
"A-aneh sekali..." Gumam Daffa ketika melihat pak Toni yang sedang berjalan ke arah ruang guru.
Setelah beberapa detik, pandangannya kembali ke arah depan. "Huft, aku juga akan pulang." Ucap Daffa yang kemudian ia berjalan ke arah depan.
Namun baru saja Daffa berjalan beberapa langkah, tiba-tiba langkahnya terhenti di tengah jalan. "Tunggu sebentar."
"Mungkin aku akan ke aula sekolah dulu sebentar deh, setelah itu langsung pulang." Gumam Daffa.
Daffa terlihat berbalik badan. "Yosh! Aku akan ke aula terlebih dahulu." Dilihat dari wajahnya sepertinya semangatnya sedang berkobar walau hanya beberapa detik saja.
***
"Walaupun begitu, aku sama sekali tidak mengerti!" Gumam Daffa dalam hatinya.
Semangatnya sepertinya menurun dan raut wajahnya tampak sedikit kecewa sesaat setelah dirinya sampai di depan aula sekolah.
"Huft... Kenapa tidak ada yang menarik," ucap Daffa dengan lirih.
Tepat dihadapan wajahnya Daffa terdapat papan pengumuman yang banyak poster-poster ditempelkan di situ. Ada juga selain poster papan pengumuman tersebut.
Dilihat dari mukanya, sepertinya Daffa sedang serius membacanya satu per satu sampai semuanya telah selesai ia baca.
Sementara itu, Dari kejauhan terlihat ada seseorang murid yang terus-terusan memperhatikan Daffa dari tadi.
Dilihat penampilannya dari bawah, terlihat sepatu berwarna hitam yang menginjak lantai. Ke atas sedikit, ternyata ia mengenakan rok berwarna coklat. Ke atas lagi, ia tampak mengenakan pakaian pramuka seperti murid lainnya.
Lebih ke atas lagi, sepertinya ekspresi wajahnya tampak tersenyum dengan pandangan matanya yang tengah melihat ke arah Daffa. Dan di tambah lagi rambut pendeknya yang berwarna hitam.
Tak lama kemudian, siswi tersebut tampaknya menggerakkan kakinya. Ia kemudian berjalan melangkah ke arah Daffa.
Sesampainya tepat di belakangnya Daffa, ia tampak menepuk bahunya Daffa sambil berkata, "Hey, kamu!"
"Aaaa...!" Daffa berteriak kaget karena dengan tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang.
"Eh... Aku manusia lho," ucap siswi tersebut.
"Huh... Bikin kaget saja," ucap Daffa dengan wajah yang tampak lega.
Siswi tersebut melangkahkan kakinya mendekati Daffa.
Dan sesaat setelah dirinya berada tepat dihadapannya Daffa, ia tampaknya mengucapkan sebuah kalimat. "Kamu pasti sedang mencari eskul yang cocok untukmu kan?!"
"Iya kan? Betul kan? Pastinya kan?!" Siswi tersebut mengucapkannya dengan sangat cepat.
"Oi, oi! Ini kenapa ada cewek yang menghampiriku?" Gumam Daffa dalam hatinya.
"Eh... Anu..." Wajahnya Daffa tampak sangat kebingungan sampai-sampai keluar keringat dinginnya. "Kamu... Siapa ya?" Lanjutnya.
"Eh? Ah, namaku Dewi dari kelas sebelas," ucap siswi tersebut seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Daffa. "Kalau kamu?" Sambungnya.
"D-Daffa dari kelas sepuluh," jawab Daffa yang kemudian mereka berdua saling menggenggam tangan.
__ADS_1
Beberapa detik setelahnya, mereka melepaskan genggamannya. "Oh... ternyata dia adalah kakak kelas." Gumam Daffa dalam hatinya.
Kak Dewi terlihat menarik nafasnya dalam-dalam dan beberapa saat kemudian ia mengeluarkannya. "Jadi, Daffa! Kamu pasti sedang kesulitan mencari eskul yang cocok untukmu, kan?! Iya, kan? Betul, kan? Pastinya, kan?!" Ia tampaknya mengulangi kembali perkataannya.
Daffa tampaknya ingin membalas perkataannya, namun tak sempat karena omongannya langsung dipotong oleh kak Dewi. "Aku-"
"Kamu pasti tipe orang yang ingin selalu santai, kan? Iya, kan? Betul, kan? Pastinya, kan?!" Ucap kak Dewi dengan agak keras.
"Yah... Gak begitu juga sih," gumam Daffa dalam hatinya.
"Sebenarnya... ada satu eskul yang cocok untukmu. Kamu bisa bersantai-santai di sana sepuasnya, bahkan kamu bisa dengan bebas menggunakannya karena hanya sedikit anggotanya," ucap kak Dewi panjang lebar.
"Eskul apa itu?" Daffa mulai tertarik.
"Nama ekstrakurikulernya yaitu...." Ucap kak Dewi.
"Yaitu...?" Ucap Daffa.
"Renang!" Kak Dewi mengangkatkannya dengan keras dihadapannya Daffa.
"Eh? Hah?" Wajahnya Daffa tampak bingung sekaligus terkejut.
