Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 64 : Aturan Yang Merepotkan


__ADS_3

'Hari ini kau terlihat sangat cantik' Itulah yang seharusnya keluar dari mulut Daffa. Sama halnya dengan Syifa, dia juga berharap demikian, tapi apa boleh buat, sayangnya Daffa tak berniat untuk mengucapkannya walau hawa gaib selalu mendorongnya.


Daffa dan Syifa bergerak ke kanan-kiri, melihat ke sana-sini namun mereka tak sesekali melihat adanya keberadaan Fasa di halaman rumah. "Eh, Fasa kemana!?"


Syifa yang mengetahui akan hal itu, seakan perasaan dirinya sedang di dalam kepanikan. Namun perasaan itu dapat teredam setelah melihat Fasa yang tiba-tiba muncul dari luar halaman rumah.


Syifa melangkahkan kakinya mendekat Fasa, Daffa mengikutinya dari belakang. Ekspresi wajahnya tampak berbunga-bunga, ternyata yang membuat Fasa sangat antusias adalah sebuah es krim.


Tangan kanannya menggenggam erat sebuah stik es krim yang tengah diemutnya, rasa manisnya sangat pekat dicampur hawa dinginnya hingga membuat wajah Fasa penuh dengan celemotan noda. Sedangkan tangan yang lainnya memegang sebuah kantong plastik yang berisi sejumlah kemasan es krim.


Syifa mendatanginya dengan ekspresi wajahnya yang terheran-heran. "Ehh.... Emangnya Fasa bawa uang sendiri?"


"Enggak, makanya fasa kecini lagi," Jawab Fasa dengan santainya. "Ini bang, kak Cifa yang bayar..." Sambung Fasa, jari telunjuknya mengarah pada Syifa dan wajahnya menatap seseorang di belakangnya yang bertubuh tinggi namun kurus.


"Apah...?!" Syifa tampak tak percaya dengan adiknya sendiri.


Dengan berat hati, Syifa mengeluarkan selembar uang kertas yang akan diberikannya kepada penjual tersebut. "Kembaliannya ambil aja, nanti ditaruh ke kotak amal."


"Iya, neng." Orang tersebut berjalan meninggalkan mereka dengan membawa suatu amanah.


Syifa terus menatap dompet kecilnya yang tiap hari makin mengecil jumlahnya. Daffa menepuk bahunya dan berkata, "lebih baik kamu urusi dulu adikmu itu."


"Baiklah..." Balas Syifa tak niat, tak butuh waktu lama, Fasa kembali terlihat bersih tanpa adanya kotoran.


Ada sesuatu yang mengganjal dibenak Daffa, disepanjang jalan rumahnya ia tak melihat apapun seperti yang diharapkannya. "Syifa, kemana perginya mobil yang biasa dibawa supirmu itu?"


"Emangnya kenapa? Aku menyuruhnya untuk pulang," Jawab Syifa.


"Kenapa dah?"


Syifa mendekat padanya. "Berkat bantuannya, aku bisa berada di sini tanpa ada yang mengetahuinya." Bisik Syifa pelan.


"Eehh... Kalau nanti orang tuamu lihat terus gimana?" Tanya Daffa.

__ADS_1


"Entah..." Jawab Syifa sembari menggerakkan kedua tangannya.


Daffa terheran-heran, dalam benaknya ia menganggap Syifa terlalu menyepelekan masalah kecil, atau mungkin Syifa yang merencanakan sesuatu.


Di sisi lain, Fasa terlihat mengorek-ngorek kantong plastik yang tadi dibawanya, ia mendapati tiga kemasan es krim yang sama. "Wah, Es krimnya sisa tiga, kakak mau?"


Syifa yang mendengar hal itu langsung mendekat, ia hendak merampas kantong plastik itu dari Fasa, dan terjadilah keributan kakak beradik. "Sini, tadi kamu sudah makan satu, nanti dimarahin mamah."


"Ihh...! Gak mau, mama gak liat..."


Di tengah-tengah keributan mereka berdua, terdengar suara pesan beruntun yang asalnya dari handphone barunya Daffa. "Bunyi apa ini?" Gumam Daffa dalam hatinya.


Daffa spontan langsung menyalakan layar handphonenya, terlihatlah wallpaper yang sangat imut hingga tangannya gatal ingin menggantinya.


Wajahnya sangat serius memandang layar handphone, Daffa membaca setiap kata yang dilihatnya. "Peraturan membawa tuan putri...? Apa ini?! T-tidak boleh membuatnya menangis... Tidak boleh membuatnya terluka sedikitpun... Tidak boleh membuatnya kecewa...." Gumam Daffa yang semakin lama suaranya semakin kecil.


..."Isi pesan chat dari nomor tak dikenal"...


Ntd : PERATURAN MEMBAWA TUAN PUTRI!


