
Tak lebih dari lima menit, Daffa sudah menutup mulutnya, yang artinya ia telah selesai bercerita mengenai masalah yang tadi kepada ayah dan ibunya.
Sesekali ibu Ayu mengangguk sembari mendengarkannya. "Oh, ibu mengerti. Jadi itu karena Syifa dan adiknya yang keluar tanpa izin?"
"Yah ... Kira-kira begitu." Jawab Daffa.
"Tapi, kenapa malah kamu yang dimarahinya?"
Ayah Adi menyela perbincangan mereka. "Ibu ... Ibu tahu sendirilah, kenapa ibunya Syifa memarahinya. Sebagai orang tua yang memiliki anak perempuan, pasti mereka sangat khawatir, apabila anak perempuannya pergi tanpa izin bersama dengan laki-laki."
Berkat ucapan ayah Adi yang cukup masuk akal. Hal itu, membuat ibu Ayu tak lagi berwajah kesal.
*****
Sementara itu, di lain sisi. Syifa tengah menaiki mobil pribadi bersama ibu, adik, dan tentu dengan pak Supri, sopirnya. Namun, wajah Syifa terlihat muram, sepertinya ia masih gelisah dengan kejadian barusan.
Di sepanjang perjalanannya, Syifa tidak habis-habisnya memikirkan keadaan seorang Daffa, hingga keberadaan wajahnya terbayang-bayang di dalam pikirannya.
Selain menjaga Fasa yang tengah tidur di pangkuannya, tante Intan sepertinya juga terus memerhatikan sang putrinya pertamanya, yang sejak tadi berprilaku aneh.
Tanpa basa-basi, tante Intan tiba-tiba menanyakan suatu hal yang tidak biasa kepada Syifa. "Syifa, apakah kamu menyukai Daffa?"
Syifa seketika salah tingkah, dan mukanya seakan langsung memerah. "H–hah? E—enggak ... !" Syifa menjawabnya dengan terpatah-patah.
Tante Intan kembali bertanya. "Apakah kamu yakin, akan terus bersama dengan Daffa? Yang artinya kamu berlawanan dengan Papa."
Dengan penuh percaya diri, Syifa mengangguk dan menatap tante Intan. "Ya."
"Tapi kamu akan terus-terusan mendapat masalah dengan Papa dan juga Rio lho ... "
"Yah ... Mungkin itu benar. Tapi mau gimana lagi, itu udah keputusannya aku, mah ..."
Mendengar perkataan sang putrinya yang begitu menyentuh hati. Hal itu, membuat tante Intan tersenyum sendiri melihat Syifa.
"Ehem! Cie-cie ... Akhirnya, anak pertama Mama udah punya orang kesayangan sendiri."
Tante Intan meledek Syifa, ia juga sangat gemes, hingga mencubit-cubit pipinya Syifa.
Syifa merasa malu, karena dirinya dilakukan seperti itu oleh mamanya sendiri, hingga pipinya tampak memerah. "Eh? A—a–aku gak pernah bilang begitu."
Alasannya malu tak hanya itu saja, sebab selain mereka berdua yang mendengarnya, ada juga di depan seorang sopirnya yang mendengar obrolan mereka. Yaitu pak Supri, yang sejak tadi hanya terdiam dan fokus mengendarai sebuah mobil.
__ADS_1
Tante Intan mengelus kepalanya Syifa. "Kamu boleh saja menyukai seseorang, tapi jangan sampai kamu melakukan hal-hal yang melewati batas sebagai pelajar."
"Emm, Iyah ... "
Syifa tiba-tiba menundukkan kepalanya, dibarengi dengan matanya yang kembali berkaca-kaca. " ... Tapi itu percuma saja, kan? Habisnya, bagaimanapun juga aku akan tetap bersama Rio nantinya."
Melihatnya bersedih, tante Intan sepertinya juga ikut sedih melihat maupun mendengarnya. Tante Intan kemudian mengusap rambut hitam yang menutupi sebagian keningnya Syifa.
"Kamu kok sedih? ... Padahal tadi percaya diri sekali loh."
Syifa masih dengan menundukkan kepalanya dan hanya terdiam saja. Tante Intan pun kembali mengelusnya dengan pelan dan lembut. "Tenang saja, mulai sekarang dan seterusnya, mama akan membantu anak kesayangan mama kok. Walaupun harus berlawanan dengan papa."
Mendengar hal itu, Syifa refleks membuka kedua matanya lebar-lebar, lalu ia tatap wajah mamanya itu. "M–Mama seriusan?!"
Tante Intan mengangguk. "Iya dong, sayang."
