
"Siapa mereka semua? Mengapa mereka menghajar Daffa sampai babak belur? Dan bagaimana bisa mereka tahu tempat tinggal Daffa?" Ibu Ayu tak mau berbelit-belit lagi, ia langsung menanyakannya semua.
Syifa tampak syok, tubuhnya gemetaran, seperti sesudah mandi air dingin di musim dingin. "Apa ... Ibu tau dari Daffa?"
"Daffa tidak memberitahu Ibu, karena Ibu sudah mengetahuinya langsung dengan kedua mata Ibu sendiri."
[ .... ]
Kriikk!
Kriikk!
Kriikk!
Syifa tak menjawabnya sama sekali, meskipun sudah ditunggu ibu Ayu dan ayah Adi beberapa saat yang lalu. Yang ada malah suara serangga yang menyaring dengan suara jangkrik yang mendominasi semuanya.
"Jadi kamu gak mau menjawabnya?" Dengan pelannya ibu Ayu bertanya kembali.
Syifa semakin tertekan, karena terus-menerus ditagih, seperti sedang mempunyai utang saja. Tapi kondisi saat ini yang sedang dialaminya bukanlah utang uang, melainkan utang lisan.
Tiba-tiba seseorang yang bukan lain adalah ayah Adi, ia menghentikan situasi yang cukup tegang itu.
"Ibu, tenanglah." Ucapnya.
Dengan gagahnya, ayah Adi berdiri tegap di tengah-tengah mereka berdua.
"Ayah, gak lihatkah? Kalau Ibu udah sangat tenang berdiri di sini." Balas Ibu Ayu.
"Maksud Ayah bukan itu. Ibu itu terlalu menekan dia untuk menjawab, padahal jika dilihat sekarang, dia sepertinya kurang nyaman dengan perkataan Ibu."
"Benarkah, Syifa? Jujur, sebenarnya niat Ibu bukan seperti itu."
"T– tidak apa, kok."
Setelah situasinya cukup tenang dan tidak ada tekanan lagi, ayah Adi melangkahkan kakinya, bergerak mendekat ke arah Syifa.
Ditepukkannya bahu Syifa dengan begitu halus, tetapi wajah senyumnya tidaklah berjalan halus. Ayah Adi sudah berusaha, namun yang ada malah wajahnya yang menjadi agak kaku.
"A— Ayahanda ... Kenapa? Tiba-tiba senyum gitu,"
"Ah, tidak apa-apa. Kalau tidak salah, namamu ... Syifa, kan?" Wajah ayah Adi kembali seperti sedia kala, sangatlah biasa saja.
"Seratus! Buat Ayahanda."
"Kalau boleh tau, kenapa tadi Syifa memilih diam saja?"
"Emm ... " Membuka dan menutup lagi, mulut Syifa terasa kebingungan.
"Apa kamu tidak tau sama sekali tentang perkara itu? Atau memang ... Kamu sudah tau, tapi tidak mau mengatakannya?"
"Dan juga ... " Ibu Ayu menyela. "Ibu sebenarnya, memperbolehkan siapa saja berteman dengan Daffa, asalkan membuatnya terasa nyaman. Tapi, ibu tidak suka kalau Daffa merasa tersakiti, apalagi terancam. Ibu tidak mau melihatnya terulang lagi ... Itu sangat sakit sekali."
__ADS_1
Syifa menundukkan kepalanya, ia termenung dalam hatinya. Semua kata-kata yang ditahan di dalam sana.
"Syifa ... "
Sementara ayah Adi, ia terus meyakinkannya. "Tidak usah sungkan untuk mengatakannya, bahkan jika itu harus dengan meluapkan perasaanmu."
Tes!
Tes!
Ketika lisan tak dapat mengucap kata, air matalah yang menjadi pengurainya. Semua tergambar sebagai penanda dalamnya luka.
Satu per satu, tetesan air mata terjatuh dari kedua matanya. "Menyebalkan ... " Syifa berkata gelagap, dengan bibirnya yang terbata-bata.
"Eh?" Ayah Adi kebingungan sekaligus panik, begitu pula dengan ibu Ayu.
Wajah Ayah Adi seperti tak menyangka, kalau akan ada hujan kecil di depannya.
"Menyebalkan sekali ... I— itu karena, Paman sangat mirip dengan dia,"
"Kan, Daffa memang anakku," Gumam ayah Adi.
"Sama-sama menyebalkannya ... !"
"Saking menyebalkannya, entah kenapa aku malah dapat berbicara terang-terangan di hadapannya. Aneh sekali bukan?"
