perasaan... Kalau tidak nanti bisa-bisa gagal." Gumam Daffa dalam hati.


Dalam hatinya Daffa terus mengucapkan kata tersebut berulang kali di sepanjang perjalanan, itu semua ia lakukan agar dirinya tak lupa dengan tujuannya.


Fasa tampak tersenyum-senyum sendiri melihat pipi mereka berdua yang memerah diwaktu bersamaan. "Kak Daffa dan kak Cifa mesra-mesraan?"


"Tidak!" Daffa dan Syifa sontak berteriak mengelaknya secara bersamaan.


***


Tap...


Tap...


Mereka akhirnya menapakkan kedua kakinya di rumah neneknya Daffa tepatnya di depan pintu rumah.


Fasa tampak turun dari pinggang kakaknya, dia lebih suka berjalan sendiri dibandingkan diemban karena lebih leluasa bergerak. Setelah menurunkannya Syifa kembali memasukkan alat-alatnya satu per satu yang barusan dipakainya.


Mereka bertiga saling berdiri berdempetan di depan pintu rumah tersebut. Sebelum mengetuk pintu, Daffa membicarakan suatu hal kepada Syifa dengan berbisik pelan.


"Ingat ya, hanya pura-pura." Bisik Daffa pelan tapi terdengar oleh Syifa.


"Okeh, serahkan saja padaku." Balas Syifa dengan percaya diri.


Tok!


Tok!

__ADS_1


Tok!


Daffa lalu mengetuk pintunya secara beruntung dengan cukup pelan sembari mengucapkan salam.


Tap,


Tap,


Tak berselang lama terdengarlah langkah kaki seseorang dari dalam rumah yang mendekat, seseorang tersebut hendak membuka pintu yang terkunci itu.


Kreek!


Pintu itu terbuka perlahan demi perlahan, tertampaklah seorang lansia yang berkulit putih keriput dari balik pintu tersebut, itu adalah nenek Sumi atau neneknya Daffa.


Nenek sumi melangkah keluar dengan jari tangannya yang masih menempel di pintu, ia melihat mereka bertiga dari dekat namun wajahnya terlihat begitu biasa-biasa saja. "Siapa? Daffa?" Tanya nenek Sumi seraya mengerutkan alis.


Syifa keheranan melihat nenek Sumi tak mengenali wajah cucunya sendiri.


Nenek sumi mengerutkan alisnya karena pandangan matanya yang terlalu buram untuk melihat, ternyata ia lupa belum memakai kacamatanya terlebih dahulu.


Belum satu detik setelah memakainya, nenek Sumi agak kaget ketika melihat sangat jelas cucunya yaitu Daffa yang tengah bersama dengan dua orang perempuan lain yang satu putih cantik yang satunya lagi sangat mungil, sudah begitu mereka juga tampak saling menggenggam tangan dengan begitu erat.


"D-daffa, yang ada di sampingmu itu siapa?" Tanya nenek Sumi dengan terbata-bata.


"Sesuai permintaan nenek, aku ke sini bersama pacarku." Jawab Daffa tenang tanpa basa-basi, tapi nyatanya ia sangat mual dengan ucapannya sendiri.


Sang nenek terkejut bukan main, matanya melebar membentuk bulatan dengan wajahnya yang tampak begitu tercengang. "Apaaa!?" Teriak Nenek Sumi.


Braaakk!


Sang nenek berteriak karena terkejut hingga tangannya spontan menggebrak pintu rumahnya ke arah luar dengan suara yang begitu keras.


Yang sedang di dalam rumah pun juga ikutan kaget karena munculnya suara keras secara beruntun.


Suara keras teriakan nenek beserta gebrakan pintu mengundang rasa kepenasaran ayah dan ibunya Daffa yang tengah duduk santai di dalam rumah sang nenek. Mereka berdua langsung berjalan cepat menghampiri nenek Sumi.


Ketika Ayah Adi dan Ibu Ayu telah berdiri tepat di belakang sang nenek seketika raut wajah mereka berubah, ekspresi mereka hampir sama halnya nenek Sumi ketika melihatnya akan tetapi ayah Adi melebih-lebihkannya.


Sepertinya hanya ibu Ayu lah yang tak begitu terkejut ketika melihat kehadiran seorang Daffa bersama dengan Syifa dan juga Fasa. "Daffa, sama Syifa?" Ucap ibu Ayu yang sedikit merasa kebingungan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2