Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 76 : Penyesalan Tante Intan


__ADS_3

Syifa kini tak melawan, dia menuruti setiap perkataan mamanya. Masalah yang sedang dihadapinya saat ini, membuat dirinya lupa akan bekal makanannya yang masih berada di rumahnya Daffa.


Tetapi itu tak berlaku untuk seterusnya. Setelah kedua putri kembali kepelukannya, kini wajah tante Intan kembali mengeluarkan hawa amarah. Tatapannya begitu menusuk, sehingga Daffa mengalihkan pandangannya ke orang lain.


"Tante tahu, kamu sudah banyak sekali membantu Syifa. Tapi gak gini juga, kamu malah membawa Syifa dan Fasa seenaknya tanpa izin dari tante."


Dengan gugup, Daffa meminta maaf kepada tante Intan. "M–maaf ... Aku merasa bersalah."


Syifa menyela. "Bukan! Daffa tidak menyuruh, tapi aku sendiri yang berinisiatif ke rumahnya."


"Kamu diam dulu, biar Daffa saja yang menjawab. Mana mungkin kamu bertindak sebelum diberitahu Daffa, kan?"


Syifa mengingatnya kembali, ia pun berkata apa adanya. "I–iya sih ... "


Tante Intan kembali menatap tajam Daffa. "Daffa, sudah beberapa kali tante peringatkan untuk tidak seenaknya melakukan sesuatu kepada Syifa, kan? Tante bilang begitu juga untuk kebaikanmu nanti."


"Dan asal kamu tahu yah, Syifa itu sudah memiliki seorang pria mapan yang kelak akan menemaninya di masa depan."


Daffa tiba-tiba mengeluarkan senyuman sinisnya, di saat yang sama ia membuka matanya lebar-lebar. Jari-jari tangannya mengusap seluruh rambut yang menutup bagian wajahnya. "Terus?"


Sambil menatap tante Intan, Daffa melangkahkan kakinya maju ke depan.


"Plak ... "


"Plak ... "


"Plak ... "


Semua pengawal yang melihatnya, mereka seketika langsung bertindak dengan mengarahkan ujung payungnya tepat ke arah Daffa sebagai ancaman. Namun tindakan mereka terhenti setelah tante Intan mengangkat tangannya dan menyuruh mereka untuk segera berhenti.

__ADS_1


Daffa terus melangkahkan kakinya, tanpa peduli dengan ancaman mereka yang tertunda. "Apakah itu ada hubungannya denganku? Aku diam bukan berarti aku tidak tahu apa-apa."


Langkah Daffa akhirnya terhenti ketika mencapai di tengah-tengah. "Tante seharusnya lebih memerhatikan Syifa lagi, bukannya malah menekannya lebih dalam lagi."


"Hah? Memangnya kamu tahu apa?"


Tante Intan terheran-heran sekaligus tertawa kecil, karena ia mendengar suatu nasihat dari seorang Daffa yang umur maupun pengalaman hidupnya masih jauh di bawahnya.


Sekali lagi Daffa selangkah maju ke depan. Raut wajahnya masih sama seperti tadi, yang berbeda hanyalah senyuman sinisnya yang semakin melebar.


"Aku sudah dengar ceritanya langsung dari Syifa sendiri. Katanya, dia dipaksa menyukai seorang yang bernama Rio, tanpa memiliki perasaan cinta kepadanya. Tapi sebenarnya aku tidak tahu, perasaan cintan dapat memengaruhi atau tidaknya, karena aku juga tidak berpengalaman dengan hal itu ... "


" ... Saat mendengar ceritanya, aku sering kali mendengar nama papa yang diucapkan oleh Syifa, yang katanya papalah yang telah lama mengurus perjodohan ini. Tapi apa? Tapi yang anehnya, dari awal sampai akhir, aku tidak sekalipun mendengar kata mama dalam ceritanya."


Tante Intan tak bergerak sama sekali, ia sangat tertegun ketika menyimak setiap ucapan yang keluar dari mulutnya Daffa. Lalu tante Intan bertanya kepada Syifa. "Syifa, kenapa kamu bercerita tentang Rio kepadanya?!"


Syifa tak berani menjawab, ia hanya menunduk kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari tatapan mamanya.


Tante Intan hanya terdiam. Saking bingungnya ingin menjawab apa, tante Intan malah membuka sedikit mulutnya yang kemudian ia gigit dengan pelan.


