
Tepat di sampingnya Farrel dan murid-murid lainnya, tertampak wajah Daffa yang terkaget-kaget setelah mendengar nama Fandi. Alisnya terlihat menaik, mulutnya juga membuka sedikit demi sedikit.
Daffa tampak sedang berbicara sendiri di dalam hatinya, "Bu-bukannya Fandi yang kemaren aku bertemu dengannya? Apa bener itu dia?..." Dia terlihat tengah berpikir.
"Apa mungkin ini yang dimaksud Fandi soal dia yang menjadi calon pacarnya Syifa?! Hmm, apa benar begitu?..." Gumam Daffa dalam hatinya.
Di sisi Farrel, dia dari tadi terus-menerus menarik-narik tubuhnya Daffa sembari memanggilnya. "Woy! Daf!... Daffa!..."
Daffa pun kemudian terkejut karenanya. "Eh? Iya maaf-maaf, tadi kenapa?" Tanya Daffa.
"Ampun dah, malah melamun." Ucap Farrel yang tampak kesal. "Huft, lo kenal sama Fandi?" Sambungnya.
"Oh... Kalau itu aku e-enggak kenal," jawab Daffa yang bersilat lidah.
"Begitu ya, gue juga sama. Sama-sama enggak kenal." Ucap Farrel.
Tak lama setelah itu, Farrel tampak tertawa kecil di samping Daffa. "Hehe, hehe, hehe."
"Hahaha!..." Kemudian Farrel tertawa terbahak-bahak sendiri di tengah-tengah gerombolan itu.
Murid-murid lain yang berada di sekitarnya seketika mereka semua melihat ke arah Farrel setelah ia tertawa seperti itu.
"Farrel, kamu pasti stress gara-gara kebanyakan tugas yah?" Tanya Daffa yang terheran-heran ketika melihat Farrel yang tertawa seperti itu.
Setelah berhenti tertawa, Farrel tampak menatap ke arah Daffa. "Gua tebak, ini sih pasti dia bakalan ditolak mentah-mentahan. Haha..."
"Dari mana kau tau? Pasti ngarang," balas Daffa.
"Iya-iya, betul tuh. Main nebak-nebak aja luh, kayak peramal." ucap murid-murid lain yang ada di sekitarnya Farrel ikut-ikutan membantah perkataannya.
"Ya emang kenyataannya begitu, udah berulang kali terjadi saat Syifa masih duduk di bangku SMP. Kalau gak percaya nanti lihat saja," ucap Farrel.
"Lo satu SMP dengan Syifa? Emangnya Lo itu siapanya dia?" Tanya salah satu siswa.
Salah satu siswa lainnya tampak menyikut siswa yang bertanya kepada Farrel. "Apa kamu lupa? Dia itu cowoknya si Bella."
"Oh iya, aku lupa. Hehehe... Maaf-maaf," balas siswa yang disikut.
"Santuy, gitu aja minta maaf." Ucap Farrel dengan santai.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Farrel tampak membalikkan badannya dan hendak berjalan ke suatu tempat di sekolah.
Daffa yang melihatnya seketika ia langsung bertanya kepadanya. "Rel, kamu mau ke mana?"
"Gue mau ke perpustakaan dulu, selagi ini masih pagi. Soalnya gue udah bosan melihat Syifa yang menolak cowok terus, gue tuh maunya lihat dia menerima salah satu cowok. Itu baru epik!" jawab Farrel yang panjang lebar seraya menoleh ke arah Daffa.
"Aku ikut," ucap Daffa.
"Lo di situ aja, lagian lo belum pernah melihat Syifa ditembak orang kan?" Perintah Farrel.
"Ah, iya sih. Tapi kan..." Belum sempat Daffa menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Farrel berjalan pergi.
"Ya udah, aku pergi dulu." Sela Farrel yang kemudian berjalan ke arah perpustakaan sekolah.
Daffa tampak menuruti perkataan Farrel dan ia hanya menghela nafasnya dalam-dalam di tempat. "Huft..."
"Ya udah lah, palingan juga cuma sebentar," gumam Daffa.
Hanya dalam hitungan beberapa detik setelah Farrel pergi meninggalkan Daffa, tiba-tiba saja terlihat Fandi dan kedua temannya yang kini sudah berdiri di depan pintu masuk gedung sekolah.
