Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 73 : Masalah Yang Dihadapi Syifa


__ADS_3

Ucapannya pelan, tapi masih dapat terdengar oleh Syifa. Mulutnya seakan tertutup rapat, dikarenakan dirinya yang merasa kebingungan. Suasana di antara mereka seakan menjadi sangat berubah.


"Anu, Daffa ... Kamu itu jangan nakut-nakutin aku mulu."


Tangannya Daffa menunjuk ke arah wajahnya sendiri. "Apa aku seperti sedang menakut-nakuti? Enggak, kan? Aku hanya ingin berbicara lebih serius denganmu."


"Lebih malah." Gumam Syifa dalam hati.


Syifa menatap balik Daffa. "Oke lah, tapi permintaannya jangan macem-macem lho ... "


"Tenang saja, hanya satu kok. Tapi sebelum itu, lebih baik kita duduk terlebih dahulu."


Daffa membangunkan diri, ia kemudian duduk dengan kaki berselonjor ke depan. Setelahnya, Daffa pun membantu Syifa dengan menarik tangannya supaya bisa bangun dan duduk lebih cepat.


Daffa menahan perutnya ketika tengah menarik tangannya. "Cukup berat juga kamu ya."


Syifa akhirnya duduk bersebelahan dengan Daffa setelah sekian detik berlalu. "Ih, kamu mah ... Aku tuh gak berat, kamunya aja yang lemes."


Wajah Syifa tiba-tiba memerah ketika mengucapkan sesuatu. "Cuman, kamu pasti sudah tau, kan? Gumpalan lemaknya ngumpul di mana?"


Daffa membuka mulutnya, ia sedikit tersenyum menanggapi perkataan Syifa. "Ah, i–iya."


Tak lama kemudian, Daffa menghela napas panjang. Pandangan mata mereka saling menatap satu sama lain. "Baiklah, kita kembali ke poin utama."


"Kamu pasti tahu sendiri, banyak yang mengira termasuk diriku, kalau kehidupanmu itu selalu menyenangkan. Tapi, setelah banyak hal yang aku lihat akhir-akhir ini, itu membuat pandanganku terhadapmu sangat berubah."


"Nah, Syifa. Sekarang ... Coba ceritakan masalah yang kamu pendam sendiri dalam hati."


Mendengar hal itu, Syifa tiba-tiba langsung menundukkan kepalanya. Senyuman wajahnya mengkerut, menandakan jika dirinya tak lagi bersenang. "Baiklah ... Jika itu maumu. Tapi seperti yang kubicarakan, ini semua karena si banyak tingkah itu. Karena itulah aku membenci Rio."


Di saat itu, mulailah Syifa mengungkapkan curahan hatinya dengan maksud menceritakan kejadian yang sangat tidak menyenangkan baginya yang dialaminya sewaktu dulu.


Ketika Syifa bercerita, Daffa menyimak dengan saksama setiap kalimat yang diucapkannya. Sering kali Daffa mengangguk maupun menggeleng kepala sebagai tanggapannya. Semua itu berlangsung, hingga Syifa menyelesaikan ceritanya yang cukup panjang itu.


Bercerita dengan cukup panjang dan lebar, membuat mulutnya terasa kering. Syifa pun mengambil botol air minumnya, dia minum air tersebut walau hanya sekali tegukan.

__ADS_1


Syifa merasa sendu, dirinya kembali menundukkan kepalanya sedikit ke bawah. Syifa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Secara tak sadar, ia telah mengeluarkan sebutir tangisan air mata.


Daffa yang melihatnya merasa khawatir dengannya. "Hey, kamu tidak apa? ... "


Syifa mengangguk dan menggeleng, tangannya malah semakin menekan wajahnya yang tampak teroles oleh cucuran air matanya.


"Dengan kata lain, berarti kamu dipaksa untuk saling suka dengannya?"


Suaranya Syifa sangat pelan dan lembut. "Iya ... "


Syifa kembali mengangguk, tapi kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba saja Syifa melompat tepat ke dekapan Daffa.


Daffa seakan terkaget dalam sekejap, dikarenakan Syifa yang secara sengaja melompatkan diri kepelukan Daffa.


Akan tetapi, berbeda lagi dalam sudut pandang Daffa. Dirinya justru memandang Syifa yang tengah mengusap air mata sekaligus ingusnya menggunakan baju miliknya. "Hiks ... Hiks ... Hiks ... "


Syifa menengadah ke atas, wajahnya mewek dan memelas kasih. "Kamu telah membuatku menangis seperti ini, jadi kamu harus bertanggung jawab."


