Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 35 : Pagi Yang Amat Ramai


__ADS_3

Daffa melangkahkan kakinya ke arah bangku taman itu. Di atas bangku taman itu, Ia tampak mengambil plastik bekas kemasan roti dan botol mineral yang sudah tidak ada lagi air yang tersisa di dalamnya.


Kemudian Daffa membuangnya di tempat sampah yang berada di pinggir bangku taman itu.


Setelah membuangnya, Daffa terlihat tengah membersihkan tangannya dengan cara saling menepuk-nepukkan kedua tangannya satu sama lain. Sedangkan keduanya matanya hanya terfokus pada mobil yang mereka tumpangi berjalan semakin menjauhinya.


"Aku juga pulang, ah..." Ucap Daffa yang tengah membersihkan tangannya itu.


Daffa terlihat sedang meregangkan tangan dan kakinya, setelah itu ia kemudian melompat-lompat beberapa kali ke udara. "Ya... Lumayan buat olahraga di sore hari." Ucap Daffa pelan yang kemudian ia melangkahkan kakinya dengan panjang ke arah depannya. Daffa berlari di pinggir jalanan itu.


***


Berselang beberapa puluh menit, Daffa terlihat tengah berusaha membuka kunci pintu rumahnya. Dia kini sudah sampai di rumahnya dengan nafasnya yang terengah-engah.


Tangannya menggenggam sebuah botol air mineral yang isinya sudah hampir habis karena telah diminum olehnya. Badannya juga tampak dipenuhi oleh bau keringat yang menyengat di hidung.


Daffa membeli botol minum itu saat dirinya mampir kembali ke toko roti yang tadi, sebelum ia sampai di rumahnya.


Setelah masuk melewati pintu rumahnya, Daffa kemudian menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Daffa menyalakan kipas angin dan menaruhnya tepat di depannya. Dia duduk berlunjur di depan kipas angin itu seraya melepas bajunya yang terlihat basah karena terkena keringatnya. Lama kelamaan, kedua matanya terlihat menutup karena saking terasa nyaman terhadap suasana dinginnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara Ibu Ayu dan Ayah Adi dari luar rumah, lalu Ibu Ayu membuka pintunya dengan kunci yang di bawanya.


Mereka berdua kemudian masuk ke rumahnya bersama-sama secara bergantian. Ayah Adi masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, sedangkan Ibu Ayu terlihat sedang berjalan ke arah tangga.


"Daffa?... Kamu ada di kamar?..." Tanya Ibu Ayu sembari menaiki tangga dan menuju ke kamarnya Daffa.


"Iya, bu." Sahut Daffa singkat.


Ibu Ayu pun membuka pintu kamarnya Daffa yang tidak di kunci itu, setelah ia sampai di depannya.


Dia melihat Daffa yang tengah asyik angin-anginan di depan kipas angin itu.


Sesaat setelah membuka pintu kamarnya Daffa, ia tampak menghirup bau yang menyengat di hidungnya. "Ihh... Bau sekali..." Ucapnya seraya menutup hidungnya dengan tangannya.


Daffa tidak mengatakan apapun, dia masih saja menikmati rasa nyamannya itu di depan kipas angin dengan posisi yang tidak berubah sedari tadi.


"Daffa! Kamu belum mandi yah?!... Cepet sana mandi! Terus bersihin seluruh badannya kamu," suruh ibu Ayu dengan tegas kepada Daffa.


"Baiklah..." Balas Daffa tidak niat. Dia menuruti perkataan ibunya.


Daffa berdiri di tempat, kemudian ia mematikan kipas anginnya lalu berjalan keluar kamarnya dan menuju ke kamar mandi yang ada di lantai bawah rumahnya.

__ADS_1


"Dasar, tuh anak habis ngapain ajah sihh sampai-sampai segitunya." Ucap ibu Ayu lirih. Dia berbicara kepada diri sendirinya sembari menggelengkan kepalanya saat melihat Daffa berjalan menuruni tangga.


***


Keesokan harinya,


Byurr... Byurr... Byurr...


Terdengar suara Daffa yang sedang mandi di kamar mandi. Dia mandi supaya badannya menjadi segar dan fresh kembali setelah tidur semalaman.


Daffa keluar dari pintu kamar mandi tersebut dengan hanya menggunakan handuk yang tampak melilit tubuhnya. "Dingin banget anjir..." Tubuhnya Daffa terasa gemetaran karena kedinginan.


Daffa pun berlari menuju ke kamarnya dengan gemetaran. Dia hendak memakai pakaian sekolah atau lebih tepatnya pakaian pramuka karena hari ini adalah hari jum'at.


"Ahh... Gak terasa udah mau berangkat ke sekolah lagi ajah... padahal kan baru aja kemaren aku bertemu dengan Fasa, eh tiba-tiba udah pagi ajah." Gumam Daffa yang tengah memakai pakaiannya di depan kaca.


