
Sambil ditemani sejumlah buku yang tertata rapi di sekeliling, di ruangan itu mereka duduk bersama membentuk sebuah lingkaran, di satu meja bundar yang cukup lebar.
Tak lama kemudian, secangkir teh hangat tiba-tiba datang oleh seorang pustakawan yang sedang menjaga, dia taruh cangkir itu di dekat Daffa.
"Terima kasih."
Syifa terus memerhatikan paras pustakawan itu. "Aku masih tidak menyangka, ternyata Charla yang bersukarela menjadi pustakawan di perpustakaan ini." Takjub Syifa.
Ternyata Charla adalah salah satu pustakawan di sekolahnya Daffa. Saat itu Charla hanya menundukkan kepalanya, setelah mendengar perkataan yang sangat memalukan dari Syifa.
"Iya, aku juga tidak menyangka. Memangnya sejak kapan, Charla?" Tanya Bella.
"E—eh ... Baru-baru ini, kok."
"Oh ... Kami baru tau, hehe."
Karena Charla merasa sangat canggung, ia kemudian buru-buru hendak melangkah pergi dari tempat mereka.
"Charla, tunggu! Sini dulu, kita duduk bareng-bareng." Ajak Vira.
Akan tetapi sesaat sebelum menjalankan niatnya itu, ia terlebih dahulu diundang teman sekelasnya untuk duduk bersama dengan mereka.
Awalnya Charla memang menolak, tapi lambat laun ia menurutinya karena terus-terusan diajak oleh mereka semua. Charla pun kemudian duduk di antara mereka.
5 menit berlalu, tapi suasana di ruangan itu tetap tidak berubah sama sekali sejak tadi.
Vira melihat sekelilingnya, ia melihat teman-temannya yang fokus dengan kesibukan masing-masing.
Melihat hal itu, membuat Vira mencoba untuk mencari suatu topik pembicaraan yang pas, agar suasana di antara mereka tak seterusnya hening seperti ini.
"Daffa, kenapa kamu tidak makan di kantin aja, ketimbang bawa bekal makanan dari rumah?" Tanya Vira.
"Ya ... Kan, aku harus berhemat." Jawab Daffa pelan.
Beberapa temannya serentak bertanya. "Berhemat? ... "
"Kita kan, akan ke pantai minggu ini ... Jadinya aku berhemat oh, buat ngumpul-ngumpulin biayanya."
Vira paham. "Oh ... Ternyata begitu."
Syifa terus melihat sosok Daffa dengan wajah belas kasih. Ia yang juga mendengarnya, dirinya merasa ingin membantunya secara langsung.
"Daffa, tenang saja ... Biar aku yang membantumu membayar semuanya!" Syifa mengucapkannya dengan sangat semangat.
"Tidak-tidak, aku tidak mau merepotkanmu."
"Heh ... Padahal tidak merepotkan sama sekali."
Daffa menghela napas, ia mengambil cangkir teh panas di depannya. Kemudian ia menyeruput teh tersebut dengan pelan-pelan.
__ADS_1
Daffa menaruhnya kembali dengan mengatakan sesuatu. "Tidak ya tidak, aku bisa membayarnya sendiri."
"Ah, baiklah kalau begitu." Balas Syifa dengan perasannya yang sedikit kecewa.
Daffa kemudian terdiam untuk menyejukkan hati. Akan tetapi belum ada lima detik, lagi-lagi ia dibisingkan oleh kedua teman lainnya.
Plak!
Suara hentakkan meja.
"P—p–p–pantai!? ... " Ridho dan Farrel berteriak di saat yang terlambat.
Matanya melebar dan melotot ke Daffa, mereka berdua mendadak kegirangan ketika mendengar kata pantai.
Daffa terkaget. "Oh, gawat! Aku keceplosan di depan mereka." Batinnya.
Syifa kemudian menjawab kepanasan mereka. "Oh, iya. Kalian belum tau, ya? ... Jadi nanti tuh, kita yang anggota ekskul renang, akan mengadakan tour sendiri menuju ... Pantai!"
Wussshh ... !
Syifa membicarakannya sambil dengan menghayati pemandangan dan suasana di pinggir laut.
"Waaaaawww ... !"
Matanya berbinar-binar, Ridho dan Farrel jadi ikut membayangkan bagaimana suasananya di pantai khayalannya.
Daffa menganga mulutnya, ternyata reaksinya sama halnya dengan mereka berdua, karena Daffa sebenarnya juga sangat menantikannya.
"Oh, iya. Omong-omong ... Kalian semua yang ada di sini semua pada ikut ekskul renang, kan? Kecuali aku, Farrel, dan Melly." Tanya Ridho dengan pelan.
