
Pagi di hari minggu adalah kesenangan tersendiri bagi sosok Daffa, sebab ia bisa leluasa melakukan aktivitas apapun sesukanya di dalam rumah maupun di luar rumah, karena kedua orang tuanya saat ini tengah pergi ke desa tempat tinggalnya dulu.
Seharusnya sih begitu, tapi nyatanya definisinya harus berubah total untuk hari minggu ini. Pada akhirnya Daffa pun harus menerima kalau hari ini akhirnya terjadi juga, seperti dalam pikirannya di hari-hari sebelumnya.
Syifa tak kunjung menjawabnya, Daffa pun akhirnya menanyakannya sekali lagi. "Kenapa Fasa juga ikut ke sini?"
Bola matanya berpindah ke kanan-kiri tak beraturan tanda Syifa yang sangat kebingungan, kepalanya agak menunduk bersama otaknya yang tengah mencari suatu alasan. "I-itu... Itu karena Fasa yang memaksa mau ikut..."
Sebelum Daffa membalas perkataannya, tiba-tiba terdengar bunyi hentakan meja. Asalnya dari Fasa, dia berdiri di atas kursi dengan wajah geram menatap kakaknya. "Ih, kak Cifa bohong! Fasa gak begitu... Cebenarnya kak Cifa lah-"
Angin kencang berhempas begitu saja, Syifa yang terlihat gugup tangannya reflek menutup mulut sang adiknya yang hampir keceplosan. "Sstt...! Kalau kamu diam, nanti kakak beliin es krim." Bisiknya dengan sangat pelan.
"Es krim? Asyik...!" Fasa meloncat-loncat di kursi saking gembiranya.
"Es krim? Apa Syifa sedang menyogok adiknya sendiri?" Sedangkan Daffa masih tak paham apa yang dimaksud.
Dengan wajahnya yang masih terlihat kusam, ia saling bertatapan dengan Syifa satu sama lain. "Oh iya aku lupa denganmu, kamu mandi dulu gih, bau tau." Syifa mengucapkannya dengan menutup lubang hidungnya.
Ucapannya sungguh menohok dalam diri Daffa, apalagi wajahnya yang sangat blak-blakan menatapnya. Dengan perasaan penuh sabar, Daffa pun menjalani kehidupan hari minggu ini.
Seusai mandi wajahnya tampak tak lagi kusam, ia mengenakan baju biru tua yang ditimbun oleh switer hitam yang sering digunakannya ketika keluar rumah.
Tak lama kemudian setelah semuanya sudah terlihat rapi, Daffa kembali ke meja makan. Syifa menyuruhnya untuk segera duduk padahal yang tuan rumah sebenarnya adalah Daffa. "Bukannya yang tuan rumah itu aku ya?"
Daffa pun langsung duduk di depan Syifa dan berseberangan dengan Fasa.
Di depan matanya tersedia dua hidangan dalam bentuk box kotak makanan. Warnanya berbeda-beda, yang satu berwarna pink dan yang satunya lagi berwarna biru, Daffa disuruh oleh Syifa untuk memilih salah satu dari kedua kotak makanan tersebut. "Kenapa harus memilih? Palingan Cuma beda warna aja..." Tanya Daffa dengan santainya.
Tanpa pikir panjang, tangannya Daffa langsung bergerak ingin mengambil salah satunya.
"Soalnya dari dua kotak itu ada satu yang aku buat sendiri hihihi..." Ucap Syifa dengan malu-malu.
__ADS_1
Spontan tangannya berhenti di tengah jalan, dan Daffa mengurungkan niatnya untuk mengambilnya tanpa berpikir panjang. "Jangan dijadiin game juga kali..."
"Sekali-kali... Ehe!" Syifa tersenyum lebar seraya menunggu jawaban dari Daffa.
Pikirannya penuh dengan kecurigaan yang berkepanjangan. Dan yang membuat anehnya lagi, Daffa melihat Fasa yang bereaksi tanpa suara seakan-akan sedang memberi kode, dia menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali sembari mengangkat kedua jarinya yang membentuk silang.
"Kenapa Fasa seperti sedang mencegahku, ya? Apa jangan-jangan ada bumbu racun di dalamnya?! Semoga aja itu cuma pikiranku saja..." Gumam Daffa dalam hatinya.
"Kelamaan ih... Mending kamu pilih yang warna pink aja, serius deh..."
Karena terlalu lama menunggunya, dengan senang hati Syifa pun menyarankan kepada Daffa agar memilih kotak yang berwarna pink.
Akan tetapi itu malah membuat Daffa semakin bingung, ia selalu mengoreksi setiap jalan pikirannya. "Kalau dilihat dari warnanya sih... Syifa bakalan naruhnya di warna pink, dan tadi dia juga menyarankan yang warna pink. Tapi ingat, dia itu Syifa... Gak mungkin dia blak-blakan begitu aja. Jadi, dia pasti sengaja menyarankan yang warna pink supaya aku pilih yang warna biru, Artinya aku harus memilih yang bukan buatannya, yaitu yang warna pink!"
