
Di luar sangat berbeda sekali suasananya dengan di dalam rumah. Di sana begitu gelap hingga kondisinya yang begitu dingin. Tak hanya itu saja, bahkan di luar juga terdapat suara sekumpulan serangga kecil yang sangat bising ketika didengar.
Baru saja sampai, sang Nenek langsung mendorong Syifa dan Daffa. "Pertama cucu nenek sama pasangannya."
"Eh eh eh ... "
Menghadap ke arah rumah, Daffa dan Syifa saling berdiri berdekatan. Wajah Daffa seperti tertekan sekali menatap kamera.
Ayah Adi yang tengah memegang kamera dan akan memfoto mereka, ia merasa posisinya kurang tepat. "Daffa, lebih dekat lagi dengan Syifa."
Daffa sangat bermalas, ia hanya bergeser setengah langkah dari asal tempatnya. Sang Nenek yang melihat hal itu, ia segera membenahinya dengan perkataannya. "Daffa ... Kalau kamu gak cepatan, malahan nanti gak pulang-pulang."
"Baiklah ... "
"Tangannya juga saling berpegangan, biar bagus."
Daffa mendengus, ia tetap melakukannya walau rasanya terpaksa, sedangkan Syifa hanya tersenyum kecil. "Iya ... Nek."
Daffa dan Syifa berdiri sangat dekat, mereka saling berpegang tangan sambil melihat ke arah kamera.
"Senyum ... " Suruh ayah Adi.
Cekreekk!
Ayah Adi selesai memotret mereka, seketika semuanya menggerombol untuk melihat hasilnya, terkecuali Daffa.
Fasa telah melihatnya. Ia membuka lebar mulutnya dan mengeluarkan sebuah tawaan sambil menunjuk ke arah Daffa. "Kak Daffa malu-malu kucing. Haha ... !"
Daffa makin malu ketika melihat dirinya yang diketawakan oleh seorang anak yang umurnya lebih kecil darinya. Ia tak bisa menjawab apa-apa dan hanya mengeluarkan wajah gagapnya.
Syifa ikut menghampiri Daffa dengan tersenyum lebar tertampak di wajahnya. Syifa mengelus Daffa yang tengah tersipu malu itu. "Cup cup cup ... "
Fasa kaget, tangannya terasa ditarik oleh seseorang. Yang ternyata itu adalah ibu Ayu yang secara tiba-tiba menggendongnya. "Cepat, sekarang kita semua berfoto sekaligus."
Daffa dan yang lainnya berkumpul layaknya berbaris menghadap ke rumah. Jepretan kamera sering kali berbunyi setiap kali mereka mengatakan sesuatu. Itu terus berulang hingga mereka akhirnya capek sendiri.
Daffa duduk di sofa, ia berpikir sejenak. "Entah mengapa aku merasa, kalau berfoto itu hanya sebentar, bahkan bisa kurang dari satu detik. Tapi kitalah yang membuatnya berasa lama."
Daffa dan yang lainnya berpamitan terlebih dahulu dengan mencium tangan sang nenek. Mereka pun mengucapkan salam, lalu meninggalkan jejaknya di rumah nenek.
Nenek Sumi melambai-lambaikan tangannya, ia mengucapkan sesuatu dengan cukup keras di saat mereka tengah berjalan. "Nenek menanti kabar baiknya ... !"
Syifa membalas lambaiannya dengan senyuman manis yang terpancar di wajahnya. "Oke!"
__ADS_1
*****
Daffa membuka matanya sekali lagi, sekarang ini ia berada di kereta ekspres dan tak terasa, dirinya sudah hampir sampai di tujuan rumahnya.
Suasana di kereta sangat hening, karena hari sudah malam. Kebanyakan penumpang yang ada di sana tertidur dengan masker yang menutupi wajah mereka.
Daffa yang terlalu lama melihat cahaya handphone, membuatnya hampir ketiduran di kereta untuk yang kedua kalinya. Daffa mengangkat alisnya, ia mencoba membulatkan bola matanya, agar rasa kantuknya hilang seketika.
Sekelilingnya ia lihat tanpa terlewati satupun, Daffa melihat ayahnya yang tengah memejamkan kedua matanya, akan tetapi ia tak melihat ibunya dan Fasa.
Daffa duduk tepat di sebelah Syifa, ia kemudian menepuk lengannya Syifa beberapa kali dengan sengaja.
Syifa yang tengah berkaca di cermin kecil miliknya, ia langsung menoleh ke arahnya ketika tangannya ditepuk dengan agak kuat oleh Daffa. "Iya, ada apa?"
"Ibuku dan Fasa, pada ke mana?"
"Oh, mereka lagi ke toilet."
Daffa mengangguk-angguk. Sesaat setelahnya, Tiba-tiba Daffa menarik lengannya Syifa dengan kuat.
"Bruk!"
Alhasil Syifa membentur badan Daffa hingga menimbulkan sebuah bunyi yang tak hanya satu. "Aaawwww ... !"
