
Bu Fitri kini tengah menulis satu per satu nama murid di papan tulis kelasnya secara bergantian.
Dan saat Bu Fitri menulis nama anggota kelompok 8, Daffa seketika tercengang-cengang dan tidak bisa berkata-kata saat melihatnya.
Syifa tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, "Bu! Pokoknya saya tidak mau satu kelompok dengan dia!" Ucap Syifa dengan nada tinggi sembari membentak mejanya.
"Kenapa? Cuma untuk satu hari doang kok," balas Bu Fitri.
"Aku nggak mau Bu... Tukeran aja sama yang lain," jawab Syifa.
Bu Fitri tampak mendengus dengan muka sedikit kecewa. Kemudian ia berkata sambil menatap ke arah Daffa, "Daffa, kamu setuju tukeran sama yang lain?"
Dengan cepat, Daffa langsung mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali menandakan bahwa ia setuju. "Iya, Bu."
"Kalau begitu... " Ucap Bu Fitri.
"Aku sama Bella aja Bu," sela Syifa.
"Bella yah..." Bu Fitri tampak tengah berpikir.
"Ya udah, kelompok delapan tukar pasangan dengan kelompok tiga. Jadi Syifa dengan Bella di kelompok tiga, sedangkan Daffa dengan Charla di kelompok delapan." Terang Bu Fitri.
Syifa pun kemudian kembali duduk di bangkunya. Di saat yang sama, Daffa terlihat mengangkat tangannya ke atas.
"Bu, bolehkah saya dengan cowok saja?" Tanya Daffa dengan mukanya yang tampak memelas itu.
Bu Fitri pun langsung membantah perkataannya Daffa, "Enggak, kamu dengan Charla saja. Protes hanya berlaku satu kali aja."
"Eh..." Daffa kemudian menurunkan tangannya secara perlahan. "Ya ampun... Parah dah." Gumam Daffa dalam hatinya sembari menatap Charla yang tengah duduk di bangku bagian depan.
Charla yang menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh Daffa, seketika ia langsung menundukkan kepalanya ke bawah karena gugup.
Sementara itu, Bu Fitri terus melanjutkan pembagian kelompoknya sampai semuanya selesai.
"Siapa yang belum tertulis namanya di papan tulis?" Tanya Bu Fitri.
"Sudah semua Bu..." Kompak satu kelas.
"Oke kalau begitu. Jadi, tugasnya ada di buku paket matematika halaman sembilan belas sampai dua puluh dua. Sepuluh pilihan ganda dan lima uraian. Di kumpulkan besok hari Jum'at di ruang guru, tepatnya di mejanya Bu Fitri. Jika besok tidak mengumpulkan, akan dianggap tidak mengerjakan dan diberi nilai kosong." Terang Bu Fitri. kepada murid-muridnya.
Daffa menelan ludah mukanya tampak ada keringat bermunculan. "Nilai nol? Padahal Waktunya cuma satu hari doang loh." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Pelajaran pun terus berlanjut hingga sore hari.
***
Hari mulai petang. Guru dan murid-murid termasuk Daffa tampak mulai berjalan keluar kelas tepat setelah bel pulang sekolah telah berbunyi.
Daffa hari ini terlihat yang pertama keluar dari kelasnya setelah gurunya. "Kalau ngerjain di rumah... Nanti si Charla malah ngerjain sendiri juga, kan aneh jadinya kalau ada dua." Daffa tampak terus berpikir sembari berjalan pelan menuju ke gerbang sekolah.
"Oi Daffa...!" Teriak Syifa yang berada di belakangnya Daffa.
Saat Daffa menoleh ke arah belakangnya, dirinya tampak melihat Syifa yang tengah berusaha mendorong paksa Charla. Dan di belakangnya lagi terdapat Bella yang sedang berjalan mengikuti Syifa.
"Jangan malah meninggalkan Charla begitu saja! Kasihan dianya karna satu kelompok dengan mu," Teriak Syifa agak keras sembari mendorong paksa Charla ke hadapan Daffa.
"Eh... Padahal gara-gara siapa coba," gumam Daffa dalam hatinya.
Charla yang tengah memeluk beberapa bukunya itu tampak mencoba menahan dorongannya Syifa. "Aku nggak apa-apa kok," ucapnya pelan nan lembut.
Beberapa detik kemudian mereka sampai tepat dihadapannya Daffa.
