
"Jadi... Kenapa kamu keringatan begitu?" Tanya ibu Ayu.
Ibu Ayu tampak keheranan ketika melihat Daffa yang berada dihadapannya. Ia menatap Daffa yang nafasnya sedang terengah-engah, dan tubuhnya juga tampaknya telah di selimuti oleh keringat.
Sedangkan salah satu tangannya ibu Ayu tengah memegangi pintu rumahnya yang sepertinya telah terbuka.
"Huh... Huh... Huh..." Daffa mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal.
Sepertinya setelah Daffa mengobrol dengan kak Dewi di sekolah, dirinya berlari dengan cepat menuju rumahnya.
"Aku habis olahraga pagi, hehe..." Jawab Daffa dengan tawaan.
"Ini kan udah siang!" Ucap ibu Ayu.
"Oh, iya... Kalau begitu olahraga siang," balas Daffa.
"Hadeh... Ada-ada aja kamu ini," ucap ibu Ayu.
Daffa kemudian tampak mencium tangan ibunya, lalu berjalan melewatinya. "Aku mau mandi dulu." Ucapnya.
"Hilangkan dulu keringatmu itu sebelum mandi!" Perintah ibu Ayu sembari menutup pintu rumahnya.
"Baik," balas Daffa yang sepertinya menuruti perkataannya ibu Ayu.
Daffa pun kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Daffa melepaskan seragamnya dan kemudian ia menggantungkannya.
Dan di saat Daffa hendak menyalakan kipas angin, ia melihat kain hitam yang tadi pagi ia taruh di atas kasurnya.
Daffa hanya melihatnya saja dan terus berjalan ke depan. Daffa pun menyalakan kipas angin tersebut, lalu ia duduk tepat di depannya.
Kipas angin tersebut berputar sangat cepat secara otomatis. Dari mukanya Daffa, sepertinya ia sangat menikmati angin yang kencang dan dingin itu dari kipas angin tersebut. "Yosh, habis ini aku akan mandi dan setelah itu langsung ke masjid."
Berselang beberapa menit kemudian, di lantai bawah rumahnya Daffa lebih tepatnya di dapur, terlihat ibu Ayu yang sedang memasak. Ia terlihat sangat lihai dalam hal memasak.
Tak lama kemudian, ada seseorang yang menghampiri ibu Ayu.
Ternyata itu adalah Daffa yang sudah berpakaian rapi menggunakan baju Koko ditambah lagi dengan bawahannya yang mengenakan sarung. Sedangkan tangannya membawa sajadah.
Daffa kemudian mencium tangannya ibu Ayu. "Daffa pergi ke masjid dulu, bu."
"Peci mu mana?" Tanya ibu Ayu. "Cepet dipakai sana." Sambungan
"Ah..." Daffa hanya senyum-senyum saja.
"Anaknya tetangga sebelah juga gak pakai," ucap Daffa yang kemudian ia langsung berlari dari dapur.
"Daffa! Tunggu dulu..." Teriak ibu Ayu.
Daffa berlari keluar rumah dengan mengucapkan salam saat menutup pintu rumahnya.
Ibu Ayu yang mendengarnya, ia pun membalas salamnya.
ibu Ayu menepuk jidatnya sambil mengatakan, "Ya ampun, anak itu..."
Sesaat setelah itu, ibu Ayu pun kemudian melanjutkan kembali memasak di dapur.
__ADS_1
***
"Kenapa kamu pulang dengan berkeringat seperti tadi lagi?" Tanya ibu Ayu setelah membukakan pintu rumahnya.
"Olahraga siang, hehe..." Jawab Daffa dengan tawaan.
Daffa tampak mencium tangannya ibu Ayu dan kemudian ia berkata, "Bu, aku mau makan."
Setelah itu, Daffa langsung berjalan cepat melewati ibunya.
"Kenapa kamu buru-buru begitu?" Tanya ibu Ayu sembari menutup pintu rumahnya.
"Habis ini aku akan langsung berangkat Pramuka," jawab Daffa.
Daffa pun segera menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya. Di sana ia mengganti baju Pramuka.
Setelah ia telah rapi mengenakan baju Pramuka, Daffa tampaknya turun ke lantai bawah.
Daffa membantu ibunya membawa piring-piring lalu menaruhnya di atas meja makan.
Setelah semuanya telah usai dipindahkan, Daffa pun duduk di kursi bersama ibunya.
Mereka berdua tampaknya tidak sabar untuk menyantap lauk-pauk yang ada dihadapannya.
"Sebelum makan berdoa dulu," ucap ibu Ayu.
"Baik, bu." Balas Daffa.
Keadaan hening ketika Daffa dan ibu Ayu berdoa di dalam hati secara bersamaan.
Berselang beberapa menit kemudian, Daffa sepertinya telah selesai memakan makanannya.
Daffa kini berada di depan teras rumahnya, di sana ia tampaknya sedang duduk sembari menali tali sepatunya.