Tanpa berlama-lama Daffa langsung mengambil kotak makanan yang berwarna pink dan langsung membaliknya. Daffa terlalu percaya diri hingga ia malah memilih kotak yang bertulis Syifa dibaliknya. "Yang benar aja...? Ini punyamu? "
"Yup kamu bener banget, Kamu baik banget sih nurut sama aku, hihihi..." Syifa tertawa kecil diikuti adiknya yang mengikuti ketawanya.
Syifa tersenyum lebar menatap Daffa, akan tetapi perasaannya Daffa terasa sangat tak enak memandangnya. "Tidak, aku sudah membuatnya capek-capek khusus untukmu... Nah, sekarang makanlah, kita akan makan bersama-sama."
Syifa mengambilkan punya Fasa juga, perasaannya sangat bahagia ketika membuka bekal makanan bersamaan dengan adiknya. Mereka benar-benar seperti kakak adik yang sangat akur di mata Daffa.
Sementara Daffa, ia justru masih terbengong seperti tak melakukan apapun hanya demi memperhatikan setiap gerak-gerik mereka berdua. Daffa sangat tersentuh begitu melihat mereka, suasana perasaannya sangat berbeda dari sebelumnya, saking sesaknya ia makin tak tahu perasaan apa yang sebenarnya sekarang sedang berada di dalamnya. "Eh, kok. Kok... Sangat aneh... Ini sangat aneh... Kenapa ini terlihat seperti keluarga sungguhan?"
Syifa yang telah usai membantu mengeluarkan kotak bekal milik Fasa, dirinya kemudian berbalik arah. Matanya menyipit ketika melihat Daffa. "Masih belum di makan...?"
Daffa langsung tersadar. "Eh, iya. Ini mau kumakan."
Daffa mengambil sebuah sendok, ia sangat ingin merubah perasaan buruknya menjadi sebaliknya. "Tenang aja ini hanya sebuah makanan, apapun makanannya pasti akan terasa enak jika sedang lapar." Ia menguatkan diri sendiri.
Di saat Daffa membuka kotak makanannya, perasaan buruknya langsung menghilang seketika. "Entah ini kebetulan atau tidak..."
__ADS_1
Kotak itu berisi penuh oleh butiran nasi yang kecoklatan dengan topping potongan daging sosis bulat, ditambah lagi dengan adanya mie yang panjang. Itu persis sekali dengan makanan favorit Daffa yaitu nasi goreng, hingga dirinya tak bisa menahan rasa laparnya terlalu lama lagi. "Ini pasti ibu yang memberitahunya."
Satu sendok penuh sudah ada di depan matanya, sekarang sudah tak ada lagi kata-kata yang meragukannya. Daffa melahap, mengunyah dan merasakan makanan itu dengan perlahan. "Tidak buruk juga, daripada harus memakan telor dadar buatan sendiri."
"B-b-bagaimana rasanya..?" Syifa tampak sangat gugup, wajahnya penuh harapan dengan jawaban yang dikatakan Daffa.
"Yah... Tidak buruk," Jawab Daffa tenang seraya mengambil suapan ke dua.
Wajahnya sangat senang mendengar hal itu, Dalam hatinya Syifa merasa kegirangan tak karuan. "T-terima... Kasih..."
"Tapi rasanya asin," Daffa melanjutkan perkataannya yang tadi.
"Uhuk!" Perasaan senangnya Syifa seakan menurun ketika mendengar komentar yang blak-blakan dari Daffa. "Eh... Padahal aku menabur garamnya cuma tiga kali, itu pun pakai tangan sendiri." Gumamnya dalam hati sembari tersenyum-senyum sendiri.
Daffa yang sedang fokus melahap makanannya, ia tiba-tiba didatangi oleh Fasa. Rupanya adik Fasa sangat penasaran dengan rasa makanan yang dibuat kakaknya itu, sampai-sampai dia menyempil di antara Daffa. "Kak Daffa, kak Daffa! Fasa juga mau dong..."
"Fasa mau? Nih, ambil aja..."
Daffa memperbolehkannya, selepas itu Fasa pun langsung mengambil sendok miliknya. Fasa mencicipinya dengan sungguh-sungguh. "Ini... Ini tidak seperti buatan kak Cifa, seharusnya buatan kak Cifa tuh rasanya gak enak."
"Gak enak?" Wajah Daffa penuh dengan tanda tanya.
Adik Fasa kembali duduk di tempatnya. "Iya, pasti kakak belajar sungguh-sungguh untuk membuatnya yah, kak Cifa?"
Syifa enggan menatap Daffa maupun Fasa, pipinya merona karena malu. "E-eh, enggak kok, itu cuma kebetulan rasanya berbeda." Dia mencoba menghindari pertanyaannya Fasa.
"Kakak boong banget..."
Sementara Daffa sedari tadi selalu memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, walaupun dirinya tengah mengisi perutnya. "Oh, jadi itu sebabnya dia ketiduran di kamarku..." Gumam Daffa dalam hatinya.
Bersambung....
__ADS_1