Syifa langsung membalasnya. "Iya, itu benar. Memangnya kenapa?"
"Kalau begitu ... Aku mau ikut, bisa?!" Tanya Ridho dengan nada yang cukup tinggi.
"Hehe, aku juga mau ikut." Farrel mengikuti perkataannya, wajahnya tampak tersenyum-senyum sendiri.
Mereka berdua bersama-sama mendesak Syifa, agar mereka juga ikutan seperti yang lainnya.
Seorang di antara mereka tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, ketika Ridho dan Farrel tengah ribut sendiri. Ternyata orang itu adalah Melly.
Namun mereka berdua seakan-akan kaget dan langsung terdiam, saat melihat wajah Melly yang tampak tersenyum tipis. Entah mengapa itu bikin merinding mereka yang melihatnya.
Tak lama kemudian, Melly perlahan-lahan mengangkat salah satu tangannya ke atas, lalu mengucapkan sesuatu. "Kalau begitu, aku juga mau ikut, boleh?"
Mereka menghela napas sangat lega, terutama Ridho dan Farrel. "Kamu bikin merinding saja ... "
"Eh, aku? ... Maaf-maaf, aku kalau lagi senang sukanya memang begini, hehe ... " Jelas Melly, ia menepuk kepalanya sendiri sambil tertawa kecil.
"Oh ... Ternyata karena senang, aku kira apaan."
__ADS_1
"Iyah."
Meskipun telat, Syifa tetap menjawab perkataan mereka bertiga. "Boleh kok, boleh banget malahan."
"Wahh ... Beneran ini?"
Daffa tiba-tiba menyela. "Eh, tunggu-tunggu. Kok, kamu yang memutuskannya sendiri? Aku dan yang lainnya juga belum bilang setuju sama sekali."
"Aku setuju, kok."
"Sama."
"A–aku ikut apa kata mereka aja."
Ternyata yang lain juga setuju dengan Syifa. Hal itu, membuat Daffa menjadi kebingungan, karena hanya dirinyalah yang beranggapan lain dengan teman-temannya.
Tak lama kemudian, Daffa sepertinya sudah mulai gugup, ketika sedang berpikir akan mempertahankan pendapatnya dengan berbicara seperti apa. Setidaknya itu untuk beberapa saat saja.
"Tapi, kan ... Mereka tidak ada hubungannya dengan ekskul renang."
"Gak usah ngeyel deh, Daffa ... Lagian aku juga yang membiayai semua transportasi kita ke tempatnya." Syifa berwajah marah ke Daffa.
"Iya deh, iya ... Aku mengalah." Ucap Daffa tidak niat yang kemudian ia hanya terdiam.
"Sebenarnya ada hubungannya juga, kok. Mereka semua kan, teman kita."
"Dan juga, lebih ramai itu lebih asyik!" Syifa sudah seperti ibunya Daffa saja, terus menasehati nya sampai terdiam.
Farrel tiba-tiba menyela perkataan Syifa. "Nah tuh, Daffa ... Dengarkan apa kata Syifa. Emangnya kamu menganggap kita itu, apa dah?"
"Jahat banget kamu Daffa, aku nangis nih." Sambung Farrel yang sepertinya sedang meledek Daffa, ia mengkerutkan bibirnya sambil berpura-pura menangis.
Melihat wajah Farrel, membuat Bella menjadi jengkel sendiri. "Kamu gak usah lebay, deh." Ucapnya sambil menjewer telinganya Farrel.
"Ad–duh, iya-iya ... Aku akan diam saja."
Bella langsung melepaskannya setelah mendengarnya.
Beberapa saat berlalu, suasananya menjadi hening seketika. Itu semua karena perilaku Daffa yang aneh akhir-akhir ini.
Saat ini pandangan mereka semua mengarah pada Daffa. Mereka benar-benar tertegun melihatnya, hingga tak bisa mengatakan apapun.
Kelopak matanya Daffa tampak melebar, matanya juga membulat terang, dan sudah sejak tadi tatapannya terus mengarah ke satu titik, yaitu ke arah meja. "T—teman? Dia tadi bilang teman?!" Batinnya.
itulah yang membuat teman-temannya merasa takut dan keheranan.
Salah satu tangannya Daffa memegang dadanya sendiri, entah mengapa hatinya malah berdegup begitu kencang di saat-saat ini.
"Masih bisa-bisanya dia berbicara teman. Hei, Syifa! Sadarlah. Ada pengkhianat di sini. Iya, ada pengkhianat di antara mereka ... " Batin Daffa.
__ADS_1
Bersambung ....