Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 18 : Pergi Bersama


__ADS_3

Setelah mereka berdua membuat janji kelingking, Syifa melangkah pergi meninggalkan Daffa seraya melambaikan tangannya. "Aku duluan," ucapnya.


Sedangkan Daffa masih berdiri di tempat, "Ya, nanti aku nyusul," balas Daffa.


Sesaat Syifa pergi, Daffa melihat ke arah jendela yang berada di sampingnya lalu berkata, "Indah sekali..." Daffa terpukau.


Tiba-tiba Daffa menamparkan pipinya sendiri dan berkata, "Sekarang sampingkan itu dulu, aku harus segera menyusul mereka," ucap Daffa yang kemudian ia berlari dari lorong tersebut.


"Minggir! Minggir mbak pelayan!" Ucap Daffa yang tidak bisa mengurangi kecepatan berlarinya. "Eh?!" Sementara mbak pelayan tersebut kaget dan hanya melongo melihat Daffa berlari ke arahnya seraya memegang piring plastik.


Daffa yang tidak bisa mengerem, alhasil ia pun sedikit menyenggol badan mbak tersebut. "Akh," ucap mbak tersebut merintih kesakitan karena terdorong oleh Daffa.


sedangkan Daffa masih terus lanjut berlarinya ke arah pintu keluar rumahnya Vira, "Maaf! Aku tidak sengaja!" Teriak Daffa.


"Lagi-lagi Kamuu! Jangan lari-lari di rumah orang! Dasar bocah tak tau etika!" Teriak mbak pelayan dengan nada tinggi dan ekspresinya yang marah.


"Jangan marah-marah terus! Nanti gak ada yang mau sama mbak!" Teriak Daffa meledek dari kejauhan.


"Eh?" Mbak pelayan hanya terdiam dan wajahnya memerah seakan ia tersipu malu karena ucapan Daffa.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Daffa berada di tempat parkiran, dan ia melihat teman-temannya berdiri di samping mobil yang akan mereka naiki dengan memasang wajah yang seperti kesal melihat dirinya.


Daffa yang baru sampai di depan mobil tersebut, seketika langsung dimarahi oleh teman-temannya.


"Daffa! kemana aja kamu?! Udah lebih dari sepuluh menit kamu perginya," ucap Ridho dengan wajah kesal sembari menunjukkan jam tangan miliknya.


"Iyaa maaf, tadi panggilan alamnya lama banget," ucap Daffa bersilat lidah.


Farrel tidak percaya dan membantah ucapan Daffa, "Eleh, alesan..." Bantahnya.


"Udah-udah, jangan ngobrol di sini, ntar malah makin lama perginya," ucap Vira sambil mendorong-dorong Daffa dan yang lainnya agar cepat masuk ke dalam mobil.


Daffa dan cowok lainnya duduk di kursi belakang sedangkan Syifa dan cewek lainnya duduk di kursi tengah.


Mobil yang mereka tumpaki akhirnya dijalankan juga oleh pak sopir keluar rumahnya Vira.


Saat mobil baru dijalankan, Vira menoleh ke belakang dan berkata, "Daf, kamu sama Syifa sama-sama telat loh, apa kalian bertemu tanpa sepengetahuan kita?"


Daffa yang mendengar perkataan Vira, perasaannya sangat kaget lalu ia bergumam, "Langsung ketahuan!?"

__ADS_1


Kemudian Daffa mencoba memutar balikkan fakta, "Kan sudah kubilang, kalau buang air besar itu tidak tahu kapan selesainya." Ucapnya dengan menahan grogi.


Syifa yang berada di sampingnya Vira, ikut menjawab, "Dia dari toilet, sedangkan aku dari kamarmu Vir, mana mungkin aku dan dia bisa bertemu,"


"Iya sih bener juga, tapi lebih bagus kalau kalian berdua ketemu berduaan, bisa saling lebih akrab lagi," ucap Vira terus terang yang kemudian pandangannya kembali ke depan.


"Ah, kalo itu tidak mungkin bisa," bantah Syifa.


Sementara itu, Ridho terus saja melihat ke arah tangannya Daffa. "Omong-omong Daf, kenapa kamu membawa plastik?" Ucapnya kebingungan.


