
"Emang tidak kok!" Daffa langsung membenarkannya kembali kesalahpahaman yang terjadi.
"Kalau bukan itu, terus apa?"
Di antara Daffa dan Syifa, mereka berdua tidak ada yang berani untuk memberikan sebuah jawaban.
Mereka hanya terdiam di tengah-tengah kelas, hingga teman-temannya menarik mulutnya karena keheranan dengan tingkah mereka berdua.
"Kalian sangat ingin tahu?" Tiba-tiba ada dua orang yang berbicara bersamaan, asalnya tak jauh dari Daffa.
Kalau diingat-ingat lagi, suara itu memanglah suaranya Ridho dan Farrel.
Ridho dan Farrel menghampiri Daffa dan Syifa yang masih tampak saling menggenggam tangan.
"Karena, mereka berdua ini ... " Farrel menepuk bahu Daffa dan berdiri di sampingnya.
"Teman tapi mesra!"
Ridho dan Farrel menunjuk ke arah mereka berdua sambil berteriak secara bersamaan, membuat keadaan kelas menjadi tambah berisik.
"Ohh ... Iya yah, benar juga." Para murid sekelas baru kepikiran, sesaat yang lalu.
Dari arah yang lain, tiba-tiba datang seorang guru yang memasuki kelas lewat pintu. Guru tersebut berdiri di depan pintu, karena mendapati kelas yang akan diajarkan sedang dalam keadaan tak tenang.
Siswi yang pertama kali menyadari keberadaan guru itu, langsung menyuruh teman sekelasnya untuk segera duduk.
"Semuanya duduk! Pak guru udah datang."
Sontak gerombolannya Daffa yang sedang berdiri di depan kelas, membuat mereka langsung berlarian kocar-kacir menuju ke bangkunya masing-masing.
*****
Sudah berselang beberapa menit, setelah bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring.
Kini murid-murid satu sekolahnya Daffa sudah pada berkeliaran di luar kelas sambil menggendong tas ransel sekolah.
Para siswa-siswi pada berjalan ke sana-sini, karena jam sekarang ini sudah waktunya untuk mereka pulang sekolah.
Seorang Syifa tertampak sedang berjalan bersama ketiga temannya Vira, Bella, dan Melly yang mengawali mereka di depan.
Tepatnya di sebuah koridor sekolah, mereka berempat berjalan bersebelahan menuju ke luar sekolah.
Namun langkah mereka seakan terhenti di tengah-tengah jalan koridor itu, karena Bella yang memulainya duluan.
Bella menghadap ke arah jalan yang berbeda dari teman-temannya, lalu ia menoleh ke arah mereka. "Kalau begitu, aku berpisah di sini. Soalnya aku mau ambil barang titipanku yang ada di kantin." Ucapnya.
__ADS_1
"Kenapa gak bareng aja? Kan bisa kita tunggu ... Iya kan, Melly, Vira?"
"Iya nih, Bella. Jadinya aku merasa kesepian, huhu ... " Ucap Vira dengan wajah cemberut.
"Kamu lebay ih. Palingan cuman untuk hari ini saja, aku pulangnya gak bareng."
Vira tertawa tipis sambil melihat ke arah Bella. "Hehe ... Kalau dilihat-lihat, kamu kayaknya makin sibuk aja, nih."
"Alhamdulillah, jadi banyak yang suka. Tapi bukannya aku makin sibuk lho ya, melainkan karena hobiku yang satu ini lagi berkembang."
"Iya Bella, aku jadi ikut senang. Tapi nanti malam kamu ikut main ke rumah aku, kan? Kamu juga kan, Syifa, Melly. Mumpung malam ini Mami dan Papi aku lagi di luar rumah." Pinta Vira dengan sedikit memaksa.
"Iya, dong!" Mereka berkata secara bersamaan.
"Vira, kalau itu sih gak usah ditanyakan lagi, kita harus merayakan perpindahan Melly ke sekolah ini." Ucap Syifa dengan nada cukup tinggi. "Kalau aja di rumahku lagi gak ada Papaku, pasti ngerayainnya di rumahku." Sambungnya.
"Kalau dipaksakan, nanti malah dibubarin sama papamu." Ucap Melly.
"Yah, aku juga berpikir gitu." Balas Syifa.
Di sana mereka telah melakukan sebuah perjanjian untuk datang ke rumah Vira malam ini, karena akan berpesta merayakan perpindahan Melly ke sekolah ini.
Memang persahabatan mereka bertiga tiada duanya.
