Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 96 : Sebuah Sepeda Keranjang


__ADS_3

"Bagus-bagus, aku suka seseorang yang pembohong, itu keren sekali. Padahal matamu sangat ketagihan, tapi mulutmu malah berpura-pura tidak tahu."


"Itu karena kebetulan liat!"


Si kecil putih ikut berbicara. "Wahai sahabatku, engkau sedang terjerumus ke dalam kesasatan, maksud saya kesesatan. Engkau telah mengambil kesempitan dalam kesempatan—"


"Bukannya kesempatan dalam kesempitan?" Daffa menyela bisikannya.


"Itu dia maksudku. Bentar, akan saya ambil kamusku dulu."


Dia mengambil sebuah buku, lalu meneruskan bisikannya. "Menurut teori kamusku, engkau harus membuatnya pingsan, lalu menaruhnya di depan teras."


"Bagaimana caranya? Lagian kalian itu siapa? Hantu?" Daffa bertanya-tanya dengan diri sendiri.


"Jika engkau tidak bisa, engkau bisa pilih jalur alternatif."


"Emangnya aku sedang memilih ujian masuk, apa yah?"


"Dengan cara membiarkannya keluar, lalu menyuruhnya pulang dengan paksa." Ucap si kecil putih.


"Jangan dengarkan dia, temanku. Atau kau akan kehilangan semangat hidup!"


"Jangan dengarkan dia, wahai sahabatku. Dia hanya akan menyesatkanmu ke jalan yang salah."


"Hah? Apa katamu?!"


"Harusnya aku yang bilang. Apa katamu?!"


Mereka ribut hingga bertengkar di akal pikirannya Daffa.


"Bodohnya aku, bisa sampai berhalusinasi hanya karena dia." Batinnya.


Daffa mendengus pasrah. "Huh ... " Tiba-tiba ia menurunkan tangannya dan menempelkannya tepat di atas kepalanya Syifa. "Baik-baik, aku yang mengalah."


Syifa tertegun di tempat ketika melihat Daffa berkata barusan. "Ck!"


Diambilnya kunci rumah itu dari tangan Daffa, Syifa tak berkata-kata kepada Daffa, hanya saja dia menginjak salah satu kaki Daffa dengan perasaan yang sangat greget.


Tap!


"Ad-duh! Bukannya berterima kasih." Rintih Daffa.


"Hmph!" Syifa melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Daffa, membuka pintunya dengan cepat, dan keluar dari rumah itu.


Sementara Daffa, ia masih berada di rumahnya dengan merasakan rasa sakit sambil memegangi kakinya.


Tak lama kemudian, Daffa juga ikut berjalan keluar, ia melihat seorang Syifa yang ternyata masih berada di sana.


Karena tidak ada kursi, dia duduk di atas lantai dengan raut wajah yang sudah bosan menunggu.


"Sakitnya udah sembuh?"


"Ah, sudah. Kamu kok masih di sini? Tidak langsung pulang?" Sambil berkata, Daffa melangkah pelan menghampirinya.


"Ngapain pulang? Kita kan sudah berniat pergi ke rumah Vira."


"Lah, kenapa gak bilang dari tadi."


Syifa berdiri, mengusap-usap pakaiannya yang terkena lantai, lalu menatap ke arah Daffa. "Udah jangan banyak bicara. Cepet ambil motormu, nanti kita telat lagi."

__ADS_1


"Motor? Tapi aku tidak punya motor."


"Serius?"


"Serius,"


"Seriusan?!" Wajah Syifa agak panik.


"Seriusan malah." Daffa mengucapkannya lagi.


"Emm, punya ayahmu ada, kan?" Syifa mengucapkannya dengan ragu-ragu.


"Lagi dibawa pergi. Lagian aku juga belum punya SIM, ingat ... Kita itu masih di bawah umur."


"Iya deh, terus? Kamu punya solusinya gak?"


"Seperti biasanya aja, kita naik—'


"Jangan pakai transportasi umum!" Syifa menyela perkataannya.


Dengan wajah terheran-heran, Daffa bertanya kepadanya. "Kenapa? Biasanya juga begitu."


"Itu kalau biasanya, tapi ini lagi gak biasanya. Pokoknya jangan, titik!"


"Alasannya?"


"Tidak ada alasan." Elaknya, pandangan matanya sekali-kali menyelinap ke bawah.


"Kalau begitu tidak usah pergi." Cueknya, Daffa langsung berjalan pergi menuju pintu rumahnya.


Melihat hal itu, Syifa langsung menahan tangannya dan mengucapkan suatu hal. "Eh, baiklah-baiklah. Akan aku ucapkan alasannya."


Daffa membalik badannya, menatap Syifa, dan menarik balik tangannya. "Jadi?"