"Oi Daffa, kamu tadi mau pulang kan?" Tanya Syifa dengan tatapan marahnya.
"Hehe..." Daffa hanya tertawa dan tampak mencoba memalingkan pandangannya ke arah lain.
Daffa pun memegang-megang bagian wajahnya yang diplester dan berkata, "Aku habis terjatuh di jalan."
"Bodohnya...." Ucap Syifa lirih dengan muka datar.
"Aku bisa ngerjain semuanya sendiri kok," sela Charla sambil menatap Syifa dengan penuh percaya diri.
"Apa...? Ini tugas kelompok bukan mandiri, jadi Charla... Tugas ini harus dikerjakan bersama-sama sesuai kelompoknya masing-masing." Balas Syifa yang kemudian ia menatap Charla.
"Tapi kan..." Ucap Charla.
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau seperti itu diperbolehkan sih... Aku juga bisa ngerjain semuanya sendiri." Balas Syifa.
Mereka berdua pun tampak beradu mulut seraya bertatapan mata satu sama lain.
Sementara mereka yang tengah ribut itu, Daffa hanya berdiam diri di depan mereka. "Huh... Syukurlah kalau dia sudah melupakan kejadian kemaren." Gumam Daffa yang tampak lega melihatnya.
Tak lama kemudian Syifa dan Bella tampak pergi duluan meninggalkan Daffa dan Charla berdua di sana.
__ADS_1
"Syifa, ini cuma firasat ku atau emang beneran ya... Kamu suka sama Daffa?" Tanya Bella seraya berjalan bersama Syifa.
"Apa...? Mana mungkin lah." Jawab Syifa sembari memalingkan pandangannya ke arah lain.
Di sisi lain, suasana yang begitu tenang dan tidak berisik ada di sekitar Daffa dengan Charla. Mereka berdua sama sekali tidak mengucapkan satu kata pun.
"Apa harus aku yang mulai berbicara duluan?" Gumam Daffa dalam hatinya. "Walaupun dia pintar, tapi dia itu cewek yang pendiam." Lanjut gumamnya.
Di mata teman-temannya, Charla adalah gadis berkacamata yang hening. Walaupun dia itu termasuk murid yang sangat pintar, tapi dia itu susah diajak bicara apalagi dengan cowok yang baru ia kenal. Dia selalu membawa bukunya setiap saat.
"Biar aku saja yang mengerjakannya...!" Teriak Charla yang tiba-tiba berlari begitu saja meninggalkan Daffa di tempat.
"Apa...?!" Muka Daffa tampak kebingungan.
Daffa pun seketika langsung berlari mengejar Charla lalu menahan tangannya agar tidak berlari kembali.
"Eh...?" Charla tampak kaget yang kemudian ia menoleh ke belakang ke arah Daffa.
"Tunggu dulu, jangan berlari begitu aja," ucap Daffa yang mencoba menenangkan Charla.
Namun yang ada itu malah membuat Charla semakin panik dengan reaksi mukanya yang memerah.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Teriak Charla agak keras sambil berusaha menarik-narik tangannya dari Daffa.
"Aku harus bagaimana ini?" Gumam Daffa bertanya pada diri sendiri menahan tangannya Charla. Tak butuh lama, Daffa terpikirkan suatu ide.
"Itu dia! Kita akan mengerjakannya di perpustakaan sekolah." Ucap Daffa penuh semangat.
"Eh?" Charla berhenti menarik-narik tangannya setelah mendengarkan ucapannya Daffa.
"Kalau begitu.... Ayo kita ke sana?" Tanya Daffa. Ia masih ragu-ragu Charla mau atau tidak.
Charla menundukkan kepalanya seraya memeluk buku-bukunya itu lalu ia berkata dengan lemah nan lembut, "Baiklah."
"Huh..." Daffa tampak lega mendengarkannya.
"Eh, Gak apa-apa kok, gak usah menundukkan kepala juga." Ucap Daffa yang tengah mencoba menenangkan Charla padahal sendirinya juga gemetaran.
Charla tidak membalas perkataan Daffa. Namun, perkataannya Daffa malah membuatnya semakin menundukkan kepalanya ke arah buku-bukunya yang ia peluk itu.
"Kayaknya lebih baik aku diam saja." Gumam Daffa yang tampak kebingungan.
__ADS_1
Mereka berdua pun kemudian terlihat berjalan bersama menuju perpustakaan sekolah di mana di situ terdapat banyak buku-buku berada.
Bersambung....