Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 82 : Daffa Sangatlah Serius


__ADS_3

Sudah saatnya jam pelajaran berganti, namun seorang guru lainnya yang akan mengajar belum masuk juga.


Suasana di kelas memang ramai orang, tapi suaranya tidak begitu berisik. Dalam waktu yang sebentar itu, Daffa mengisi waktu kosong kelasnya hanya dengan menatap mejanya saja.


Melly yang duduk di belakang Daffa, ia sejak tadi melihat keberadaannya terus, dengan memiringkan wajahnya yang tampak penasaran akan suatu hal.


Karena hal itu, Melly tiba-tiba mencolek Daffa beberapa kali dan berharap Daffa akan menyahutnya.


Tapi Daffa tetap bertahan dengan posisinya tersebut, ia terlalu malas untuk menoleh ke belakang.


Melly tak mau menyerah sama sekali, ia malah semakin keras mencoleknya di setiap detiknya.


hingga Daffa akhirnya menoleh ke arah Melly, ia mengalah karena dirinya merasa sangat terganggu dengan tangannya itu.


Daffa dan Melly saling bertatapan satu sama lain dengan cukup dekat.


Melly langsung membuka pembicaraannya dan ia pun mengobrol sebentar dengan Daffa.


"Ehem, Daffa ... Bagaimana kencannya kemarin dengan Syifa? ... "


"Kencan kemarin? Kencan tuh ... Arti sebenarnya apa, dah?"


"Ah, jangan pura-pura gak tahu ya, kamu."


Daffa mendengus, ia memaksa berbicara walau wajahnya begitu lesu. "Gak, aku serius ... Aku hanya pernah mendengarnya saja, tapi tidak tahu arti yang sebenarnya."


"Jadi gak ngerti sama sekali, nih?"


Melly seketika tersenyum dan tertawa kecil. "Hehe ... "


"Hmm ... Jadi gini ya Daffa, intinya itu satu pasangan cowok dan cewek membuat janji untuk saling bertemu ... Lalu mereka pergi berjalan-jalan berdua."


"Ohh ... Kamu tanya begitu ke aku, memangnya kamu sendiri pernah melakukannya?"


Mendengar ucapan Daffa, Melly seakan-akan langsung tersipu malu dan tidak bisa berbicara. Karena hal tersebut, membuat Daffa langsung mengetahuinya, bahwa Melly sendiri tak pernah melakukan hal yang dibicarakannya.


"Makanya, jangan sok mengajariku, kalau kamu sendiri tidak pernah melakukannya."


"Oh, iya ... Kemarin kan, aku pergi bukan hanya berdua, tapi bertiga, karena ada Fasa. Kamu pasti sudah mengetahuinya sendiri, kan? ... "


" ... Karena kamulah yang menyuruhnya." Sambung Daffa dengan sedikit menatap tajamnya.


Melly tak marah sama sekali, justru dirinya tetap tersenyum sejak bertatapan dengan Daffa.


"Heh ... Seharusnya kamu tuh berterima kasih padaku. Karena akulah, kamu bisa lebih dekat dengan Syifa." Balas Melly.


"Hm–" Daffa tidak bisa berkata apa-apa, ia terkena langkah mati setelah Melly mengatakan itu.


Melly menghela napas, ia mendadak menjulurkan salah satu tangannya tepat di depan wajahnya Daffa.


Kepalanya Daffa dipenuhi tanda tanya. "Kenapa?"


"Daffa, mulai hari ini tolong kerja samanya, ya ... "


"Kerja sama? Kerja sama apa yang kamu maksud?"


"Tinggal bilang iya, apa susahnya sih?"


Daffa tiba-tiba tersenyum sinis. "Tidak, selagi tidak menguntungkan bagiku, aku tidak akan menerimanya."


"Kamu ingin tahu? Bila kamu menerimanya, kamu dapat bersama terus dengan seseorang yang kamu cintai, Syifa."

__ADS_1


"Orang yang kucintai? Huh, aku bahkan tidak memilikinya selain Ibuku."


"Aku tidak tertarik dengan yang namanya percintaan, karena itu hanya akan membuang-buang waktuku saja."


Melly tersenyum kecil, karena sangat tidak percaya dengan omongannya. "Apa kau yakin? Bukannya kamu sedang mendekati Syifa?"


"Jangan bicara sembarangan." Jawab Daffa.


"Terus bukti yang diceritakan Syifa tadi, itu apa? Kau berani memasang badan di depan, hanya untuk melindungi seorang gadis."


Daffa hanya terdiam saja, sembari mengalihkan pandangannya dari wajah Melly, ia sangat enggan untuk menjawab pertanyaannya.


"Heh, jawab ... !" Paksa Melly.


"Aku hanya diam dan aku tidak ingin menjawabnya." Balas Daffa dengan wajah datar.


Melly mendengus. "Huh, kamu itu kadang-kadang ngeselin juga, yah. Persis seperti omongannya Syifa."


Tanpa mereka berdua ketahui, Syifa ternyata sejak tadi telah memerhatikan tingkah laku mereka dari bangkunya.


Syifa melirik dengan wajahnya yang tampak cemberut, ia seperti merasa sangat kesal ketika melihatnya.