Air mata itu seketika menghilang sudah, karena langsung diusap oleh Syifa. Hanya saja, itu masih membekas di wajahnya, terlebih lagi di sudut matanya.
"Tapi, Paman dan Tante tenang saja. Aku tidak akan memaksa Daffa, kok. Karena perasaan Daffa lah yang akan menentukannya sendiri, dan aku di sini hanya seperti pendukung saja dengan membuat sebuah rencana yang sepertinya tidak logis."
"Kenapa tidak logis? Apa rencana itu sangat membahayakan?" Tanya ibu Ayu.
"Bukan begitu maksudku, Tante. Menurutku ... Semua hal yang awalnya terasa masuk akal, akan menjadi tidak masuk akal ketika berurusan dengan perasaan."
"Oh, paham-paham ... Tante sampai lupa."
"Lalu rencananya itu seperti apa? Dan inti dari tujuan itu?" Ayah Adi bertanya-tanya.
"Intinya tuh ... " Ucap Syifa sambil mengedepan tangan kanannya, ponsel yang tergenggam di tangannya itu tampak bersinar terang di hadapan ibu Ayu dan ayah Adi. " ... Aku hanya akan pakai ini."
"Ponsel!?"
"Iya, ponsel modern."
"Kok bisa, bagaimana caranya?" Ucap ayah Adi bingung, ia juga sangat penasaran. Sedangkan ibu Ayu berpikir sejenak.
"Err ... Haa ... Ess,"
"Hah? Artinya?" Ayah Adi bingung.
"Rahasia."
__ADS_1
"Ha? Anak jaman sekarang memang beda. Perkataannya aneh-aneh, semuanya disingkat. Dunia ini– eh, tidak maksudku ... Tata bahasa di dunia ini bisa sangat cepat berubah seperti ini."
"Ayah saja yang kurang berinteraksi dengan anak muda sekarang." Singgung ibu Ayu.
"Ah, itu mungkin juga salah satunya."
Karena sudah tidak ada perkataan yang harus dijawabnya lagi, Syifa dengan gugupnya ia melangkahkan kakinya ke belakang. "Kalau begitu—"
Namun langkah kakinya tertahan, sebab ibu Ayu yang mendadak memanggilnya.
"Tunggu sebentar, lalu bagaimana dengan perasaanmu? ... "
"Eh?" Dengan terkejutnya Syifa melirik ke arah mereka.
"Biasa-biasa aja, kah? Senang, kah? Gak suka, kah? Atau mungkin ... Suka?"
"E– eh!? Eh ... A– ah, emm. Itu juga rahasia pribadi." Dengan wajahnya yang panas memerah, ia terlatah-latah enggan untuk menjawabnya.
"Heh ... Apa jangan-jangan kamu itu–"
"Tidak-tidak!" Syifa langsung membantahnya dengan nada cukup keras.
"Mana mungkin aku yang secantik ini bisa menyukainya. T– tapi kalau dia mau jadi pelayan pribadiku seumur hidup, mungkin aku bisa mempertimbangkannya lagi."
Ibu Ayu tersenyum saking keheranan, ia juga menepuk pundaknya Syifa secara beruntun.
"Sangat lucu ... ! Walau penampilannya terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan anak-anak remaja seusianya, tapi sikapnya tetaplah masih seperti anak kecil." Gumam ibu Ayu tersenyum.
Syifa membuang wajahnya yang memerah itu dengan mata terpejam. Pundaknya di tepuk terus menerus.
Pluk,
Pluk,
Pluk,
Pluk!
Hingga suatu ketika hembusan angin yang begitu dingin namun juga panas, seakan meniup telinganya.
Bulu kulitnya seketika merinding dari atas sampai bawah. Syifa tersadar, matanya berkedip-kedip, lalu ditatapnya seseorang yang barusan telah menjahilinya.
Hanya dengan sebuah sedotan panjang dan tiupan mulutnya, Daffa sudah bisa membuat Syifa menatap tajamnya.
"Kamu dari tadi melamun dan senyum-senyum sendiri, udah kayak orang gila aja. Nanti kalau kamu kerasukan, aku juga yang repot." Ucap Daffa dengan wajah datarnya.
Syifa menatap sinisnya. "Heh? ... Kamu mau bermain-main denganku ya? Kalau gitu, sini aku ajarin cara yang benar melakukannya."
"Maksudnya? Melakukan apa?"
Syifa melangkah mendekat, lebih dekat lagi dan lagi, dengan wajah yang menyeramkannya itu.
__ADS_1
"Eh!? Tunggu-tunggu, jangan mendekat! Aku ceburin ke sungai nih,"
Bersambung ....