Di saat yang sama, si Melly mendadak melangkah mundur sedikit. Ia mencoba mengepaskan dengan posisi teman-temannya.
Melly mendekatkan wajahnya ke telinganya Syifa, lalu ia mengeluarkan suara tepat di sampingnya. "Sstt ... "
"Allahu Akbar! Ishh ... Bikin kaget aja. Kenapa tiba-tiba membisikku?" Syifa merasa sangat dikagetkan oleh Melly, kemudian ia bertanya kepadanya.
"Aku mau ke toilet dulu." Jawab Melly.
"Kenapa tiba-tiba mau ke toilet?"
"Ini panggilan alam, mana aku tau. Tadi kan katanya bisa menunggu ... Nah, kalian tunggulah aku di tempat parkiran mobil."
"Tenang aja kalau itu mah, pasti kita tunggu. Ya udah sana, kalau kelamaan nanti malah keluar di sini deh." Ucap Vira.
"Siap, si paling tenang."
"Mau aku temani?" Tawar Syifa.
"Tidak usah."
Sesaat setelah berkata begitu, Melly langsung melepaskan tas ransel miliknya dengan cepat, lalu melemparkannya kepada Syifa.
__ADS_1
Tetapi untung saja Syifa langsung bersiaga menangkapnya. Jika tidak, mungkin tas tersebut sudah jatuh ke lantai.
"Kalian jalan duluan aja yah, nanti aku akan menyusul!" Teriak Melly yang cukup keras sambil melambaikan tangannya kepada mereka.
Melly kemudian langsung berderap pergi meninggalkan teman-temannya berdiri di sana yang tengah melihatnya.
Langkah demi langkah Melly lewati dengan begitu cepatnya menuju ke suatu tempat yang akan ditujunya.
Melly berderap cepat melalui berbagai macam ruangan kelas maupun umum. Setelah melihat adanya sebuah anak tangga, ia kemudian langsung menaikinya.
Melly terus mengulang-ulanginya sampai tiga kal, hingga akhirnya ia sampai di lantai yang paling atas di sekolahnya.
Melly berhenti dan beristirahat sejenak, karena napasnya menjadi tidak begitu teratur setelah berlari terus-menerus tanpa berhenti dari lantai bawah.
"Huh ... Huh ... " Sambil beristirahat, dari sana dia juga dapat melihat dengan jelas sesuatu di bawahnya, seperti lapangan Sepak bola dan Basket.
Setelah napasnya sudah mulai normal kembali, Melly sepertinya hanya menatap ke satu arah saja, ia melihat ke sebuah pintu yang terbuka lebar ada di pojok.
Di lantai tersebut, koridornya begitu gelap, akan tetapi cahaya terang dari luar pintu tersebut seolah-olah dapat menerangi sebagian tempat yang ada di sekitarnya Melly.
Satu langkah, Melly maju lurus ke depan. Perlahan-lahan tapi pasti Melly melangkah ke arah pintu tersebut.
Sampailah Melly tepat di depan pintu tersebut. Cahaya dari luar pintu itu seakan menerangi seluruh wajah Melly, hingga tampak bersinar terang.
Salah satu tangannya memegang pintu tersebut, Melly kemudian melangkah melewati pintu itu dengan sangat perlahan.
Di saat itu, Melly melihat seseorang teman satu kelasnya yang tak lagi asing di matanya. Tak salah lagi, itu adalah sosok Daffa.
Daffa bersandar pada tembok sambil melihat waktu di ponsel barunya, karena ia telah menunggu kedatangannya sesaat yang lalu.
"Akhirnya kamu tiba juga." Ucap Daffa seraya menutup layar ponselnya.
"Halo, Daffa. Jarang-jarang sekali kamu menyuruhku datang ke sini. Ada apa nih, ya?" Melly menyapanya dengan sangat baik dan juga ramah.
Wajah Melly masih seperti biasa, tersenyum cerah dengan penuh ketenangan.
Daffa membusungkan dada, ia berdiri tegak dan kemudian melangkahkan kakinya untuk menghampiri Melly.
Angin sangat bergelora menari-nari di sekitar tempat atap gedung sekolah, tempat di mana mereka berdiri saat ini.
Daffa dan Melly pun saling berhadap-hadapan serta menatap satu sama lain. Hanya jarak tiga meterlah yang memisahkan antara mereka berdua.
"Jadi, apa kamu udah mutusin untuk ... Bekerja sama dengan aku?" Melly memulainya duluan.
Bersambung ....
__ADS_1