Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 43 : Ekstrakurikuler 2


__ADS_3

Bu Fitri menepuk jidatnya sambil berkata, "Aduh, ibu sampai kelupaan. Untungnya ada kamu yang mengingatkan ibu."


"Mengingatkan? Memangnya isi kertas itu apa?" Tanya Daffa.


Selagi mendengar pertanyaannya Daffa, bu Fitri tampak mengambil beberapa selembar kertas tersebut yang berada di samping tas miliknya.


Bu Fitri menaruh wajahnya tepat dihadapan kertas tersebut, seperti sedang membacanya. "Kamu suka air, kan?"


"Yah... kalau dibilang suka sih... Memang iya. Emangnya kalau orang yang gak suka air itu mandinya pakai apa?" Jawab Daffa.


"Begitu yah... Nih, coba dilihat," pinta Bu Fitri sembari memberikan salah satu selembar kertas itu kepada Daffa.


Daffa pun kemudian langsung menerimanya, lalu ia membacanya dengan saksama. "Klub renang...?" Daffa bertanya-tanya yang kemudian ia menatap bu Fitri.


"Yap, kamu benar sekali." Jawab bu Fitri.


"Bagaimana kalau kamu daftar ke ekstrakurikuler renang? Barangkali bakatnya kamu itu ada di dalam air," ucap Bu Fitri sembari menunjukkan selembar kertas satunya lagi yang ia pegang dengan wajah tersenyum.


"Ikut ekstrakurikuler renang? Eng... Gimana yah..." Daffa tampak kebingungan.


"Iya, kamu pasti mau kan, Daffa? Dari pada rebahan terus di rumah," jawab bu Fitri.


"Nah, nanti jadwal kegiatannya itu ada dua hari, hari senin dan hari sabtu. Saat hari senin mulainya sesudah pulang sekolah. Kalau hari sabtu, jam nya sama seperti saat pulang sekolah yaitu jam dua." Terang bu Fitri dengan panjang lebar. "Kalau tempatnya kamu pasti sudah tau, kan? Ada di kolam renang milik sekolah." Sambungnya.


"Tunggu sebentar...! Aku tidak bilang kalau aku mau bergabung," ucap Daffa.


"Eh...? Ayolah, Daffa... Masa kamu enggak mau...?" Balas bu Fitri dengan muka memelas.


Beberapa saat setelahnya, Daffa tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sepertinya ia menolak tawarannya bu Fitri. "Kayaknya kalau renang... Enggak deh, bu."


Bu Fitri yang melihat sekaligus mendengarnya seketika mukanya tampak kecewa. Ia pun menghela nafas dalam-dalam dan berkata, "Sebenarnya, yang mendaftar ekstrakurikuler renang tahun ini sangat-sangat sedikit."


"Mereka semua lebih cenderung tertatrik untuk bergabung ke ekstrakurikuler yang sudah pernah meraih prestasi di tingkat nasional, contohnya seperti Sepakbola dan Voli yang setiap tahunnya masuk ke tingkat nasional. Tidak hanya Sepakbola dan Voli, namun masih banyak yang lain." Bu Fitri mengucapkannya dengan tenang.


Daffa yang mendengarkan perkataan Bu Fitri sampai selesai, sepertinya raut wajahnya berubah tersenyum karena terpikirkan sesuatu. "Ya, itu benar! Itulah alasanku mengapa aku tidak mau masuk eskul yang sangat populer, karena..."


"Karena apa?" Tanya bu Fitri.


Daffa tampak bingung sampai-sampai jantungnya berdetak sangat kencang karena panik. "Hadeh... Bodohnya aku... Kenapa aku mengucapkan kata karena...?!"

__ADS_1


"Karena... Karena... Oh iya! karena nantinya aku hanya bisa duduk di bangku cadangan. Hehe, hehe," ucap Daffa dengan memasang wajah tersenyum agar bu Fitri percaya dengannya.


Namun nampaknya bu Fitri mengetahui jika Daffa hanya mengarang saja. "Iya deh, terserah kamu aja."


Sesaat setelahnya, Daffa tampak membuang wajahnya dari Bu Fitri dan menoleh ke samping bawahnya. "Atau lebih tepatnya banyak kerumunan." Ucapnya sangat lirih.


"Apa kamu mengucapkan sesuatu?" Tanya bu Fitri yang terheran-heran ketika melihat Daffa.


"Hm...? Ah, tidak kok. Hehe..." Jawab Daffa dengan tawaan diakhir.


"Jadi, apa kamu akan gabung ke ekstrakurikuler renang?"


"Kan sudah kubilang, aku tidak mau bu..."


