Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 14 : Mamah Muda


__ADS_3

Daffa masih saja memegangi pipinya sembari melihat ke arah Syifa yang sedang berjalan ke depan, sedangkan teman-temannya hanya bengong dan terkejut melihat kejadian barusan.


Syifa yang baru saja beberapa melangkah ke depan, tiba-tiba ia mendengarkan Daffa berteriak tidak terima.


"Woy! Udah ditolongin malah pergi begitu aja!" Teriak Daffa dengan nada tinggi.


Langkahnya Syifa terhenti sesaat setelah Daffa berteriak kepadanya, namun Daffa tidak peduli dan melanjutkan teriakannya pada Syifa.


"Dasar cewek aneh! Sombong! Dan Bisa-bisanya kamu memasang wajah malu palsu! Terus apalagi yah? oh iya benar juga, dan juga hobinya marah-marah!" Teriak Daffa sampai-sampai nafasnya ngos-ngosan.


Syifa yang mendengar Daffa telah menyindirnya dihadapannya dengan keras, ia kemudian menoleh ke belakang dengan raut wajah seram.


"Apa?! Coba kamu ulangi?!" Ucap Syifa dengan tatapan seram tertuju pada Daffa.


"Eh?" Ucap Daffa.


Tubuhnya merinding ketakutan melihat tatapan seramnya Syifa.


Kemudian Syifa melangkah pelan menuju Daffa dengan tatapan seram, seakan ingin menamparnya kembali. Sedangkan Daffa semakin merinding ketakutan ketika melihat Syifa sedang berjalan menuju padanya.


"A a aku tadi bohong kok," ucap Daffa dengan gugup sembari melangkah mundur, namun Syifa tak menghiraukan ucapan Daffa dan terus melangkah maju menuju Daffa.


Tak lama kemudian, teman-temannya Syifa menghampiri mereka berdua. Vira dan Bella menghampiri Syifa sedangkan Ridho dan Farrel menghampiri Daffa.


"udah Syif, jangan dibawa ke hati," ucap Vira sambil menahan tangan Syifa.


"Ya betul, kamunya aja yang baperan Syif, padahal bercanda kan Daf?" Tanya Bella sambil melihat ke arah Daffa menunggu jawaban.


Daffa mengangguk dengan cepat ke atas bawah.


"Iya-iya baiklah," ucap Syifa tidak niat.


"Nah, kalau gitu ayo kita masuk ke rumahku," ucap Vira sambil mendorong Syifa dan Bella supaya berjalan ke rumahnya.


"Ayok, kalian bertiga juga," ucap Vira memanggil Daffa, Ridho, dan Farrel sambil berjalan.


Syifa, Vira, dan Bella berjalan berdampingan ke rumahnya Vira, sedangkan Daffa, Ridho, dan Farrel masih saja berdiri di tempat.


"Syukurlah," ucap Daffa sambil mengelus-elus dadanya dengan wajah lega.


"Mantap parah kamu Daf haha..." Ucap Ridho sambil bertepuk tangan.


"Lihat, sampai membekas di pipinya anjir haha..." Ucap Farrel dengan tertawa terbahak-bahak.


"Cih..." Daffa mendecih dengan mengalihkan pandangannya dari mereka berdua.


"Yaudah kita ke sana, nanti ketinggalan Ama mereka." Ucap Ridho sambil menggeret Daffa dan Farrel.


Mereka bertiga berlari menyusul para gadis-gadis yang sudah hampir sampai di pintu rumahnya Vira.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka bertiga sampai di belakangnya para gadis-gadis.


"Awas, minggir-minggir, biar aku yang di tengah agar gak kelihatan," ucap Daffa sembari menerobos Ridho dan Farrel.


"Kamu di belakang aja," perintah Syifa sembari menghadang Daffa.


"Emangnya kenapa?" Tanya Daffa.


"Eh? Emm, ya gapapa, pokoknya kamu di belakang aja," jawab Syifa dengan gugup.


"Enggak-enggak, aku maunya di tengah biar ga dilihatin," ucap Daffa menolak perintah Syifa.


"Oh!... Kamu ga mau yah?!" Ancam Syifa dengan memasang wajah seram.


"Eh? Iya-iya Baiklah..." Ucap Daffa ketakutan.


"Dia memang gak mirip sama sekali dengan gadis yang muncul di mimpiku." Gumam Daffa dengan perasaan yang kesal.


Dengan terpaksa Daffa menuruti perintahnya Syifa dan melangkah mundur ke belakang, sedangkan Syifa berjalan ke depan.


"Kalian berdua ini yah, gak di sekolah, gak di sini, ribut terus..." Ucap Vira mengomel mereka berdua.