Dalam waktu yang berdekatan, seorang guru melangkah masuk ke dalam kelasnya Daffa.


Pandangan semua murid seketika mengarah pada guru tersebut.


Kecuali Daffa seorang, ia menyempatkan diri untuk berkata satu hal terakhir, kepada Melly.


"Melly, katakanlah satu hal kepada orang yang bernama Rio ... Untuk berhati-hati, jika dia terus memaksa Syifa."


Setelah mengatakannya, Daffa langsung membalikkan badannya, lalu ia memerhatikan seorang guru yang berdiri di depan papan tulis.


Ketika mendengarnya, kedua mata Melly seakan-akan melebar, karena cukup terkejut.


*****


Waktu pun terus berlalu, sampai bel istirahat pertama berbunyi.


Daffa melihat teman sekelasnya yang kompak beranjak dari tempat duduk mereka. Mereka sepertinya sedang membutuhkan energi tambahan, agar lebih bersemangat belajar.


Di saat itulah suasana kelas menjadi sedikit lebih berisik. Telinga Daffa juga merasa bising dan bosan, karena setiap kali harus mendengar kata yang sama.


"Perutku lapar nih, yuk kita ke kantin."


"Bro, kita ke kantin yok."


"Sis, ke kantin bareng yuk, kita makan seblak sama-sama."


"Kantin ... Kantin ... Kantin ... " Kata tersebut mendadak menjadi terngiang-ngiang dibenak Daffa dalam sekejap.


Murid yang merasa kelaparan, tanpa ditanya mereka langsung menuju kantin bersama temannya.


Terkadang mereka mengecek uang yang mereka bawa terlebih dahulu, sesaat sebelum keluar kelas.


Hingga akhirnya kelas terasa sepi dan hanya tersisa beberapa murid saja.


Akhir-akhir ini menjadi suatu hal yang sudah biasa, Daffa selalu dihampiri oleh Ridho dan Farrel setiap kali jam istirahat berbunyi. Mereka berdiri tepat di hadapan Daffa, lalu mengajaknya ke suatu tempat.


"Yok, ke toilet." Ajak Farrel.


"Bukannya kita mau ke kantin?" Sela Ridho.

__ADS_1


"Toilet dululah, baru ke kantin."


"Okelah ... Terserahmu saja."


Daffa belum sama sekali mengasih jawaban mau atau tidaknya, tangannya malah sudah dulu ditarik paksa oleh Farrel, hingga Daffa dapat berdiri dari bangkunya.


"Eh, sebentar ... Aku rapikan pakaianku dulu."


Ridho dan Farrel pun menunggu dan melihat Daffa yang tengah merapikan pakaian sekolahnya.


"Klek!"


Daffa menekan dan menutup rapat ikat pinggangnya.


Mereka kemudian melangkahkan kakinya bersama dan berjalan bersebelahan dengan pelan, hingga melewati Syifa dan kawanannya.


"Kalian mau ke mana?"


Daffa hendak menjawabnya. "Toilet–"


Akan tetapi suara Daffa ditiban oleh suara Farrel yang lebih keras darinya. "Toilet, mau ikut?"


Mendengarnya saja sudah membuat Syifa merasa jijik. "Ishh ... "


Vira mendadak menarik-narik bajunya Syifa. "Syifa, kita juga ke kantin, yuk."


"Kalian duluan aja, aku lagi kepingin di sini sama Melly."


"Oke deh ... "


Bella melambaikan tangannya. "Kalau begitu, aku dan Vira ke kantin duluan ya, Syifa, Melly."


"Ya!"


Vira dan Bella kemudian berjalan keluar kelas setelah Daffa dan kedua temannya keluar beberapa saat yang lalu.


Di toilet siswa, Daffa hanya mengikuti seperti siswa lainnya. Ia membasuh kedua tangannya hingga terlihat bersih dan mengkilap.


Setelahnya Daffa hanya berkaca diri sendiri di sebuah kaca yang terpajang lebar di dinding.


Tak ada satu menit, mereka bertiga sudah keluar dari toilet siswa.


"Yok, kita ke kantin." Ajak Farrel sambil mengusap wajahnya yang masih basah.


"Kalian saja yang ke kantin, aku ke kelas saja."


"Lah ... Kenapa emangnya Daffa?" Tanya Ridho.


"Aku sudah membawa bekal sendiri dari rumah."


"Oh, ya sudahlah. Daffa, kalau begitu aku sama Ridho jalan duluan."


"Ya."


Mereka berdua kemudian berjalan terlebih dahulu ke arah kantin dan meninggalkan Daffa seorang.


Tak lama setelah mereka pergi, Daffa langsung berjalan berlawanan arah dengan mereka.


Daffa menuju kelasnya. Saat berjalan, Daffa melamun karena memikirkan suatu hal yang mengganjal di dalam pikirannya.


"Aku sangat merasa ada yang kurang pas, tapi apa? Apa?!" Gumam Daffa dalam hati, ia merasa gregetan sendiri karena tidak dapat mengetahuinya langsung.

__ADS_1


Daffa terus melamun, hingga ia tersadar bahwa dirinya telah menabrak seorang siswi secara tidak sengaja.


Bersambung ....


__ADS_2