Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 91 : Sahabat Atau Pengkhianat?


__ADS_3

Daffa menganga. Walaupun Daffa tak menyadarinya sejak berada di sana, akan tetapi ia sudah pasti menduganya kalau ini akan terjadi.


Kak Dewi satu langkah maju ke depan. "Baiklah, akan kakak perkenalkan lagi yah ... Mereka bertiga sudah resmi bergabung ke dalam ekskul renang. Yey! Jadi sudah terkumpul sembilan orang, kalau ditambah saya."


Prok ... !


Prok ... !


Prok ... !


Teman-temannya Daffa pada serentak berkeprok tangan hingga suasananya menjadi meriah.


"Huh, beginilah kalau Syifa yang bertindak." Batin Daffa.


Priiitt!


"Stooop!" Perintah kak Dewi.


Seketika mereka semua pada berhenti menepuk tangannya.


"Sekarang, kita lanjutkan pemanasannya. Ikuti gerakan kakak yah."


"Hitungnya dimulai ... Dari Daffa!"


"Mulai!" Kak Dewi kembali memberikan perintah.


Daffa tidak menyadari jikalau dirinya ditunjuk oleh kak Dewi secara tiba-tiba. "Eh, eh, aku?"


Daffa menjadi gugup sendiri. "S–satu ... "


"Dua!"


"Tiga!"


"Empat!"


"Lima!"


"Enam!"


"Tujuh!"


"Delapan ... !"


Mereka pun kemudian melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum mencebur ke dalam kolam renang yang dipandu oleh kak Dewi, supaya otot-otot dalam tubuh mereka menjadi tidak kaku.


*****


Waktu pun berlalu, hingga melebihi satu jam lamanya.


Di dalam tempat itu, terdapat sebuah jam dinding berbentuk bulat yang menempel begitu tinggi pada tembok.


Jam dinding tersebut tiba-tiba berbunyi keras, saat arah jarum jamnya menunjukkan waktu pukul 5.


Teng!

__ADS_1


Teng!


Teng!


Ketika bunyi itu muncul dalam gedung kolam renang, di sana tak ada lagi siapa-siapa yang berada di kolam renang itu, terkecuali Daffa.


Tepatnya di tengah-tengah kolam renang, Daffa mengayunkan kedua lengannya layaknya sedang berenang di dalam air dengan gaya bebas.


Dari sisi kiri hingga ke sisi kanan, Daffa menerjang air kolam itu yang terdapat di hadapannya dengan sangat cepat bagai kilat.


Semua macam-macam gaya pun Daffa coba dan lakukan secara bergiliran ketika itu.


Tak lama kemudian dan tak lebih dari 5 menit, Daffa mengentaskan diri dan naik ke permukaan melalui tangga yang terdapat di sana. Sepertinya ia akan menyudahi berenangnya untuk hari ini.


Daffa tak melihat teman-temannya sama sekali, karena di saat itu mereka semua sedang pada berganti pakaian di kamar mandi umum masing-masing, termasuk juga kak Dewi.


Ceplak ... !


Ceplak ... !


Ceplak ... !


Sejumlah air yang jatuh dari kedua kakinya Daffa, menimbulkan suara percikan air, ketika ia tengah berjalan menepi.


Daffa duduk di tepi, di tempat duduk umum. Daffa mengangkat kedua tangannya, lalu melebarkan jari-jarinya, pandangannya mengarah pada kedua telapak tangannya.


"Uwahh, kayaknya aku kelamaan berendam di dalam air." Gumamnya, kulit jari-jarinya menjadi keriput dan basah karena itu.


Sreeet!


Daffa membuka tas ranselnya.Wajah Daffa mulai panik, ketika ia tak melihat adanya handuk di dalam tasnya. Daffa pun seketika membuka semua ritsleting dan merogoh tasnya, namun hasilnya tetaplah kosong.


Sebab Daffa tak mengetahui kalau dirinya memang tidak membawa handuk sejak awal berangkat, karena saking terburu-burunya dia.


Daffa sangat menyesali atas kecerobohannya sendiri.


"Kalian! Jangan lari-lari, nanti kepleset baru rasa."


Hingga teman-teman perempuannya sudah pada keluar semua, setelah mereka selesai berganti pakaian.


Teman-temannya berjalan cepat di tepian menuju lokernya masing-masing. Sementara Syifa, ia malah hanya berdiri saja di sana, sambil memerhatikan Daffa dari kejauhan.


Daffa memejamkan kedua matanya, ia seperti sedang kebingungan sendiri. "Aghh ... Sial. Apa aku harus mandi di sini tanpa pakai handuk?"