"Begitu yah, ternyata kamu gak mau ikut," Ucap bu Fitri. "Ah, sayang sekali... Padahal kan minggu depan klub renang akan touring ke pantai yang sangat-sangat indah dan menakjubkan." Sambungnya.


"Eh? Benarkah itu!?" Daffa bertanya dengan spontan.


"Iya-iya, itu betul sekali," jawab bu Fitri sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


Terlihat wajahnya Daffa yang senyum-senyum sendiri yang tampaknya sedang membayangkan sesuatu. "Wah... Pantai... Pasti sangat indah jika melihatnya langsung." Gumam Daffa dalam hatinya.


Daffa tampaknya menyerahkan kembali selembar kertas yang tadi diberikan oleh bu Fitri sambil mengatakan. "Kalau begitu, sekarang juga aku akan gabung ke klub renang!" Ia mengucapkannya dengan cepat.


Bu Fitri seketika langsung terkejut saat mendengarnya, sampai-sampai ia tidak jadi mengambil selembar kertas yang dipegang oleh Daffa. "Nah, kata-kata seperti itulah yang ibu tunggu." Ucapnya sembari menepuk kedua tangannya.


"Kalau begitu, besok jangan sampai lupa datang pukul dua ke kolam renang sekolah ya..." Ucap Bu Fitri seraya menerima selembar kertas dari Daffa lalu menaruhnya di atas mejanya.


"Eh, tunggu sebentar. Tapi satu jam saja,


selepas itu aku langsung pulang, boleh kan?" Tanya Daffa.


"Khusus untukmu boleh kok, nanti lama-kelamaan juga kamu akan terbiasa," jawab bu Fitri sembari mengangguk.


"Ya udah bu, kalau sudah tidak ada lagi yang mau ibu katakan, aku pamit mau pulang." Ucap Daffa.


"Ah, baiklah... Hati-hati di jalan," balas Bu Fitri.


Di saat itu juga, Daffa tampak mencium tangan bu Fitri dan kemudian ia langsung berjalan menuju ke pintu keluar.

__ADS_1


Sementara itu, bu Fitri nampaknya sedang memasukkan selembar kertas tadi ke dalam tas miliknya.


Tiba-tiba saja tangannya bu Fitri berhenti bergerak. Seketika ia langsung menoleh ke arah pintu. "Tunggu dulu, Daffa...!"


Namun, yang ia lihat hanyalah sebuah angin kencang yang datang dari luar pintu disertai debu. "Eh? Cepat sekali!" Gumam bu Fitri.


"Padahal saya ingin bilang, kalau ada teman sekelasnya yang juga ikut ekstrakurikuler renang." Gumam bu Fitri. "Ya sudahlah..." Sambungnya.


Di sisi lain, terlihat Daffa yang tengah berjalan di sekitar sekolahannya. "Pantai, kah...? Aku tidak sabar menunggunya." Gumam Daffa dalam hatinya.


Tak lama kemudian, Daffa melihat pak Toni dari kejauhan saat pandangan matanya ke arah depan. "Itu kan pak Toni?"


Daffa berlari sangat cepat menuju pak Toni dan kemudian ia menyapanya dengan keadaan yang ngos-ngosan. "P-p-pa-pak Toni..." Dia mengucapkannya sambil membungkukkan badannya karena kecapean.


"Ada apa ini? Kok kamu berlarian?" Tanya pak Toni.


Daffa pun kemudian mencoba mengatur nafasnya kembali dengan menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Ia melakukannya berulang kali dihadapan pak Toni.


Setelah terasa sudah lebih baik, Daffa kemudian mengangkat kembali badannya menjadi tegak. "Aku cuma mau bertanya, ekstrakurikuler apa aja yang bapak kelola?" Tanya Daffa.


"Kalau bapak itu membina ekstrakurikuler Sepakbola, Futsal, dan Badminton," jawab pak Toni.


"Lah, terus kalau renang itu siapa?" Tanya Daffa.


"Pembina ekstrakurikuler renang itu bu Fitri," jawab pak Toni.


"Eh? Seriusan?!" Ucap Daffa yang tampak kaget.


"Memangnya kamu mau daftar ekstrakurikuler renang?" Tanya pak Toni.


"Kalau dibilang mau daftar sih... Sebenarnya udah, barusan malah," jawab Daffa.


"Oh, begitu? syukurlah..." Ucap pak Toni.


"Hm?" Wajah Daffa tampak terheran-heran.


Raut wajah pak Toni tiba-tiba berubah menjadi tersenyum. Ia melangkah ke depan dengan tangannya yang terlihat memegang rambut kepalanya Daffa.


Pak Toni pun kemudian berjalan melewati Daffa dengan meninggalkan sebuah kalimat, "Jangan sampai keluar."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2