
Di saat yang sama, terlihat semua siswa-siswi sekolah yang menontonnya kini tampak telah berjalan bubar.
Namun tidak dengan Daffa, ia justru terlihat masih berdiri di tempatnya dengan mulutnya yang membuka lebar karena terkaget-kaget. Dan dengan pandangan matanya yang melihat ke arah Syifa dan teman-temannya.
Di sisi lain, tampak terlihat Syifa dan kedua temannya yang juga hendak masuk ke dalam kelasnya. "Yuk, kita masuk ke kelas." Ajak Syifa kepada Vira dan Bella.
"Eh bentar-bentar, itu bukannya Daffa yah?" Ucap Vira yang melihat Daffa ketika ia menoleh ke belakang.
Langkah Syifa dan Bella seketika berhenti di tengah jalan karena ucapannya Vira.
"Eh?" Syifa tampak terkaget mendengarnya.
Sedangkan Bella justru bertanya kepada Vira, "Mana?"
Vira tampak menunjukkannya dengan jari telunjuknya. "Tuh.... Di pinggir, di sebelah kanan."
Syifa dan Bella pun kemudian sama-sama melihat ke arah kanan belakangnya sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Vira.
"Ohh... Iya benar, itu Daffa. Tumben banget dia berangkat jam segini." Ucap Bella saat menoleh ke arah Daffa berada.
"Benar kan?..." Ucap Vira.
Sementara Syifa mukanya tampak terkaget-kaget, jantungnya pun berdetak lebih kencang seperti biasanya ketika dirinya melihat Daffa yang berada di pinggir situ.
Serasa Syifa sedang panik saat melihatnya. "Eh? Yang benar saja?... Jangan-jangan?!..." Gumam Syifa dalam hatinya.
"Jangan-jangan dia telah melihat semuanya?!..." Gumam Syifa dalam hatinya. Pipinya seketika tampak berubah merah muda saat ia mengatakan dalam hatinya itu.
"Kalau itu memang benar... i-itu sangat-" gumam Syifa dalam hatinya, namun terhenti karena dirinya mendengar suara Vira yang berteriak.
Di sela-sela Syifa yang tengah sibuk berbicara di dalam hatinya.
Tiba-tiba ia melihat Vira yang tampak melambaikan tangannya ke arah Daffa dan kemudian berteriak kepadanya, "Daffa... Sedang apa kamu di situ?" Teriak Vira yang agak keras. "Ayo kita masuk ke dalam kelas bersama..." Lanjutnya.
Daffa terlihat tidak menyahut seruan Vira dan hanya melihat mereka bertiga dengan tatapan bengong.
Sedangkan Syifa yang mendengar teriakannya Vira yang memanggil Daffa, seketika ia langsung menarik lengan kedua temannya itu secara paksaan.
Syifa tampak menarik lengannya Vira dan juga Bella, lalu ia hendak membawa mereka masuk ke dalam kelas bersamanya. "A-ayo kita masuk ke kelas." Ucapnya grogi.
__ADS_1
"Eh?... Tidak bareng dengan Daffa?" Tanya Bella selagi tangannya sedang diseret oleh Syifa.
"Jangan!" Seketika Syifa langsung membantahnya dengan keras.
"Hah?" Vira dan Bella tampak kebingungan.
"Eh, maksudnya aku gak usah!" ucap Syifa dengan gugup.
"Kenapa sih?" Tanya Vira selagi diseret oleh Syifa.
"Kalau gak ya enggak, titik." Jawab Syifa dengan tegas yang kemudian ia membuang mukanya dari Vira.
"Ihh, kok gitu sih..." Ucap Vira dengan nada yang sedikit kelas. Mukanya tampak cemberut.
Vira yang tangannya sedang ditarik paksa oleh Syifa. Tak lama setelah itu, ia terlihat menoleh ke belakang lagi dan matanya memandang ke arah Daffa. Dan ia tampak seperti ingin berteriak minta pertolongan kepadanya.
"Daffa, tolong aku!... Aku telah diculik." Teriak Vira yang dilontarkan kepada Daffa.
Syifa yang mendengar suara teriakan itu, ia serasa malu mendengarnya dan wajahnya juga tampak semakin memerah. "Ja-jangan berteriak seperti itu... Itu sangat memalukan..." Ucapnya sembari menatap Vira.
"Huft... Baiklah..." Ucap Vira tidak niat.
Sementara itu, di sisi lain terlihat Daffa yang hanya mendengarkan obrolan mereka bertiga yang suaranya terdengar kecil di pendengaran telinganya.