Kegembiaraan sangat tergambar di wajahnya, Syifa sangat girang sekali setelah mendengarnya. "Wah ... Terima kasih banget. Mama ... "
"Sama-sama."
Tante Intan membalas perkataannya dengan sebuah senyuman. Kemudian, ia memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
Selagi menyetir mobil, pak Supri diam-diam mengintip mereka dari kaca spion dalam tengah. Ia tersenyum kecil, walau hanya sesaat saja.
Syifa menengadah ke atas, ia benar-benar melihat wajah tante Intan. "T–tapi ... Aku belum siap."
"Udah gak apa-apa. Pokoknya besok juga kamu harus langsung mencobanya. Anak Mama harus percaya diri." Seru tante Intan yang menyemangati sang putrinya.
Mendengarnya saja, sudah bikin Syifa gemetaran di seluruh tubuhnya, karena saking tertekannya. Hatinya pun masih belum siap, untuk melakukan suatu hal yang di rasanya cukup mendebarkan. Lantas Syifa hanya berekspresi datar dan terdiam seperti halnya patung.
"Aku jadi deg-degan sendiri ... !" Batin Syifa.
*****
Besoknya, Daffa terbangun oleh sebuah bunyi bising yang bersumber dari alarmnya sendiri. Daffa pun bangun dan langsung mengambil air wudu.
Selesai beribadah, Daffa langsung mandi dan tak lupa untuk menggosok giginya, supaya tetap putih dan bersih.
Daffa lalu melakukan hal-hal kebiasaannya saat sebelum berangkat ke sekolahnya.
Daffa sudah siap dengan kesempurnaan pakaian OSIS-nya. Di rumahnya, sesaat sebelum berangkat sekolah, Daffa dari tadi terus melihat salah satu kotak bekal milik Syifa yang tertinggal di rumahnya. Daffa melihatnya, seperti sedang terbayang-bayang dengan sesuatu hal di dalam pikirannya.
__ADS_1
Tak mau pikir panjang, Daffa langsung menaruhnya di dalam tas sekolah miliknya. Mungkin Daffa membawanya ke sekolah, untuk nanti ia kembalikan kepada Syifa.
Sebelum keluar dari rumahnya, Daffa terlebih dahulu berpamitan dengan kedua orang tuanya. Dan tak lupa juga, Daffa berpamitan dengan satu-satunya kucing yang menghuni rumahnya.
Garis rumahnya terlewati oleh langkah kakinya. Daffa menatap lurus ke depan dengan wajah yang datar.
"Bismillah ... Semoga aja tak lama lagi, aku akan menemukan sosok keluarga Aciel!" Seru Daffa sendiri.
*****
Tak telat maupun kepagian, Daffa hampir sampai di depan gerbang sekolahnya. Ia sampai di sana, tepat jam setengah tujuh pagi.
Tak ada angin, tak ada hujan, tetapi langkah Daffa tiba-tiba saja terhenti di tengah jalan. Matanya melotot ke arah seseorang yang tengah berdiri, persis di depan gerbang sekolah.
Seseorang yang tak asing bagi Daffa itu, terus menengok kanan-kirinya dan sesekali melihat layar handphonenya.
Tidak salah lagi, sosok itu adalah Syifa yang seolah-olah sedang menunggu keberadaan seseorang.
"Kenapa dia terus berdiri di sana? Oh iya, ini mungkin kesempatanku untuk mengembalikannya." Gumam Daffa dalam hati.
Karena ini mungkin kesempatan mengembalikan kotak bekal itu baginya, Daffa pun hendak untuk membuka ritsleting tas miliknya.
Namun di saat yang sama, Syifa telah melihat keberadaan Daffa dari tempat berdirinya. Sedetik kemudian, Syifa langsung berlari dengan wajah kegirangan ke arah Daffa.
Syifa berteriak. "Daffa ... !"
Melihat hal itu, membuat Daffa bergerak cepat untuk membuka tasnya.
Di saat berlari, Syifa juga merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Dalam benak Daffa, sepertinya dia berniat untuk memeluknya.
"D—dia sudah gila!" Gumam Daffa.
Daffa semakin gugup, ketika mencari sebuah benda dalam tasnya, di saat keadaan yang genting ini. Hingga dirinya tidak sengaja menjatuhkan tas miliknya ke tanah.
Tapi untungnya, Daffa dapat menghentikan Syifa dengan menempelkan sebuah kotak bekal ke kepala Syifa, di saat-saat terakhir.
"Eh?"
Syifa bingung sendiri, karena langkahnya yang berhenti dengan sendirinya. Dia pun mengetahuinya setelah melirik ke atasnya.
Daffa sangat lega melihatnya. "Huh, hampir saja."
__ADS_1
Bersambung ....