
Di tempat itu, Daffa cukup terkaget ketika mengetahui dirinya telah menabrak seseorang, apalagi mereka ternyata adalah teman sekelasnya sendiri, yaitu Vira dan Bella.
Daffa langsung meminta maaf kepada mereka, di saat itu juga. "M—maaf, aku tidak sengaja."
"Eh, si Daffa." Panggil Vira selagi menggandeng tangannya Bella.
Vira memindai sosok Daffa dari bawah hingga ke atas, dari sepatu hitamnya hingga ke pucuk rambutnya.
"Daffa, hari ini kamu cakep bener sih."
"Eh?"
Wajah Daffa seakan menjadi kaku, ia sama sekali tidak paham dengan maksud Vira saat mengatakannya.
"Hah? ... " Sementara itu, Bella juga ikut keheranan melihat wajah sahabatnya itu.
Bella juga tak menyangka sama halnya seperti Daffa.
Vira menengok muka Daffa dan Bella, yang terus menatap dirinya dengan keheranan.
"Kalian ini kenapa? Itu hanya sekadar pujian saja."
"Oh ... "
Daffa lega, ia akhirnya bisa melepaskan napasnya setelah mendengar ucapannya Vira.
Vira mengangguk-angguk. "Iyalah ... "
Dan setelahnya, dia tiba-tiba menarik tangannya Daffa dengan kuat. "Yuk, kita kantin bareng."
Vira mengajak Daffa untuk ke kantin bersama, namun Daffa langsung menolak, dengan alasan yang hampir sama seperti sebelumnya.
"Eh, aku tidak dulu."
"Kenapa, Daffa?"
"Tidak apa-apa Vira, hanya saja lagi ingin makan di kelas."
"Makan di kelas? Memangnya kamu sudah lebih dulu beli makanan?"
"Belum sih ... Tapi aku membawa bekal dari rumah."
"Bekalnya buat nanti saja, sekarang kita makan di kantin dulu aja, oke?" Usul Vira.
Vira tetap bersikeras memaksa Daffa untuk ikut dengannya dan Bella menuju kantin.
Akan tetapi Daffa tetap menolak dan bersiteguh dengan keputusannya.
Bella menyela di antara mereka. "Kalau dianya tidak mau, ya sudah jangan dipaksa Vira ... "
__ADS_1
Vira menghela napas panjang, alhasil ia pun menyerah untuk mengajak Daffa. "Iya deh ... Iya. I'm sorry."
"Ah, gak apa-apa kok." Ucap Daffa pelan.
Dengan sedikit rasa kecewa, Vira bersama Bella berjalan melewati Daffa. "Kami duluan ya, Daffa."
Daffa menoleh ke belakang, ia terus menatap aneh mereka berdua saat tengah berjalan membelakanginya. "Huh, padahal aku hampir menemukannya. Tapi apa yah ... "
Sesampainya di depan kelas, Daffa berdiri saja dan diam tak bergerak sama sekali di depan pintu, dalam sesaat.
Dari situ, Daffa sepertinya hanya melihat dua orang murid di dalam kelasnya. Dan yang membuatnya tidak menyangka, dua murid itu adalah Syifa dan Melly yang sedang duduk bersamaan.
Tanpa sekalipun mencoba untuk menoleh ke arah mereka, Daffa pun hanya berjalan melewatinya dan kembali duduk di bangkunya.
Daffa membuka salah satu ritsleting tasnya, ia mengambil kotak bekal makanannya dari dalam tas tersebut. "Huh, untung saja ... Tidak ada yang tumpah." Batinnya.
Saat akan berbalik badan dan menaruh kotak bekalnya di meja, Daffa cukup dikagetkan oleh seorang Syifa yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
Sosok anggunnya itu tengah membalikkan kursi yang ada di depannya Daffa, dengan sangat hati-hati agar tak timbul suara gesekan dari kursi dengan lantai yang cukup keras.
Syifa kemudian duduk saling berhadap-hadapan dengan Daffa. Sama seperti halnya Daffa, ternyata Syifa juga membawa sebuah bekal makanan dalam kotak, yang sepertinya akan di makannya di situ.
"Ini kamu ngapain ke sini?" Tanya Daffa yang suasana hatinya terasa tidak enak.
"Makan bareng, apa gak bolehkah?"
"Yah, bukannya gak boleh sih ... Serahlah, yang penting jangan mengganggu."
Melly menghampiri mereka dan menepuk bahunya Syifa sekali dengan pelan. "Oh iya, aku harus bertemu dengan teman-temanku di luar, aku pergi dulu yah?"
