Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 80 : Kedatangan Murid Baru


__ADS_3

Karena suara yang terdengar cukup keras itu, semua murid seakan terkaget. Mereka pun sampai terbengong, ketika melihat sosok Syifa yang mendadak berbicara keras di dalam kelas.


Syifa menoleh ke arah teman-temannya, ia kemudian berjalan menghampiri Daffa dan yang lainnya, sambil menghentakkan kakinya.


Baru sampai di sana, Syifa langsung memasang wajah kesal. "Dia tidak melakukan itu, aku tahu itu!"


Mendengarnya sudah membuat Bella jantungan. Bella sedikit mengangkat kedua tangannya ke arah Syifa, sepertinya ia mencoba untuk menenangkannya. "Iya-iya ... Tenang Syifa, itu gak pasti bener, kok."


"Tapi gak biasanya lho, kita lihat kamu belain Daffa, sampai marah-marah begini." Lanjut Bella.


Yang lain pada ikut mengangguk. "Iyalah, benar apa kata Bella ...Memangnya kamu kenapa, Syifa?"


Vira tersenyum kecil. "Lagi datang bulan, yah? ... "


Mendengar hal itu, membuat Syifa tersipu malu. Ia berkali-kali diledek dengan perkataan oleh teman-temannya.


Daffa yang hanya mendengar dan menyimak perkataan mereka saja, juga merasa tidak nyaman di dalam dirinya.


"E–eh? ... Aah ... Tidak-tidak. Kenapa kalian malah bicara ke situ."


Tak mau terus-terusan diledek temannya, Syifa kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya kembali seperti semula.


Syifa menyeka sejumlah rambut yang menutupi keningnya, sesaat sebelum mengatakan suatu hal. "Omong-omong Bella, kamu dengar cerita palsu itu dari siapa?"


Syifa menatap Bella dengan raut wajahnya yang setengah serius.


Secara tiba-tiba dan juga tidak disangka-sangka, mereka kompak mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.


Dimulai dari Bella, ia mengangkat salah satu tangannya, lalu jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah Farrel. "Aku dari Farrel."


Mengetahui dirinya ditunjuk, Farrel langsung menunjuk Ridho. "Dari Ridho."


Sedangkan Ridho menunjuk ke arah Vira. "Vira ... "


Vira menoleh, ia melihat dirinyalah yang ditunjuk paling akhir. "A—aku juga tahu dari obrolan murid di kelas lain."


"Nah, kan ... "


Syifa menghela napas panjang. "Huft ... Ya sudahlah. Lain kali, kalian juga jangan ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks. Kasihan Daffa, kan? Dia jadinya bingung dan plonga-plongo sendiri."

__ADS_1


"Plonga-plongo? Eh ... Aku malah sangat tersinggung dengan ucapannya yang memang benar." Gumam Daffa dalam hati.


Tak hanya Bella saja, tapi semua yang mendengarkannya pun juga mengangguk kepalanya. "Baiklah, Syifa."


"Daffa, maafkan kita yah ... " Ucap Bella sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Ah, iya. Gak usah dipikirkan."


Sebagai tanda permintaan maafnya kepada sahabatnya itu, Bella kemudian menghampiri Syifa lalu menggenggam tangannya. "Syifa, sepertinya kamu agak sedikit berubah, sejak terkahir kali kita bertemu."


Syifa cukup kaget mendengarnya. "Eh, apa aku terlihat berubah?"


"Ya, sedikit. Semua orang yang melihatmu, juga sudah pasti menyadarinya."


"Uwah ... !" Mendengarnya langsung membuat Syifa merasa sangat senang.


Matanya sangat berbinar-binar ketika telapak tangannya memegang pipinya sendiri. Itu semua dapat terjadi, karena rasa kegembiraannya yang sedang meningkat.


Di tengah-tengah kelas yang sedang ramai itu, tiba-tiba saja ada salah seorang siswa yang masuk ke dalam kelas sambil berteriak. "Semuanya cepatan duduk, ada Bu Fitri di luar sedang menuju ke sini!"


Dalam hitungan detik, semuanya telah duduk dengan rapi, termasuk Syifa.


Sudah beberapa detik para murid telah menunggu, akhirnya langkah kakinya bu Fitri menampakkan diri melewati pintu kelas.


Sama seperti siswa lainnya, Daffa juga tampak tertegun ketika melihatnya. Karena soosok perempuan tersebut, tak asing lagi bagi Daffa.