Beberapa menit kemudian, Daffa pun terlihat sudah rapi menggunakan pakaiannya.


Daffa tampak sedang melihat-lihat wajah kembarannya di kaca yang ada di kamarnya.


"Huh, Baiklah!... Sekarang waktunya aku berangkat sekolah." Ucap Daffa yang mengobarkan semangatnya karena dua hari besok akan libur.


Saat Daffa mengambil tas miliknya, ia tampak melihat kain hitam yang berada di atas kasurnya. Daffa melepaskannya saat dirinya ingin mandi, lalu ia menaruhnya di situ.


"Eh bentar, bukannya kalau di bawa ke sekolah itu terlihat sangat aneh?" Ucap Daffa yang dirinya hendak mengikatkan kain itu di lengannya.


"Mending gak usah deh. Kalau di pakai ke sekolah yang ada malah diketawain sama murid-murid lain," ucap Daffa.


Daffa tidak jadi memakainya dan melemparkannya kembali ke atas kasurnya. Dia kemudian terlihat berjalan keluar dari kamarnya.


Daffa berpamitan dulu dengan kedua orang tuanya sebelum berangkat ke sekolahnya. Dan di saat itulah dia diberikan uang saku oleh ibunya.


"Daffa berangkat dulu..." Ucap Daffa seraya berlari melewati pintu rumahnya.


"Hati-hati di jalan!..." Teriak Ibu Ayu dan Ayah Adi secara bersamaan.


Hari ini Daffa berangkat sekolahnya lebih pagi dari hari-hari sebelumnya, sebab ia semalem tidurnya tepat waktu, jadi bangunnya juga lebih awal.


"Oh iya, kemaren tugas matematika dari Bu Fitri udah di kumpulin sama Charla apa belum yah? Kan dia yang tiba-tiba membawanya pergi lalu berlari pulang begitu saja," ucap Daffa dengan lirih saat dirinya sedang berlari menuju sekolahnya.


"Logikanya sih mana mungkin dia melupakannya, kan dia terlihat seperti berteman dengan buku." Gumam Daffa dalam hatinya.


Berselang beberapa menit kemudian, saat Daffa hampir sampai di sekolahannya. Dari luar sekolahnya ia melihat banyak siswa-siswi yang bergerombol di seluruh pinggir jalan masuk menuju gedung sekolahnya. Daffa tampak terheran-heran dan penasaran setelah melihatnya.

__ADS_1


Langkah kakinya terlihat mulai memendek. yang tadinya berlari sekarang ia malah berjalan dengan santai karena melihat siswa-siswi lain itu yang tampak bergerombol rapih di pinggir jalan. "Ada apa itu? Kok mereka semua pada berkumpul?" Daffa penasaran.


Dengan rasa penasarannya, Daffa pun berjalan menuju depan pintu gerbang sekolahnya.


Dan saat Daffa sampai tepat di depan pintu gerbang sekolahnya, tampak terdengar seseorang memanggilnya dari belakang.


"Hey, Daffa!" Ternyata itu adalah Farrel.


Daffa kemudian menoleh ke arah belakangnya. "Farrel? Iya, kenapa?"


"Ada apa ini? Kok pagi-pagi udah rame sekali? Emangnya mereka pada ngapain sampai-sampai kompak berdiri di seluruh jalan masuk menuju gedung?" Farrel bertanya-tanya kepada Daffa.


"Aku juga gak tau," jawab Daffa.


"Hm, mungkin saja mereka ingin melihat kita yang berjalan masuk ke sana," dengan percaya dirinya Farrel berkata seperti itu.


"Mana mungkin lah," ucap Daffa dengan muka datar.


"Ya udah, gimana kalau kita coba ikut-ikutan masuk ke gerombolan mereka lalu bertanya kepada mereka," usul Farrel.


"Boleh juga," balas Daffa.


Dengan bersamaan, mereka berdua pun berjalan melangkah melewati gerbang sekolah, lalu mereka langsung masuk ke dalam barisan yang di sebelah kanan.


Farrel terlihat menepuk salah satu siswa yang ada di sampingnya. "Bro, ini kenapa kok pada ngumpul begini?"


"Iya ada apa ini?" Daffa ikut bertanya.


"Apa kalian tidak tahu? Si Fandi itu mau menembak Syifa di depan sini." Jawab seorang siswa.


"Mati dong..." Ucap Daffa.


"Yang dia maksud bukan menembak dengan pistol, bodoh! Tapi dengan perasaan," balas Farrel dengan lantang.


"Oh...."


Farrel kemudian tampak sedikit menundukkan kepalanya. "Fandi? siapa itu?" Ucap Farrel lirih, ia terlihat kebingungan. Farrel tampak melirik ke arah Daffa sambil berkata, "Daffa, lo kenal dengan yang namanya Fandi?"


"Fandi? Aku tak kennnn.... Eh?" Daffa mengingat sesuatu.


"yang bener, lo kenal gak?..." Farrel mengulangi pertanyaannya lagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2