"Bukan aku yang mulai, tapi dia," ucap Syifa menunjuk kepada Daffa.


"Apa? Aku yang mulai? Pengen kupukul!" Gumam Daffa gregetan.


"Iya deh iya," Ucap Vira mengalah.


"Ya udah, kita masuk ke dalam yuk," ucap Syifa kembali ceria.


Tak lama setalah itu, Syifa membuka pintu rumahnya Vira dengan perlahan, kemudian terlihatlah beberapa pelayan sudah berjejeran rapi menjadi 2 barisan, yaitu di sebelah kanan dan di sebelah kiri.


"Silahkan masuk, tuan dan nona muda," ucap salah satu pelayan mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Yuk masuk, oh iya karena ini pertama kalinya bagi Daffa berkunjung ke sini, jangan malu-malu yah, anggap aja rumah sendiri," ucap Vira sembari tersenyum manis.


"udah pasti malu lah ya, terus rumah sebesar ini dia bilang, anggap saja seperti rumah sendiri? Apa dia gila?" gumam Daffa yang jantungnya berdetak kencang.


"Awas aja kalau kamu malu-maluin." Ancam Syifa kepada Daffa.


Daffa tidak membalas perkataan Syifa sepatah katapun dan hanya berdiam diri bersiap-siap masuk ke rumah orang kaya dengan gugup.


Mereka pun masuk melewati pintu tersebut yang diawali oleh Syifa.


Teman yang lain pada berjalan dengan wajah yang senang dan bersikap seperti biasa, beda dengan Daffa, ia malah berjalan dengan menundukkan kepalanya ke bawah dan tangan kirinya memegangi pipinya yang terdapat bekas merah tamparan Syifa.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


"Plis, plis, plis, jangan tertawa." Gumam Daffa yang jantungnya berdetak sangat kencang.


Baru saja Daffa melangkah beberapa meter melewati pintu, pelayan yang berada di sampingnya seperti menahan tertawa melihatnya.


"Argh, pengen pulang banget," gumam Daffa dengan perasaan sangat malu.


Semua pelayan mencoba menahan tertawa ketika melihat Daffa yang mengenakan baju dan celana pendek ke rumah majikannya, namun karena tidak bisa menahannya lagi, mereka pun akhirnya tertawa terbahak-bahak bersama.


"Hahahaha...." Semua pelayan tertawa terbahak-bahak bersama, sampai-sampai barisan yang mereka buat tidak rapi kembali.


Daffa yang mengetahui kalau mereka tertawa terbahak-bahak karena melihat dirinya, ia pun semakin malu dan mempercepat jalannya.


"Siapa anak itu sih haha..." Ucap salah satu pelayan sembari tertawa.


"Teman barunya Vira yah? Kok lucu banget sih haha..." Ucap salah satu pelayan sembari tertawa.


Tak lama kemudian, Vira mengomeli pelayan rumahnya yang tertawa terus-menerus dan membuat Daffa tidak nyaman.


"Ehem! Jangan gitu pada teman kami," ucap Syifa dengan tatapan tajam tertuju pada para pelayannya.


Dengan cepat pelayan tersebut kembali ke posisi mereka masing-masing setelah mendengarkan ucapan Vira.


Mereka pun lanjut berjalan menuju meja makan yang ada di depan, namun tiba-tiba ada seorang mamah muda dari depan berlari menuju Vira, kemudian ia saling memeluk dengan Vira sampai-sampai mereka berdua berputar.


"Anak mamah yang paling cantik sedunia," ucap mamah muda tersebut sambil memeluk Vira.


"Mamah ih, malu tau," ucap Vira sambil memeluk mamah muda tersebut.


"Iya, maaf-maaf," ucap mamah Vira, lalu melepaskan pelukannya dengan Vira.


"Itu mamahnya Vira?! Bohong kan?!" Gumam Daffa terkejut.


Setelah melepaskan pelukannya dengan Vira, mamahnya Vira menyadari kehadiran Daffa, lalu ia menghampiri Daffa.


"Kamu Daffa kan?" Tanya mamah Vira sembari melihat dan meraba-raba wajahnya Daffa.


Wajahnya tersipu malu, tubuhnya gemetar dan jantungnya berdebar ketika melihat mamahnya Vira sedang meraba-raba wajahnya.


"Eh? Iya," jawab Daffa pelan dengan grogi.


Kemudian mamahnya Vira melirik ke arah Syifa dengan genit, lalu berkata.


"Syifa, Jadi ini pacarnya kamu yaaah?" Tanya mamahnya Vira dengan genit.


"A a apa?! Mana mungkin lah!" Jawab Syifa gugup dengan wajahnya yang berubah merah muda.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2