"Tanggung jawab?"


Syifa mengangguk sekali dengan pelan, kemudian ia peluk Daffa dengan erat. "Daffa, kumohon ... Berjanjilah untuk melindungiku dari Rio."


Dengan optimis yang luar biasa, Daffa berani melangkah lebih jauh untuk tujuannya walaupun resikonya akan lebih besar dari yang dikiranya.


"Tapi semua itu akan kulakukan, jika kamu mau menuruti segala perintahku."


Syifa terdiam dalam sesaat, dia mengusap matanya terlebih dulu. "Bukannya tadi pagi kamu sudah mengatakan ucapan yang sama?"


"Jelas berbeda. Pagi tadi aku berbicara tentang permintaan, tapi sekarang aku berbicara mengenai perintah."


"Baiklah ... Aku akan menurutinya, asalkan kita selalu bisa bersama-sama seterusnya."


Syifa kemudian kembali memeluknya, tapi kali ini air matanya telah tiada dan wajah keceriaannya telah kembali seperti semula.


Hingga Daffa merasa kewalahan terhadap tingkahnya yang terus menempel padanya. Sebenarnya dalam keadaan tersebut, Daffa sangatlah malu. Tapi ia dapat menahannya hanya dengan lebih berdiam diri.

__ADS_1


Daffa selalu mengingat suatu perkataannya sendiri ketika dirinya sedang terdesak oleh Syifa. "Huh, Tenang Daffa. Jangan pernah membawa perasaan. Jika tidak, semuanya akan gagal."


Daffa terus mengingatnya, selagi menahan rasa malunya yang sudah sangat meluap-luap. Hingga akhirnya seluruh bagian matahari terbenam dan sudah tak terlihat dari permukaan bumi. Dan di saat itulah, suara azan berkumandang cukup keras dari masjid terdekat.


*****


Setelah Daffa dan Syifa menghabiskan beberapa waktu mengelilingi desa, mereka pun akhirnya pulang dengan pakaian yang tampak basah dan kotor.


Sekarang Wajah Daffa dan Syifa tampak lebih bersih dengan suasana pakaian yang baru. Mereka telah selesai salat bersama yang lainnya dari masjid dan kini sedang mengemas barang-barang bawaannya, karena mereka sebentar lagi akan pulang malam ini juga.


Nenek Sumi menghampiri mereka. "Kalian semua mau pulang sekarang juga?"


Ibu Ayu membalas. "Iya, besok kan anak-anak berangkat sekolah."


Wajah sang nenek mengkerut, ia merasa sangat bersedih karena sudah tak terasa mereka akan pulang kembali ke kota. Nenek berpikir sejenak, sepertinya ia melupakan sesuatu. Dan suatu ketika sang nenek tiba-tiba melangkahkan kakinya, ia berjalan cepat menuju kamarnya. "Sebentar ... !"


Daffa dan bersama yang lainnya akhirnya selesai berkemas setelah berjalannya waktu sekitar 5 menit. Di saat itu mereka sudah berada di ruang depan dekat pintu.


"Sudah tidak ada lagi yang ketinggalan?" Tanya ibu Ayu.


"Tidak ada, mungkin." Jawab Daffa.


Tak begitu lama, Nenek Sumi kembali dengan membawa sebuah benda di tangannya, itu adalah sebuah kamera yang bentuknya terlihat cukup kecil.


"Jreng ... !"


Nenek Sumi mendekati Ayah Adi, lalu ia berikan kamera itu kepadanya. "Sebelum kalian pulang, mari kita berfoto dulu."


Ibu Ayu menaruh kembali tas bawaannya di atas Sofa, ia menepuk bahunya Syifa dengan berkata. "Ayo anak-anak, kita berfoto di luar dulu."


Syifa dan Fasa kompak menjawab. "Baik, tante!"


"Ehh ... Kapan-kapan ajalah ... Padahal aku udah siap untuk pulang."


Daffa sangat mengeluh, ia yang sudah paling siap membawa barang bawaannya dan yang paling menantikan pulang ke rumah, sekarang harus menundanya sebentar.

__ADS_1


Nenek Sumi yang melihat Daffa tak bergerak sama sekali dan hanya mengeluh saja, ia pun langsung menarik tangannya Daffa dengan paksa. "Eits, eits, eits ... Kamu gak boleh nolak."


Bersambung ....


__ADS_2