Daffa kemudian membuka matanya, ia mengangkat tasnya dan langsung berdiri. Sepertinya Daffa berniat untuk berjalan menuju kamar mandi siswa.


Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Suaranya memang kecil, namun Itu cukup mengagetkan bagi hatinya.


"Kamu pasti membutuhkan ini, kan?"


Daffa menengok ke arah suara itu, ternyata orang itu adalah Syifa. "Jangan tiba-tiba muncul di belakangku."


Mereka saling berhadap-hadapan. Daffa melihatnya, Syifa yang membawakannya sebuah handuk berwarna pink terang ke hadapannya.


"Ini ambil aja punyaku, tapi nanti jangan sampai lupa dikembalikan lagi lho ... "

__ADS_1


"Hmm ... Tidak, Terima kasih. Aku tidak mau kena virus ataupun kuman, hanya karena aku menggunakan handuk bekas pakai orang lain."


Syifa sudah berniat baik hati dan lembut suara, mau meminjamkan handuk miliknya kepada Daffa. Akan tetapi, Daffa malah menyia-nyiakan kesempatan itu dan menolaknya tawarannya mentah-mentah.


Seketika Syifa menggembungkan pipinya, ia merasa sangat kesal terhadap ucapannya Daffa. "Apa? ... Kau bilang apa?!"


"Ah, tidak ... Bukan itu maksudku, aku cuma mau bilang, kalau aku tidak mau memakainya."


Tap!


Tap!


Syifa melangkah maju, persis di hadapan Daffa. Dia berjinjit dan menatap wajah Daffa sangat dekat dengan ekspresi marah. "Hah? ... Tadi kamu tidak bilang begitu.


Daffa mengalihkan pandangannya ke atas, ia tak mau menatap wajahnya Syifa sama sekali. "Ini sih gawat, dia dekat sekali ... " Gumamnya dalam hati.


Suasana seakan-akan pecah, ketika mereka berdebat dengan hal kecil di tepi kolam renang.


Akan tetapi itu tak berlangsung lama, karena Daffa yang secara iba-tiba mengalah dari Syifa. Situasi itu sangat bahaya bagi penglihatannya.


Daffa mendengus. "Ok, baiklah ... Sini handukmu, aku yang mengalah."


Daffa menarik handuk itu dari tangan Syifa, kemudian ia duduk dan mengusap tubuhnya menggunakan handuk itu dengan hati-hati.


"Tapi kayaknya kamu seperti terpaksa melakukannya."


"Eh? Enggak kok, lihat ini ... "


Daffa mencoba tersenyum sepenuhnya, walaupun itu terpaksa untuk menunjukkan kepadanya.


Syifa menghela napas, ia sangatlah lega ketika mengetahui Daffa tak terpaksa melakukannya. Syifa juga merasa sangat senang dan tersenyum gembira, ia pun ikut duduk tepat di samping Daffa.


Syifa menindih telapak tangan Daffa dengan telapak tangannya. Daffa memang tidak mengetahui dan merasakannya, tapi hanya Syifa yang merasakannya dengan hati yang berdebar.


"Bukankah menurutmu ini bagus?"


"Bagus? Maksudmu apa?"


Mereka berdua bersama-sama duduk di tepi, sambil melihat teman-temannya yang bercanda gurau di tempat loker.


"Jadinya, kita bisa berkumpul bersama semua teman kita ... Tidak, lebih tepatnya sahabat kita." Syifa tersenyum sambil mengucapnya.


"Sahabat, kah? ... Syifa, kamu percaya tidak? Kalau ada mata-mata di antara mereka?"


"Apa? Mata-mata? Daffa, kamu lagi bercanda apa gimana, sih? Aku malahan lebih percaya dengan teman-temanku, dibandingkan dengan omonganmu itu."


"Syifa, dengarkan aku. Misalkan, terjadi keributan besar di antara kamu beserta teman-temanmu, dan ternyata dalang dibalik itu semua adalah salah satu temanmu ... "


"Jadi menurut kamu, Syifa. Siapakah diantara mereka yang bisa jadi dan paling mendekati dengan kata pengkhianat?"


"Hah? ... Tadi mata-mata, sekarang pengkhianat? Hmph! Aku tidak mau menjawabnya, karena aku mempercayai mereka semua."


Daffa sudah tidak tahu ingin berkata apa-apa lagi, setelah melihat Syifa ngambek seperti itu.


Namun ketika Daffa melirik ke arah Syifa, ia menjadi terpikirkan dengan sebuah ide, agar Syifa mau menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Haha, aku malah kepikiran sesuatu yang bagus." Batinnya, dengan wajahnya yang tersenyum tipis.


Bersambung ....


__ADS_2