"Yap, apa lagi kalau bukan renang,"
"Bentar-bentar, tadi dia bilang renang kan?" Gumam Daffa dalam hatinya.
Tiba-tiba kak Dewi menggenggam kedua tangannya Daffa dan kemudian ia berkata, "Kamu mau, kan? Iya, kan? Iya, kan? Iya, kan?!"
"Eh...." Daffa yang melihatnya terlihat kaget, sampai-sampai dirinya tidak bisa berkata apa-apa. "D-dia dekat sekali!" Gumam Daffa dalam hatinya.
"Bayangkan saja, kamu bisa melihat gadis seumuranmu mengenakan baju renang dengan sangat seksi di kolam renang se-pu-as-nya..." Bisik kak Dewi dengan mukanya yang tersenyum licik.
Bisikannya kak Dewi terdengar sangat tajam di telinga Daffa. Seketika wajahnya tampak sedikit memerah dan tubuhnya membatu tak bergerak sama sekali.
"Bercanda deh, bercanda... Hahaha..." Kak Dewi tertawa seraya menepuk-nepuk bahunya Daffa dengan keras.
"Aku bisa gila jika berada di sini terus," gumam Daffa dalam hatinya selagi bahunya sedang ditepuk oleh kak Dewi.
Tak lama kemudian, kak Dewi pun berhenti menepuk bahunya Daffa.
"Please...! Jika tidak eskul ini akan dibubarkan, karena kekurangan anggota," ucap kak Dewi memohon dengan muka memelas.
"Dibubarkan? Aku sama sekali tidak percaya dengan perkataannya," gumam Daffa dalam hatinya.
"Kamu pasti gak tahu, kan? Ada berapa siswa laki-laki yang ikut eskul renang," ucap kak Dewi.
"Memangnya ada berapa?" Tanya Daffa.
Kak Dewi mengulurkan tangannya ke hadapannya Daffa. Kemudian ia menggerakkan jari tangannya.
"Ze-ro!" Ucap kak Dewi dengan jari tangannya yang terlihat membentuk lingkaran.
__ADS_1
"Nol?! Seriusan? Kamu pasti bohong," ucap Daffa yang tampak kaget. "Memangnya siswa yang tahun kemaren pada kemana?" Sambungnya.
"Mereka semua... Keluar," jawab kak Dewi dengan mukanya yang tampak setengah tersenyum.
Daffa diam sesaat, dirinya tampak memandang ke arah kak Dewi yang tengah tersenyum itu.
Beberapa detik kemudian, ia menggerakkan bibirnya. "Aku tidak percaya." Ucapnya.
"Eh? Hah...?" Kak Dewi tampak terheran-heran. "Seharusnya kamu itu ikut sedih untukku!" Sambungnya.
"Ya aku tidak percaya lah, mungkin saja kak Dewi berbohong agar aku bergabung," ucap Daffa.
"Eh... Mana mungkin lah, hehe..." Kak Dewi mengatakannya dengan pandangan matanya yang melihat ke kanan-kiri.
"Kenapa kak Dewi harus repot-repot mencari Anggota baru? Kan posternya sudah ditempelkan di sana," Tanya Daffa sembari menunjuknya.
"Karena kakak adalah kapten di eskul renang," jawab kak Dewi. "Selain kakak yang sebagai kapten, ada empat anggota baru dari kelas sepuluh." Lanjutnya.
"Lima orang doang?" Daffa tampak kaget setelah mendengarnya.
"Kalau kamu bergabung jadi enam," ucap kak Dewi.
"Kak Dewi," panggil Daffa.
"Iya?" Sahut kak Dewi.
"Gini, sebenernya aku sudah-" Daffa tiba-tiba berhenti berkata.
Ternyata, ia mendengar suara adzan berkumandang.
"Aku pulang duluan!" Ucap Daffa.
"Tunggu sebentar, tadi kamu mau bilang apa?" Tanya kak Dewi.
Daffa seketika langsung berlari kencang melewati kak Dewi tanpa membalas perkataannya.
"Kalau begitu, jangan lupa besok jam dua datang ke gedung kolam renang sekolah!" Teriak kak Dewi.
"Ya!" Balas Daffa selagi berlari.
Kak Dewi yang mendengarnya tampak kaget. Wajahnya pun berubah seperti sangat senang, begitu pula dengan suara hatinya, "Yes! Yes! Aku berhasil menambah satu anggota baru lagi!"
Kak Dewi tampaknya mengambil handphone miliknya dari sakunya, dan kemudian ia menyalakan layarnya. "Aku harus mengabarkan kepada mereka."
Di atas layar handphonenya terdapat tulisan yang bertulis Grup Renang. Tangannya sepertinya sedang mengetik sesuatu di keyboard handphonenya.
Dan ia kemudian memencet tombol kirim. "Sepertinya besok kita akan kedatangan anggota baru." Pesannya.
Berselang beberapa detik kemudian, tampaknya username bernama Syf membalasnya. "Baguslah kalau begitu."
Kak Dewi yang melihatnya seketika mukanya tersenyum kembali dan kemudian ia pun memandang ke langit.
__ADS_1
Bersambung....