
Setelah beberapa detik kemudian,
"Huft ... Hah ... Huft ... Hah ... "
Syifa ngos-ngosan, pedal sepedanya tak mau bergerak, dan dia memaksa menggenjotnya agar bergerak. Karena itulah ia sangat keletihan. "Give up!"
"Seriusan? Ini malah belum bergerak lebih dari dua puluh meter!" Gumam Daffa dalam hati.
"Udah nih? Kita gak jadi ke sana?" Ucap Daffa dengan nada yang seperti meledek Syifa.
Syifa menuruni sepeda itu dengan napas yang berantakan. "Tukar-tukar."
"kamu makan apa, sih? Kok, berat banget?"
"Nasi. Bukan aku yang berat, tapi kamu yang mendorong pedalnya dengan lemah lembut."
"Enggak deh, perasaan aku sudah mendorong pedalnya dengan sangat kuat."
Mereka bertukar tempat. Dengan terpaksa, Daffa yang harus duduk di depan, lalu diinjaknya kedua pedal sepeda yang tak salah apa-apa.
Sedangkan Syifa, dia duduk ayem tepat di belakang Daffa. Akan tetapi ada yang aneh dengan posisi duduknya, ternyata ia duduk dengan menghadap ke belakang.
"Hei, jangan kebanyakan gaya. Nanti jatuh, aku juga yang disalahin." Ucap Daffa.
"Tenang saja, pandangan di belakang lebih luas dan menakjubkan daripada di depan." Dengan santainya, Syifa mengatakannya.
"Terserahmu, deh."
Daffa mulai mengayuh sepedanya. Warnanya biru kehitaman, persis seperti warna langit saat ini. Kedua ban sepedanya berputar sangat cepat melewati jalanan depan rumah, tapi jika dilihat lebih jelas lagi, sepeda itu sepertinya berjalan begitu pelan.
Saking luasnya pemandangan di depan matanya, yang dipenuhi sejumlah bintang gemerlap dan sebuah bulan yang menyala putih terang.
Membuat Syifa berkeinginan menyanyikan sebuah lagu di bawah itu semua. "Oh ... Bintang ..."
Daffa fokus melihat ke depan, sesekali ia melirik ke belakang melihat sosoknya. Di sepanjang jalan kompleksnya, ia hanya mendengar suara nyanyiannya yang dapat membuat hatinya begitu tenang.
Ketika sampai di pinggir jalan raya, Syifa tak lagi bersuara seperti saat tadi, karena bisingnya keadaan yang memenuhi di sekitaran mereka berdua.
"Jadi, kita akan lewat jalan kiri atau kanan?"
"Maksudmu? Kamu benar-benar tidak ingat jalannya?"
"Bagaimana aku bisa mengingatnya? Waktu itu aja aku berada di dalam mobil."
"Oh iya yah, lewat kiri dan lurus terus dulu."
__ADS_1
Daffa menjalankan sepedanya seperti apa kata Syifa barusan.
"Pelan-pelan aja, nanti aku bisa jatuh." Pinta Syifa.
"Makanya kamu jangan menghadap ke belakang!" Balas Daffa bringas.
"Gak mau."
Daffa mendengus kesal, ekspresi wajahnya mengeras dan gregetan, tapi pipinya tampak memerah melihat tingkah lakunya.
"Dipikir-pikir lagi, melakukan ini di tempat terbuka sangatlah memalukan." Ucap Daffa.
Dia tersipu malu, ketika pandangan semua orang di sekitarnya tertuju pada dirinya dan juga Syifa. "Sial, aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya!" Batinnya.
Sepeda itu melaju di pinggir jalan raya, bersamaan dengan pejalan kaki yang begitu banyak. Sedangkan di sampingnya terdapat kendaraan sepeda motor maupun mobil yang melaju kencang.
Awalnya Daffa memang menggenjot sepedanya seperti biasa.
Tetapi di tengah-tengah perjalanannya, mendadak seorang pria yang tak lagi terlihat muda muncul di hadapan mereka berdua, orang itu mengisyaratkan mereka untuk menghentikan laju sepedanya.
"Hei anak muda, tunggu. Kau membawa siapa yang ada di belakangmu?"
Daffa pun terpaksa berhenti. "Eh, ada apa?" Tanya Syifa yang kebingungan ketika laju sepeda yang dinaikinya tiba-tiba berhenti.
"Maksud, om. Dia?" Jawab Daffa sambil menunjuk dengan kepalanya.
Pak tua itu datang mendekat, sekilas dia memindai seluruh tubuh Syifa, karena kurang jelas ia lebih mendekat dan melihat dengan jelas wajah Syifa.