"Tante Intan malah menyetujuinya begitu saja, padahal Syifa tidak ingin sama sekali perjodohan itu terjadi ... "


" ... Dan Asal Tante tau, karena Tante tidak berbuat apa-apa, malah membuat Syifa semakin merasa tertekan. Aku melihatnya sendiri, di sekolah maupun di luar, Syifa seperti sudah terbiasa menutupi luka hatinya dengan sebuah senyuman palsu yang dapat menarik hati bagi yang melihatnya terang-terangan. Bukan hanya itu saja, Syifa juga merasa tersakiti atas kesepian dan kesedihannya. Tapi kenapa Tante tidak selalu menemaninya dan mendengar semua curahan hatinya? Bukankah kehadiran seorang ibu itu sangat berharga bagi anaknya?"


Tante Intan sangat terharu mendengarnya. Ia hanya mengkicepkan diri dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


Keadaan yang tengah hening itu, sesaat langsung pecah ketika terdengar suara gemuruh yang tak keras, namun masih dapat terdengar di telinga.


Sepertinya suara gemuruh itu berasal dari belakangnya Daffa. Semua orang tertarik untuk menengok ke arah itu, akan tetapi mereka tak melihat apa-apa melainkan hanya sebuah kekosongan saja.

__ADS_1


Tante Intan menghela napas panjang, lalu ia mengatakan sesuatu kepada Daffa. "Daffa, ternyata kamu sangat pandai berkata-kata yah ... Sampai-sampai dapat mengubah pola pikir tante dalam sesaat."


"Kau benar ... Tante memang salah, karena tidak bisa bertindak langsung mengatasi masalah ini. Hingga membuat Syifa merasa gelisah dan tidak nyaman."


Tante Intan merasa bersalah, ia kemudian memeluk erat kedua putrinya itu. Yang satu merasa ketakutan karena keadaannya yang bikin merinding, sedangkan yang satunya lagi mewek karena sangat gelisah.


"Tapi Daffa, apakah kau merasa bersalah sedikitpun, setelah membawa kedua putriku tanpa sepengetahuan dari Tante?"


Daffa tertawa kecil sembari menggaruk kepala bagian belakangnya. "Ya gimana yah ... Tentu aku merasa sangat bersalah. Sebenarnya barusan, aku juga mau bilang mengenai ini hehe ... "


" ... Karena itulah aku merasa pantas mendapat hukuman. Nah, sekarang tante bisa melanjutkan hukumannya yang tertunda tadi. Aku akan menerimanya sebagai pelajaran yang berharga untuk seterusnya."


Syifa menyela perkataan Daffa. "Eh, tapi kan kamu gak—"


Syifa menggantung perkataannya ketika pandangan matanya melihat wajah Daffa yang santai-santai saja dan juga sangat menyejukkan hati untuk dilihat. "Syifa, tenang aja. Aku tidak akan mati hanya karena satu pukulan."


"Apa kau yakin, Daffa? ... "


"Aku sangat menantikannya malah."


Dengan penuh percaya diri, Daffa menjawab keraguan dari seorang tante Intan.


Tak lama setelah mendengarnya, tante Intan kemudian langsung menyuruh kembali salah seorang pengawalnya yang tadi, untuk memberinya sebuah hukuman.


Hukuman yang diperintahkan oleh tante Intan tak hanya sebatas perkataan saja, namun juga dengan sebuah pukulan langsung ke arah Daffa.


Pengawal yang ditunjuk langsung maju ke depan, berulang kali ia memutar-mutar lengannya yang sebelah kanan maupun kiri, sebelum melancarkan sebuah pukulan. Itu semua ia lakukan, hanya karena pengawal tersebut ingin membuat keadaan menjadi lebih panas dan tegang.


Syifa tak kuasa melihatnya, ia hanya memejamkan matanya sambil menyandarkan diri di pakaian mamanya itu. Berbeda dengan kakaknya, si Fasa justru mengintip dari belakang mamanya.

__ADS_1


Pengawal itu terus melangkah maju hingga melewati tante Intan. Ia menerjang rintik-rintik air hujan dengan pakaiannya yang sudah basah kuyup karena payungnya yang telah menghilang. Pengawal itu kehilangan payungnya karena kekonyolannya sendiri.


Bersambung ....


__ADS_2