"Oh... ini ya, buat jaga-jaga," ucap Daffa, "Vira aku minta plastiknya satu ya, tadi aku ambil di dapur," lanjutnya.


"Baru bilang?!" Ucap Syifa, Bella, Ridho, Farrel kaget bersamaan sambil menoleh ke arah Daffa.


"Iya maaf baru bilang hehe..." Ucap Daffa dengan tertawa kecil.


"Gapapa kok, santai aja," ucap Vira santai.


*****


Berselang beberapa menit, Mobil yang mereka tumpaki sudah terparkir rapi bersama kendaraan yang lainnya.


"Aku harus menahan satu kali lagi saat pulang nanti," ucap Daffa lirih yang sedang menahan rasa mual di pinggir jalan.


Teman-temannya Daffa meneriakinya dari seberang, "Daffa! Cepat! Nanti kamu ketinggalan loh!"


"Iya-iya sabar," ucap Daffa pelan sembari berdiri dari tempatnya lalu berjalan ke depan menuju teman-temannya.


Kemudian mereka bertujuh berjalan melewati gerbang masuk dan terus melangkah maju ke depan bersama-sama.


Daffa yang terheran-heran melihat Pak sopir berada di belakangnya dan ikut bersamanya, kemudian ia bertanya-tanya kepada Pak sopir tersebut.


"Pak sopir ikut juga? Enggak jaga mobilnya? Apa bapak juga butuh hiburan?" Tanya Daffa sambil berjalan dan menoleh ke belakang.


"Tentu saja, Bapak ikut karena ditugaskan untuk menjaga Nona muda Syifa," jawab Pak sopir dengan tegas.


"Eh... Begitu ya," ucap Daffa yang kemudian pandangannya kembali ke depan.


"Udah dianterin, terus dijagain pula. Cicici, enak banget ya." Gumam Daffa.

__ADS_1


Daffa dan teman kelasnya berkeliling mengitari Monument Nasional tersebut dengan dijaga oleh Pak sopir sekaligus Bodyguardnya Syifa, sampai tak disadari sudah lebih dari 1 jam mereka berkeliling. sana kemari.


Daffa tengah duduk di pinggir jalan, dan dengan muka lesunya ia melihati yang lain bersama Pak sopir sedang asyik berfoto-foto di dekat Monument Nasional tersebut.


Daffa menguap sambil berkata, "Aghh... Habis ini pulang terus tidur,"


Tak lama kemudian, Daffa tampak melihati Syifa yang sedang melangkah mendekatinya. "Kenapa dia kesini? Mau ngomel-ngomel lagi kah?" Gumam Daffa bertanya pada diri sendirinya.


Dan kemudian Syifa duduk di samping kanannya Daffa yang berjarak 3 meter darinya.


"Kenapa kamu ke sini hah?" Tanya Daffa dengan muka lesu dan mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri.


"Ini tempat umum, jadi siapa aja boleh duduk di sini," jawab Syifa tenang.


"Mendingan kamu ikut foto sama temen-temen mu sana," ucap Daffa yang bermaksud mengusir Syifa.


"Ngursir ya? Sana kamu aja yang pergi," balas Syifa.


"Terserah kamu dah," ucap Daffa yang kemudian ia diam.


Syifa yang dari tadi seperti ingin membicarakan sesuatu, tampak susah mengatakannya.


Syifa kemudian memberanikan diri mengatakannya, lalu ia menghela nafas dalam-dalam dan berkata, "Terima kasih," ucapnya dengan pelan.


Daffa yang kurang jelas mendengarkan perkataan Syifa, kemudian ia berbalik badan dan menghadap ke arah Syifa,


"Maksudnya?" Ucap Daffa sembari melihat ke arah Syifa.


"Eh?! Stop! jangan mendekat," ucap Syifa yang melihat Daffa bergerak sedikit ke arahnya. "Aku cuma mau bilang terima kasih." Lanjut ucapannya yang lirih.


"Oh... Itu ya, seharusnya aku yang bilang terima kasih," ucap Daffa.


"Tapi, tapi awas aja kalau kamu mengintip lagi," ancam Syifa dengan gugup.


"Iya-iya aku mengerti, lagi pula kita sudah berjanji kan?" Ucap Daffa dengan muka lesu.


Syifa mengangguk dengan senyuman manis terpampang di wajahnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2