Daffa berdiri setelah menalikan tali sepatunya, ia berjalan keluar rumahnya dan menuju ke sekolahannya.
Sementara itu, terlihat ibu Ayu yang tengah mencuci piring di dapur. Ia mencuci piring dengan air keran yang terus mengalir ke bawah.
***
"Iya sebentar...!" Teriak ibu Ayu dari dalam rumah, lalu ibu Ayu membukakan pintu rumahnya.
Ibu Ayu melihat Daffa yang berada dibalik pintu. Ia seketika langsung menepuk jidatnya setelah melihatnya. "Eh...? Lagi-lagi kamu kayak begini...?"
"Mending kamu ikut eskul lari deh," ucap ibu Ayu.
"Maaf bu, aku kebelet...!" Sela Daffa dengan muka seperti menahan sesuatu.
"Hah?" Ibu Ayu tampak keheranan.
Dengan buru-buru, Daffa kemudiam memberikan tas miliknya ke tangan ibunya. Ia berlari begitu saja menuju kamar mandi. "Aku sudah masuk ke eskul renang...!" Teriak Daffa selagi berlari terbirit-birit.
"Eh?! Ternyata begitu..." Gumam ibu Ayu. "Kalau begitu sekalian mandi, udah jam lima ini...!" Perintah ibu Ayu dengan nada tinggi.
Ibu Ayu yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia pun menghela nafasnya dan kemudian menaruh tas milik Daffa di atas sofa. Di saat itu juga ekspersi mukanya tampak tersenyum.
***
__ADS_1
Malamnya, di kamar Daffa. terlihat tangan sebelah kanan yang terdapat ikatan kain hitam.
Ternyata Daffa sedang berdiri tepat di depan jendela kamarnya, Ia terus-terusan memandang ke luar jendela. Dari tampang wajahnya, sepertinya ia tengah merenungkan sesuatu.
"Se-pu-as-nya, lho..."
Daffa kepikiran tentang perkataannya kak Dewi yang sangat menusuknya pada saat itu.
Seketika mukanya pun tampak berubah memerah muda.
Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak-tidak, tujuanku hanya ke pantai!" Gumam Daffa dalam hatinya.
"Bisa-bisanya aku memikirkan hal seperti ini," gumam Daffa.
Beberapa saat kemudian, Daffa tampaknya membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu kamarnya. "Lebih baik aku tanya kepada ayah soal renang."
Sesampainya di lantai bawah, Daffa melihat ayahnya yang sedang memakan buah apel sambil duduk menonton tv.
Sedangkan ibunya sepertinya sedang merapikan di sekitar ruang keluarga.
Daffa berjalan ke depan menuju ayahnya. "Ayah." Panggil Daffa.
"Oh, Daffa ya...? Ada apa?" Sahut pak Adi selagi mengunyah.
Daffa pun kemudian duduk di samping ayahnya. "Saat masih SMA, apa ayah sangat pandai dalam berenang?"
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" Ayah Adi bertanya balik. "Sebenarnya, ayah juga tidak pandai-pandai sekali dalam hal berenang." Sambungnya.
"Oh, begitu ya. Memangnya ayah ikut ekstrakurikuler apa saat masih SMA?" Tanya Daffa.
"Sepakbola, ayahmu dulu saat masih SMA sangat mahir dalam bermain sepakbola," sela ibu Ayu.
"Kok, ibu bisa tahu?" Tanya Daffa.
"Kan dulu waktu SMA ibu satu sekolah dengan ayahmu," jawab ibu Ayu.
"Eh... Ternyata begitu ya, aku baru tau," ucap Daffa dengan raut wajah yang agak terkejut.
"Yah begitulah..." Ucap ayah Adi dengan sedikit tawaan.
Sesaat setelah itu, ibu Ayu tampak ikutan duduk di sampingnya pak Adi dan kemudian ia berkata, "Daffa, tadi sore kamu bilang kalau kamu ikut eskul renang? Benarkah apa ucapanmu itu?"
"Eh? Benarkah, Daffa?" Tanya pak Adi.
"Iya benar kok," jawab Daffa santai.
"Tapi apa kamu yakin? Barangkali kolam renangnya dalam sekali, nanti kalau kamu tenggelam bisa gawat lho..." Ucap ibu Ayu.
"I-iya benar, lebih baik kamu mengundurkan diri dan bergabung ke eskul sepakbola! Kamu lebih mahir bermain sepakbola, kan?!" Ucap pak Adi. Sepertinya ayah dan ibunya Daffa sedikit mencemaskannya.
Daffa tampak mengangkat jempolnya ke arah ayah dan ibunya. "Tenang saja, aku sudah bisa meluncur." Daffa mengucapkannya dengan tersenyum.
"Eh? Ha?" Ibu Ayu dan pak Adi terheran-heran.
Raut wajah ibu Ayu dan pak Adi seketika sangat terkejut, dan mereka pun berteriak. "Itu malah tambah gawat...!"
Bersambung....
__ADS_1