Syifa mengangguk dan berusaha untuk berbicara walau mulutnya masih ditutup erat. "Emm ... Emm ... "
Setelah Daffa melepaskannya, raut wajah Syifa tampak cemberut. "Ih, kamu mah. Jangan kasar-kasar sama perempuan, pelan-pelan aja nariknya kenapa sih. Nanti aku bilang ke ibu, baru tau rasa kamu."
"Iya-iya ... Aku hanya ingin bilang sesuatu padamu."
Wajah Daffa mendekat ke samping Syifa, ia membisikkan kepadanya sebuah perkataan yang mungkin cukup penting. "Hey, kamu masih ingat, kan? ... Dengan perjanjian kita."
Bisikan Daffa sungguh pelan, tapi dapat terdengar jelas oleh Syifa.
Syifa dapat merasakannya, ia merasakan sebuah tiupan angin menerjang telinganya. Pipi Syifa memerah seketika, karena tatapan mata mereka yang sangat dekat, hingga dapat saling merasakan suara hembusan napas mereka.
Syifa merinding, bulu kuduk tangannya pun sampai berdiri. "I—iyah, aku ingat."
"Syifa, ini misi pertama bagimu. Pertama-tama kamu harus ... "
Syifa mendengarkannya dengan baik dan jelas. Sesekali ia mengangguk kepala dan di saat kata terakhirnya diucapkan, Syifa tiba-tiba terdiam dan tertegun dengan perkataan itu.
Ting ... Tung ... Teng ... Dong ...
__ADS_1
Tung ... Ting ... Teng ... Dong ...
Suara bel khas stasiun kereta berbunyi, tanda jika mereka sudah sampai di stasiun tujuannya.
*****
Suasana kota kembali terlihat di mata mereka. Tak ada petir, tak ada anging kencang, tapi mereka melihat gerintik air hujan jatuh menghantam jalanan.
"Gerimis?"
Tidak salah lagi, kondisi di kota saat ini sedang mengalami gerimis halus, tapi lama-kelamaan suara gemerciknya semakin keras.
Untungnya di stasiun yang sekarang ini, telah menyediakan sebuah payung untuk dijual. Daffa hanya membeli dua saja, untuk dirinya dan juga kedua orangtuanya. Syifa tak perlu repot-repot untuk membelinya, karena dia sudah membawanya sendiri dari rumah.
Rumah Daffa tak begitu jauh dari stasiun, jadi mereka langsung menerobos dari rintikkan air hujan begitu saja, dengan berjalan kaki sambil menggunakan sebuah payung.
Tapi berbeda dengan Syifa dan Fasa, rumah mereka sangat jauh dari stasiun. Untuk sementara mereka akan berteduh di rumahnya Daffa dan mungkin nanti mereka akan menelpon sopir pribadi untuk menjemputnya.
"Syifa, kamu yakin gak langsung pulang aja?"
Sambil berjalan mengikuti keluarga Daffa, Syifa menjelaskannya dengan pelan. "Aku sama Fasa berteduh di rumah tante dulu aja. Soalnya selain menunggu sopirku yang belum datang, aku juga meninggalkan kotak bekal punyaku di rumah tante."
"Oh, ternyata banyak hal yang terjadi saat tante dan om gak di rumah ya? Tante dan om mau ke supermarket dulu, kalian mau ikut?"
Syifa terdiam, ia membuang wajahnya sambil tersenyum kecil sendiri. Sedangkan Daffa, ia yang cenderung berdiam diri sejak keluar dari stasiun kereta, akhirnya ia kini membuka bicara walau singkat. "Tidak, aku langsung pulang aja."
Ibu Ayu dan ayah Adi mampir sebentar ke supermarket terdekat terlebih dahulu, tapi Daffa menolak tanpa alasan.
Jadinya Daffa langsung pulang meninggalkan ayah dan ibunya. Sementara Syifa dan Fasa ikut dengan Daffa, karena mereka ke sini tujuannya hanya untuk mengambil kotak bekalnya yang ditinggal oleh Syifa dan juga mereka sekalian berteduh di rumahnya Daffa.
Masuk ke supermarket, ibu Ayu membeli sebuah bahan makanan untuk membuat bekal makanan yang nanti akan dibuat untuk Daffa. Tak lupa juga, ibu Ayu untuk memilih beberapa camilan ringan.
Di lain sisi, Daffa, Syifa, dan Fasa terus melangkahkan kakinya di jalan yang tak begitu luas, namun juga tak begitu sempit. Bisa dibilang jalan itu lebarnya sedang.
Hingga akhirnya langkah mereka bertiga terpaksa terhenti ketika sampai di samping rumahnya Daffa, yang jaraknya tak jauh lagi dari rumahnya. "S–sejak kapan, rumahku menjadi mengerikan seperti ini?" Gumam Daffa dalam hati.
Daffa bersama Syifa, dan Fasa tak bisa masuk dengan bebas ke dalam rumah. Jalannya diblokade oleh sejumlah kerumunan orang berjas hitam bersama sebuah mobilnya.
Situasinya menjadi lebih menggawatkan ketika seorang wanita berdiri paling depan dan menatap tajam mereka bertiga.
Fasa ketakutan, ia seketika langsung menggigit bibirnya. "Oh, no. Mama ... "
Bersambung ....
__ADS_1