"Okay"
Melly berbalik badan. "Kalian bersenang-senanglah berdua ... " Ucapnya seraya melambaikan tangannya.
Melly pergi ke luar kelas meninggalkan mereka berdua dengan alasan yang bisa dibilang cukup aneh, menurut Daffa sendiri.
Karena Melly juga keluar dari kelas, jadi di kelas tersebut kini hanya tersisa dua orang saja, yaitu Daffa dan Syifa.
Sembari makan bekalnya masing-masing, mereka berdua sesekali saling mengobrol di saat-saat tertentu.
Ketika Daffa tengah mengaduk-aduk makanannya berulang kali hingga merata, Daffa seakan merasa menjadi teringat dengan suatu hal, yang sebelumnya membuatnya kesal sendiri karena tidak berhasil menemukannya.
Daffa diam-diam melirik ke arah Syifa. "Oh ... Jadi seperti ini ternyata. Sekarang aku paham, dengan rasa penasaranku sendiri. Mereka bilang mereka berpacaran, tapi mengapa mereka jarang sekali bersama berdua?" Batin Daffa, yang di arahkan kepada teman-temannya.
"Dan mungkin ... Aku akan membutuhkan jawabannya nanti."
Daffa kembali mengaduk makanannya. saat dirasanya sudah merata, Daffa melahap suapan pertamanya.
Di saat itu juga, Daffa memulai pembicaraan tanpa melihat lawan bicaranya, Syifa.
__ADS_1
"Jadi, siapa orang yang telah memberitahu kepada mamamu itu, kalau kita sedang pergi kemarin?"
Dengan santainya Syifa mendengar dan menatap Daffa, ia masih belum memberikan keterangannya, lantaran dirinya yang tengah mengunyah makanannya secara perlahan.
Syifa membuka tutup botol. Dia meminum air putihnya terlebih dahulu, agar tenggorokannya tak lagi merasa serat
"Mamaku sudah cerita kepadaku, katanya ... Dia tahu dari salah seorang anak buahnya Rio." Jawab Syifa, suaranya semakin mengecil saat sampai dikata terakhirnya.
"Sebenarnya, mereka itu siapa? Perkumpulan orang-orang botak, gitu?"
Syifa seketika tertawa kecil. "Haha, keren juga tuh ... "
" ... Sebenarnya mereka hanyalah orang-orang yang baru lulus sekolah menengah atas, mereka dipilih Rio sebagai bawahannya sekaligus pengawalnya. Dan sebagian kecil dari mereka, ditugaskan untuk menjaga keluargaku." Syifa menjelaskannya sambil tersenyum sendiri.
Daffa melihat wajahnya. "Huh, lagi-lagi dia melakukannya." Gumam Daffa dalam hati.
Di ruangan kelas itu, mereka sangat nyaman memakan sambil mengobrol berdua. Karena selain ruangannya yang bersih, situasi di sana juga terasa cukup kondusif.
Suasananya juga begitu tenang tanpa ada orang lain yang berisik dan menganggu.
"Syifa, menurutmu sendiri Vira itu orangnya seperti apa?" Tanya Daffa.
"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu?" Syifa berbalik tanya.
"Iya, menurutmu gimana?"
"Kalau menurutku sendiri sebagai sahabatnya sih ... Dia orangnya sangat ceria dan paling banyak bicara di antara kami bertiga, selain itu dia juga sangat berani mengambil risiko." Terang Syifa.
"Mengambil risiko? Contohnya?"
"Hmm ... Contohnya seperti saat kita bertiga sedang berpergian ke Mal, di sana Vira paling senang sendiri kalau bermain mesin capit."
"Lah? ... " Daffa merasa seperti sedikit kecewa dengan jawabannya, mungkin karena berbeda dengan keinginannya.
"Eh, kenapa? Aku gak salah, kan?"
"Iya sih ... Memang gak salah. Kalau dengan Bella, gimana?"
Tadi Vira, kini yang ditanyakan Daffa berganti ke Bella.
Syifa tampak berdiam diri. Dalam waktu sebentar, ia memikirkan suatu jawaban yang akan dikatakannya.
"Emm ... Dia orangnya sangat baik, apalagi dengan orang yang dikenalnya. Terus kamu pasti sudah tahu sendiri, kan? Dia sedikit lebih pendiam dan akan berbicara di saat-saat tertentu saja."
"Ouh ... Masa sih? Serius?" Daffa tidak percaya dengan ucapan Syifa.
"Dua rius malah ... Kamunya aja kali, yang jarang ngobrol dengan Bella."
"Oh, gitu."
__ADS_1
Daffa mengangguk-angguk kepala saja, walaupun dirinya masih tak percaya.
Bersambung ....