"T–tidak salah lagi, itu adalah Melly." Gumam Daffa dalam hati.


Sedangkan Syifa, ia langsung merasa kegirangan saat melihat sosoknya masuk ke dalam kelasnya. Kemungkinan Syifa telah mengetahuinya lebih dahulu, kalau Melly datang ke sekolahnya.


Syifa kemudian melambaikan tangannya kepada Melly. "Melly ... "


Melly membalasnya dengan sebuah senyuman sambil melambaikan tangannya juga.


Setelah masuk ke dalam kelas, bu Fitri langsung duduk di kursi depan. Sambil duduk, Bu Fitri pun sedikit menjelaskan, mengenai salah seorang perempuan yang dibawanya ke kelas.


"Anak-anakku sekalian, hari ini kelas kota kedatangan murid baru ... Silahkan Melly, kamu sekarang bisa perkenalkan dirimu di hadapan teman-teman yang lain."


Melly mengangguk. "Baik, Bu Guru."

__ADS_1


"Murid baru? Dua puluh empat murid aja udah ramai, apalagi tambah satu." Gumam Daffa.


Dengan penuh percaya diri, Melly sendirian berdiri di depan papan tulis, dengan wajahnya yang selalu tersenyum sejak tadi.


Tak hanya itu saja, tatapannya juga begitu santai dan tidak gugup, ketika berdiri di hadapan banyak murid, hingga dapat membuat Daffa terkagum atas kepercayaan dirinya.


Melly berbicara seraya menggerakkan kedua tangannya ke sana-kemari. "Halo teman-teman ... ! Perkenalkan, nama saya Melly Veronica, panggil saja Melly. Mulai hari ini, saya akan bergabung ke dalam anggota kelas ini. Jadi saya berharap, kita bisa saling akrab satu sama lain."


Di saat Melly sedang memperkenalkan dirinya di depan teman kelas, Daffa justru lebih fokus berkata sendiri dengan diri sendirinya.


"Kira-kira ... Apa tujuannya Melly? Dia pindah ke sekolah ini, setelah Fandi dan kawan-kawannya keluar. Tapi yang kudengar dari Syifa, Mellylah seseorang yang sangat dekat dengan Rio."


"Ini ... Hanya kebetulan saja, atau memang tidak sama sekali? ... " Gumam Daffa dalam hati.


Tak lebih dari satu menit, Melly menutup mulutnya, sesaat setelah selesai memperkenalkan dirinya.


Melly tampak kebingungan, ia menengok kanan-kirinya. Melly tidak melihat adanya meja dan kursi yang kosong di depan matanya.


Daripada berdiam diri saja dan menunggu gurunya menyadarinya sendiri, Melly lebih memilih untuk bertanya langsung kepada bu Fitri.


"Bu Fitri, aku duduknya di sebelah mana?" Tanya Melly sambil menghadap ke bu Fitri.


Bu Fitri baru ingat, ia pun menepuk jidatnya sendiri. "Astaghfirullah ... Ibu lupa."


Bu Fitri kemudian berdiri dari kursinya. "Kelas ini jadwal piketnya udah dibikin atau belum?"


"Sudah ... Bu ... " Beberapa murid di kelas menjawabnya secara serentak. Dan beberapa murid yang lain, ada yang menunjuk ke arah mading jadwal kelas piket itu berada.


Perasaan bu Fitri cukup senang, ketika mendengar jawaban positif dari siswa-siswinya.


Bu Fitri kemudian langsung menyuruh beberapa siswa untuk mengambil meja dan kursi, yang nanti akan dipakai oleh Melly.


"Kalau begitu, anak cowok yang hari senin piket, Ibu minta tolong ... Ambilin satu pasang meja dan kursi di gudang sekolah." Pinta bu Fitri.


Mendengar perkataannya saja, sudah membuat Daffa merasa terpanggil.


Daffa mendengus. "Kenapa ... Kenapa jadwal piketnya dipilih lewat urut absen? Kenapa harus hari senin? Kenapa nomor absenku harus empat?" Daffa beriuh kesal sendiri, di dalam hatinya.


Tidak dengan ucapan hatinya, ucapan mulutnya Daffa justru menerima dengan baik permintaannya bu Fitri. "Siap, Bu."

__ADS_1


Daffa kemudian berdiri dari tempat duduknya, tapi ternyata ia tidak sendirian, ada satu siswa lain yang juga berdiri seperti Daffa.


Bersambung ....


__ADS_2