Sesaat setelahnya, Daffa tampak melangkahkan kakinya secara perlahan dan bergantian. Dia hendak menuju pintu masuk gedung sekolah dan masuk ke dalam kelasnya.
Namun, di tengah jalan terlihat langkah kaki Daffa yang terhenti secara tiba-tiba. Dan tak lama kemudian mulutnya Daffa membentuk sebuah senyuman secara perlahan. "Haha... Suasana seperti ini mengingatkanku pada masa-masa itu... Berasa nostalgia sekali..." Gumam Daffa dalam hatinya.
Dibarengi kepalanya yang tampak bergerak ke atas dan pandangannya juga ikut ke arah langit indah yang berwarna biru itu. Kemudian ia tiba-tiba menggerak dan mengulurkan tangannya ke atas. "Andai waktu bisa terulang kembali.... Namun sepertinya itu mustahil."
Telapak tangannya terlihat sedikit menutupi sinar matahari yang sangat silau di pandangan matanya. Lalu ia tiba-tiba mengepalkan tangannya itu yang sampai-sampai tak terlihat lagi kilauan sinar matahari dari pandangannya. "Nah, kan... Jul.... Lio...."
Tiba-tiba angin di sekitarnya menjadi besar yang hingga mengenai Daffa, sampai-sampai rambut dan pakaiannya menjadi acak-acakan. Dan di saat itulah Daffa tampak seperti memaksa senyumannya itu.
***
Di sisi lain, tampak Tante Intan sedang menelpon seseorang di handphonenya sembari duduk santai di kursi ruang kerjanya itu.
"Jadi, kapan kamu bisa pindah ke sini?" Tanya tante Intan saat menelpon seseorang.
__ADS_1
"Ah, kalau itu pasti secepatnya kok, tan." Suara seseorang dari dalam sambungan teleponnya tante Intan.
"Eh... Kan sudah dibilang beberapa kali, panggil saja mamah... Oke?" Ucap Tante Intan.
"I-iya tante. Eh, maksudnya mamah," balas orang itu.
"Nah, gitu kan enak," ucap tante Intan.
"Hehe... Iya mah. Tapi nanti kayaknya aku pindah ke situ dua Minggu lagi dari sekarang deh, mam." Ucap orang tersebut.
"Oh... Begitu yah?..." Balas tante Intan.
"Iya mam, tapi belum pasti juga." Ucap orang tersebut dalam sambungan teleponnya tante Intan. "Kalau surat-surat perpindahannya udah mamah urus kan?" Sambungnya.
"Kalau itu sih tenang aja, udah mamah urus kok," balas tante Intan.
"Okeh, mam. Makasih banget yah... Titip salam juga buat Syifa. Kalau gitu udah dulu ya, mam. Ini aku sudah sampai di depan sekolahnya aku." Ucap orang tersebut.
"Oke-oke, nanti mamah bilang ke Syifa. Hati-hati di jalan yah... Mamah selalu tunggu kamu di kota tempat tinggalnya mamah ya..." Balas tante Intan.
"Iya mam," ucap orang itu singkat.
"Dah, Rio..." Ucap tante Intan yang kemudian ia menutup telponnya dengan orang tersebut.
***
Di sisi Daffa, ia tampak duduk di bangkunya yang berada di belakang setelah ia sampai di kelasnya.
Daffa kemudian terlihat mengambil beberapa buku-buku pelajarannya yang ia bawa di dalam tasnya. Lalu ia menaruh di laci mejanya.
Sesaat setelah itu, pandangannya Daffa tampak sedang mencari sesuatu di dalam ruangan kelasnya. Tatapan matanya beralih dari kanan lalu ke kiri secara bergantian, seakan-akan ia sedang mencari seseorang.
"Farrel belum masuk ke kelas? Apa dia masih di perpustakaan sekolah?" Gumam Daffa yang bertanya-tanya kepada diri sendiri.
"Eh, ternyata Ridho pun sama? Dia belum juga masuk ke kelas sama seperti Farrel?" Gumam Daffa.
Tak lama kemudian setelah itu, Daffa tampak menyenderkan kepalanya di atas meja. "Hoooaammm..." Dia menguap tanpa menutup mulutnya.
"Bangun pagi membuatku mengantuk." Gumam Daffa dalam hatinya.
__ADS_1
Daffa kemudian terlihat menutup kedua matanya secara bersamaan.
Bersambung....