"Bohong sekali,"


"Aku juga lupa bawa dompet,"


"Gak mungkin banget." Ucapnya, tapi Daffa berusaha menahan sebaris perkataan yang lainnya dan hanya dituangkannya di dalam hatinya. "Alasan yang terbilang cukup aneh, padahal aku mempunyainya. Tapi malas juga, jika aku omongkan."


"Dih, aku serius ... Ditambah banget malahan."


"Apa kamu yakin?"


"Yap, sangat yakin." Syifa sangat penuh keyakinan.


"Demi apa?" Daffa mengucapkannya, ia telah mengucapkan perkataan yang sangat dinantikannya sendiri. Mulutnya tersenyum sinis tapi tak bersuara.


"De–demi apa? A ... Aku hanya bisa mengatakan kalau ini demi keselamatan diriku sendiri." Suara Syifa mendadak jadi gagap.


"Tidak. Demi apa?" Daffa langsung membantahnya, membuat Syifa kebingungan saat akan berkata.


"Emm, d—demi ... "


Saking gugupnya, Syifa terus mengalihkan pandangan matanya ke samping kanan dan kiri.


Hingga tak jauh dari sampingnya, walau kurang jelas tapi Syifa melihat sebuah benda seperti keranjang dan terdapat ban kecil di bawahnya


Wajah Syifa tersenyum lebar, ia langsung berteriak. "Demi sepeda!"

__ADS_1


"Hah?" Daffa terheran-heran, ia jadi ikut-ikutan melihat ke arah itu.


"Sepeda!'


"Apanya?"


"Kita pakai sepeda keranjang itu saja."


Syifa mendadak jadi sangat bersemangat, ia berderap dari depan rumah Daffa mengarah ke sepeda keranjang itu.


Dan sampailah ia di halaman rumah Daffa, tepat di mana sepeda itu terparkir.


Ia berjongkok, mengangkat tangannya, lalu mengelus sepeda tersebut. Matanya berbinar, ia begitu tertakjubnya dengan sepeda itu, ketika melihatnya dari dekat.


"Wah ... ! Bukankah ini terlihat masih bagus?" Ucap Syifa.


Melihat hal itu, membuat Daffa membuang nafasnya dengan suara yang sedikit berbeda. "Heh ... " Dia menggaruk-garuk kepalanya.


Kreek!


Daffa berjalan pelan menghampiri Syifa, sesaat setelah selesai mengunci pintu rumahnya.


"Ini milikmu?" Tanya Syifa.


"Bukan," Jawab Daffa singkat.


"Lalu?"


"Orang tuaku, mungkin?" Daffa ragu-ragu dengan jawabannya sendiri.


"Mungkin? Kamu yang tinggal di sini bahkan sampai tidak mengetahui pemilik sepeda yang terparkir di halaman rumahmu?" Ucap Syifa, nadanya seperti sedang mengejeknya.


"Aku bilang mungkin, bukan berarti aku tidak mengetahuinya. Saat aku masih kecil, sepeda ini sudah ada duluan di rumah nenekku, waktu itu catnya masih terlihat lebih jelas daripada yang sekarang. Ibu dan Ayahku membawakannya ke sini, ketika berpindah." Daffa menjelaskan mengenai masa lalu sepeda itu sebisanya.


"Terus, kenapa kamu bilang mungkin?" Tanya Syifa. Tangan Daffa ditariknya, Syifa mendadak melihat waktu di jam tangan milik Daffa.


Walau itu agak risih baginya, tapi Daffa tetap menjawabnya meski agak telat. "Karena aku tidak yakin, ini milik ibu, ayah, atau nenek."


Sambil mendengarkannya, Syifa mengecek bagian dari sepeda itu satu per satu, kemudian ia menaikinya.


"Oh, oke-oke aku paham. Sekarang naiklah, kita akan berangkat ... Menggunakan sepeda ini!" Semangatnya sangat menggebu-gebu.


"Apa kamu yakin? Apakah bannya tidak kempes?"


"Tidak. Tenang saja, aku sudah mengecek semuanya dan ini bisa dipakai dengan kecepatan semaksimal mungkin!"


Daffa hanya diam di tempat.


"Tunggu apa lagi? Ayo cepat naik." Ajak Syifa.


Syifa sudah memanggilnya beberapa kali, akan tetapi Daffa terus berpikir dua kali untuk menaikinya. "Aku yang bonceng?"


"Iya, biar aku yang menggenjotnya."


"Kuat gak nih? Gak akan jatuh, kan?"


"Emangnya aku anak kecil apa?"


Daffa berwajah mengkerut, dalam hatinya seperti tak percaya akan ucapan Syifa. "Aku jamin, tidak ada seratus meter, dia sudah jatuh letih duluan." Batinnya.

__ADS_1


Saking kurang percayanya, Daffa mengecek ulang bagian yang akan dinaikinya, barulah ia percaya kalau itu aman-aman saja. "Baiklah, ini aman."


Bersambung ....


__ADS_2