Pak tua itu tampak kaget. "K—kau bukannya nona muda, Syifa!?"
Syifa terdiam dalam sesaat, lalu diambilnya sebuah topi berwarna putih dari dalam tas selempang yang dibawanya.
Syifa langsung memakai topi putih itu, hingga menutupi setengah dari wajahnya. "Maaf, saya bukan orang yang dimaksud. Bapak mungkin salah orang." Ucapnya.
Pak tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak-tidak ... Kau pasti nona Syifa."
Pak tua itu semakin yakin dengan ucapannya sendiri, bahkan sekarang ia sampai berani memegang tangannya Syifa.
"Nona, cepatlah turun dari sepeda yang sudah tak layak pakai itu. Jika Tuan melihatnya, pasti dia sudah marah besar."
"Sudah kubilang bapak salah orang. Bapak lebih tua dari kita berdua, pasti bapak sudah tau apabila seseorang mengatakan tidak kepada bapak."
Terlepas genggamannya, pak tua itu langsung tak bergeming ketika mendengar suara ocehan Syifa.
Pak tua itu tersenyum kecil. "Baiklah, saya mengalah. Saya juga tidak mau membuat Nona marah lebih dari ini."
__ADS_1
"Silahkan, kalian berdua lanjut jalan ke arah sana," Ucap pak tua itu, sambil berjalan mundur ke belakang.
"Maaf karena telah menghentikan kalian, anak muda."
Pak tua itu masih menyempatkan diri menggenggam tangan Daffa dengan wajah tersenyum sinis.
"Heh? ... "
"Wajahnya menyeramkan sekali ... " Batin Daffa.
Pundak kiri Daffa tiba-tiba terasa berat, sebagian kepalanya termasuk telinga seperti sedang berbentur dengan sebuah kain keras.
Ketika matanya melirik, ia melihat setengah wajah tak senang dari Syifa yang bersandar di pundaknya. "Syifa?"
Syifa langsung mengirimkan sebuah suara kecil di saat Daffa tengah meliriknya. "Weh, Daffa cepatlah ... Putar-putar! Putar balik." Bisiknya cukup keras di telinga Daffa.
"Eh, tapi rutenya lurus, kan?"
"Sudahlah ... Tinggal turutin apa kataku. Kalau tidak, kubunuh kau!" Ancamnya.
Daffa tidak membalas satu kata apapun, wajahnya juga seperti keheranan atau mungkin sedang kebingungan dengan perkataan Syifa.
Daffa mulai beranggapan dalam hatinya. "Apa ini termasuk ancaman? Ancaman kuno? Dia memang bilang begitu, tapi tidak dengan membawa senjata untuk membunuhku, atau bahkan melumpuhkanku. Apakah ini bisa disebut bicara di luar, tapi berdiam di dalam?"
Syifa mendorongnya. "Hey, kamu dengar tidak?" Dia mendorongnya dengan perkataan maupun tindakan.
"Dimengerti!"
Daffa berputar balik, ia mendadak mengayuhkan sepedanya dengan arah mengikuti kemauannya Syifa. "Baiklah, kalau begitu ... Aku akan mengerahkan sembilan puluh persen tenagaku."
Lebih cepat dan lebih cepat lagi, Daffa tak tahu ampun dengan pedal sepedanya. Ia bahkan mengebut sangat kencang hingga mencapai gigi empat.
"Aggh, sial. Aku malah bernostalgia." Gumamnya.
Tak hanya itu saja, ia juga melepaskan kedua tangannya begitu setelah jalanan terlihat lebih leluasa.
"Dafff... Ffa... Kamu terlalu cepat!" Teriak Syifa yang tak begitu jelas, karena suara sekaligus wajahnya yang menghantam udara diam menjadi terbelah.
"Ah, maaf. Aku tak ingat ada kamu di belakang." Ucap Daffa blakblakan.
"Bodoh sekali ... " Keluh Syifa.
Sementara itu, di tempat berhentinya pak tua tadi. Sebuah ponsel terangkat oleh tangan pak tua itu, tepat di samping telinganya.
Berwajah sangat serius, pak tua itu mengucapkan beberapa kalimat kepada seseorang di dalam percakapan ponselnya. "Halo ... Tuan Aciel. Barusan, saya melihat sesuatu, yang mungkin dapat mengejutkan bagi Tuan ... "
__ADS_1
Pak tua itu mendadak mengecilkan suaranya melihat semakin banyak orang yang berada di sekitarnya.
Bersambung ....