2. Tidak boleh membuatnya terluka sedikit pun;


3. Tidak boleh membuatnya kecewa;


4. Turuti semua kemauannya;


5. Selalu menjaganya setiap jam, menit, dan detik.


Ntd : Hey bocah, saya memang mengizinkan Syifa bertemu denganmu, tapi jika kau masih mau bernafas, maka jangan lupakan peraturan itu. Walau saya tidak akan mengikutimu sampai ke sana, tapi ingatlah itu baik-baik.


Daffa menggigit bibirnya, berulang kali ia menggaruk kepala kosongnya setelah membaca sebuah pesan yang membuatnya tertekan. "Bukankah ini gawat!? Mana peraturannya banyak kali, udah kayak ngejagain hewan yang sangat langka aja ini mah." Gumam Daffa yang masih mau bernafas.


Daffa berpikir sejenak, siapakah orang yang mengirim pesan tersebut? Tanpa berpikir panjang, sebuah pernyataan terlintas dibenaknya. "Perasaan yang memanggilku dengan sebutan itu cuma satu orang. Ya, tidak salah lagi, itu pasti Pak Supri."

__ADS_1


Daffa menekan tombol keyboardnya, ia menjawabnya sesuai fakta yang ada.


D : walau itu sangat merepotkan namun akan kuusahakan sebisanya, tapi bisa tidak pak tua berikan tumpangan?


Ntd : Pak tua, kah? Haha itu cocok sekali denganku yang sudah tua. Bukannya saya tidak mau, tapi saya sudah berjanji dengan nona Syifa.


Ntd : Lalu bagaimana dengan nasib orang yang bernama Fandi?


D : Dia sudah kujadikan rekan.


Ntd : Bocah, kamu gak ada habis-habisnya membuatku takjub. Ternyata jawabanmu tetap memilih untuk menggunakan satu dari dua saranku ya.


Ntd : Saya memang tidak tahu apa yang membuatmu terobsesi dengan nona Syifa, tapi jangan salahkan aku jika nanti penderitaan datang menghampirimu.


D : Aku sangat berterima kasih dengan saran pak supri itu.


Sedetik setelahnya hilang pula foto profil pak supri, ternyata oh ternyata Daffa langsung diblokir olehnya sesaat setelah ia mengirim pesan terakhirnya.


Daffa langsung dapat menyimpulkannya kenapa pak Supri mengebloknya setelah saling tukar pesan dengannya. Simpel aja, itu karena tadi pak Supri mengatakan kalau dirinya telah berjanji dengan Syifa, yang artinya mengirim pesan juga termasuk dalam perjanjiannya.


Daffa menutup handphonenya, kedua tangannya masuk ke dalam celananya, wajahnya, ia menghadap ke atas di saat angin berhembusan di sekelilingnya. "Aku? Terobsesi? Aku memilihnya hanya karena dia sangat berpotensi untuk mengendalikan seluruh siswa, aku juga melakukannya hanya karena aku sedang mencari anak seseorang... Yang intinya aku tidak boleh membawa perasaan supaya rencanaku berjalan mulus. Ini terlalu awal bila dikatakan berhasil." Gumam Daffa dalam hatinya yang tengah panas.


Daffa tiba-tiba melirik ke samping, kedua matanya menyipit sangat tajam, pandangannya memfokuskan pada gedung lantai dua yang cukup jauh dari tempatnya, tertampak sebuah benda kecil yang melayang, bentuknya mirip sekali dengan sebuah teropong. "Tidak salah lagi, ternyata ini penyebab suara pukulan tadi. Haha... Kenapa dari tadi aku gak kepikiran melihatnya dari luar, tapi berabe juga kalau ketemu langsung sama orangnya." Gumam Daffa.


Suara keributan Syifa dan Fasa semakin membesar saja hingga mereka saling tarik-menarik, kantong plastik pun jadi korbannya.


Daffa mendekat menengahi mereka, dan pada akhirnya masing-masing dari mereka mendapatkan satu es krim termasuk Daffa, mereka bertiga memakannya di bangku terdekat dengan pinggir jalan.


***


Beberapa menit telah berlalu, pandangannya menatap suatu jalan raya yang suasananya sangatlah ramai, mau itu pengendara ataupun pejalan kaki. Walau zebra cross menunggu kedatangannya, Daffa terus melirik setiap gerak-gerik orang yang berkeliaran di sekitarnya.


Fasa menjulurkan kedua tangannya ke samping. "Kak Cifa sama kak Dafa, pegang tangan Fasa." Pinta Fasa dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Syifa langsung menuntun tangannya, sedangkan Daffa harus tetap melakukannya walau itu sedikit merepotkannya. Mereka pun pergi menyeberangi jalan zebra cross di depannya ketika lampu hijau bagi pejalan kaki menyala.


Bersambung....


__ADS_2