Fandi tampak membawa sekumpulan bunga mawar yang cantik nan indah. Mereka bertiga berlagak sok keren ketika diperhatikan oleh murid-murid yang lain.
Beberapa saat setelah Fandi muncul, terlihat juga ada mobil yang berhenti di depan gerbang sekolah. Mobil tersebut sama persis dengan mobil yang waktu itu Daffa dipaksa ikut pergi oleh Syifa dan teman-temannya.
Pintu mobil itu terbuka dengan perlahan. Dan turunlah beberapa gadis penuh pesona satu persatu. Ya, mereka adalah Syifa, Vira, dan juga Bella yang turun dari mobil tersebut.
Mereka bertiga kemudian tampak berjalan pelan melewati gerbang sekolah secara bersamaan. Mereka hendak masuk ke kelasnya.
Namun, Syifa dan teman-temannya mulai terlihat keheranan ketika melihat murid-murid lain pada bergerombol dan berdiri di pinggir jalan sambil melihatnya.
"Ini... Ini ada apa? Kok rame banget?..." Bisik Vira kepada Syifa dan Bella.
"Aku pun tak tahu lah..." Bisik Syifa.
"Hey, coba lihat ke arah depan sana. Itu tuh yang ada tiga orang di sana," bisik Bella.
Mereka bertiga pun melihat ke arah depan yang di mana Fandi yang tengah membawa sekumpulan bunga mawar bersama Fundi dan Fendi berada.
Di sisi lain, Fandi tampak sedang menyiapkan dirinya yang sebentar lagi akan melakukannya di depan murid-murid lainnya.
__ADS_1
"Bos, kamu sudah siap?" Tanya temannya atau juga bawahannya Fandi.
Fandi membalasnya dengan tersenyum lebar sembari mengangkatkan jempolnya ke arah temannya itu. "Siap dong..."
Di sisi Daffa, ia terlihat tengah seru-serunya menonton drama gratis di sekolahannya. "Lumayan, tontonan gratis."
Rasa penasarannya semakin bertambah ketika Syifa dan teman-temannya datang. Ia pun tak segan-segan untuk berjinjit agar dapat melihatnya dengan jelas dari pinggir jalan.
Keadaan pun semakin memanas ketika Fandi yang juga sudah mulai berjalan ke arah Syifa. Dan di belakangnya diikuti oleh kedua temannya.
Langkah demi langkah mereka lalui. Mereka sama-sama melangkah jalan ke arah yang kebalikan. Syifa melangkah jalan ke arah Fandi, sedangkan Fandi melangkah jalan ke arah Syifa.
Tetapi dengan tiba-tiba, tampak Syifa dan teman-temannya yang berhenti di tengah jalan karena Syifa yang menyuruh. "Eheh, stop-stop." Pinta Syifa.
"Ya ampun... Lagi-lagi begini..." Ucap Syifa lirih sambil mendengus.
"Sudah kuduga, hihihi...." Ucap Vira dengan tawaan kecilnya.
"Nerima apa nolak nih ya..." Ucap Bella sembari melirik ke arah Syifa.
Sementara itu, Fandi dan kedua temannya justru masih terus melangkah jalan ke arah Syifa yang berhenti di tengah jalan. Fandi sangat percaya diri.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi Fandi akan berada tepat dihadapannya Syifa. Suasana di sekitar pun terlihat hening tak bersuara karena mereka semua tampak sedang fokus melihatnya.
Dag
Dig
Dug
Langkah terakhirnya pun mendarat tepat di depannya Syifa. Dan Fandi kini tengah berhadap-hadapan dengan Syifa. Mereka berdua saling bertatapan. Mukanya Fandi terlihat tersenyum lebar saat menatap Syifa, sementara Syifa tampak biasa-biasa saja.
"Semangat bos..." Bisik temannya Fandi dari belakangnya yang tampak tengah menyemangatinya.
Sesaat setelah itu, Fandi pun kemudian tampak menurunkan tubuhnya lalu ia bertekuk lutut dihadapan Syifa. Dia mengulurkan tangannya seolah-olah ingin memberikan bunga itu kepada Syifa.
"Sebenarnya aku telah lama memendam perasaan ini, tetapi aku malu mengatakannya." Fandi mengeluarkan isi perasaannya.
"Aku... Aku... Aku mencintaimu! Mau kah kamu menjadi pacarku?!..." Fandi mengatakannya dengan gugup dan lantang dihadapan Syifa.
__ADS_1
Bersambung....