Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 60 : Akhir Yang Melelahkan


__ADS_3

Daffa sudah tidak tahu lagi, ia tetap tak menemukan jawabannya meski telah memikirkannya berulang kali. "Kayaknya percuma dah, aku udah tidak yakin lagi. Kata Syifa kan, temannya yang bernama Melly itu baru sampai di rumahnya saat siang tadi. Apa Iyah, Melly berbohong kepada Syifa?" Gumam Daffa dalam hatinya.


Sementara itu, Fandi dan yang lainnya justru tampak bingung melihat ekspresi Daffa yang begitu syok. "Kamu kenapa, Daf?"


Daffa menggelengkan kepalanya sembari menutup kantong matanya yang menghitam itu. Beberapa saat kemudian, ia kembali membuka matanya yang tatapannya berfokus pada mereka. "Terus, apa cewek yang kalian temui itu menggunakan... Jubah putih?"


"Tidak, dia berpakaian seperti biasa,"


"Lalu, kenapa kalian gak tahu siapa orang itu?!" Tanya Daffa, nadanya makin lama makin mengecil.


"Karena dia memakai penutup wajah,"


"Oh begitu yah, ini sangat membingungkan." Daffa tampak kecewa.


Pluk! Suara Fandi menepuk bahunya Daffa. "Sudahlah Daf, katanya mau pulang. Ini pasti gak ada hubungannya, dan kau jangan terlalu memikirkannya, ini terjadi juga karena kesalahanku." Ujar Fandi yang menyalahkan diri sendirinya.


Dengan berkecil hati Daffa menuruti perkataannya. "Baiklah..." Fandi pun tersenyum lebar.


Sreeg! Tiba-tiba sebuah tangan muncul dihadapannya Daffa yang seakan-akan ingin mengundangnya. Kelopak matanya membesar dan mulutnya tampak terbuka seperti orang sedang kebingungan, ia yang hanya melihat wajah Fandi sekilas bisa langsung merasakan kenangan masa lalunya dengan sahabat lamanya.


Dan tanpa ia sadari, undangan itu sudah diterima oleh tangannya. Genggaman tangan itu sangat berkesan bagi Daffa, bahkan suasana disekitar dirinya menjadi tenang dan hangat.


Fandi membuka mulutnya. "Karena kita tidak bisa menemukannya sekarang. Kalau begitu, kita akan terus bekerja sama mencari sosok gaib dibalik ini semua sampai benar-benar ketemu!"


"Ya aku juga inginnya begitu," Balas Daffa, ia sadar kalau yang dia ajak bekerja sama adalah lawannya beberapa jam yang lalu tapi sekarang justru menjadi kawannya. Bagai seekor kucing dan seekor tikus yang habis beradu kekuatan satu sama lain, lalu mereka bekerja sama untuk melawan seekor anjing.


Menambah sekutu bukanlah hal yang buruk justru itu sangat menguntungkan bagi Daffa. Karena inilah mengapa ia kembali setelah menghajar mereka.


Daffa memang pernah bercakap kalau dirinya tak tertarik dengan sebuah percintaan. Akan tetapi di dalam dirinya ada satu yang membuatnya sangat penasaran, kenapa semua orang yang ada disekitar Syifa selalu menyuruhnya untuk menjauhinya? Dan kenapa sosok Syifa yang sangat ceria bisa menyembunyikan luka hatinya di wajahnya? Daffa sangat penasaran akan hal itu dan ia ingin segera membongkarnya.


Genggaman tangan mereka pun melepas, setelahnya Fandi tampak mengepal tangannya mengarah pada Daffa. "Daffa, ingatlah! suatu hari nanti, aku berjanji akan membantumu di saat kamu sangat membutuhkanku!"

__ADS_1


Daffa tak menjawab sepatah kata pun. namun di pandangan Fandi, wajahnya sangatlah menggambarkan kesetujuan.


Mereka bertiga menatap ke arah Daffa, jari Fandi menunjuk ke belakangnya. "Kalau begitu kami bertiga duluan ya, Daf..." Ucapnya yang kemudian mengajak Fendi dan Fundi tuk berjalan pulang.


Sebelum melangkahkan kakinya, wajah Fandi tampak seperti merendahkan. "Kau pasti gak takut pulang sendirian kan, Daf? Apa jangan-jangan... Kau sangat takut untuk pulang sendirian?" Ledek Fandi dengan wajahnya yang amat lucu.


Reaksi Daffa cukup biasa, akan tetapi tampangnya sangat amat menggambarkan sedang menahan diri dengan tingkah laku seorang Fandi. "Woi, aku tidak pernah bilang seperti itu..." Sorak Daffa dalam hatinya.


Fendi mengeplak bosnya itu dengan sengaja untuk menyadarkannya, "Ya kali si Daffa takut, yang ada kau sendiri yang takut." Ucapnya yang kemudian menggeret bajunya Fandi secara paksa. "Ayok cepet, udah jam tiga pagi ini!" Sambungnya.


Mereka pun akhirnya melangkahkan kakinya berhimpit-himpitan dan menjauhi Daffa di tempat.


Bisikan mereka saat tengah berjalan terdengar cukup baik di telinganya Daffa. Tembok di sekitar yang padat dan juga keras membuat suara menjadi sedikit bergema.


"Tahu dari mana ini jam tiga pagi?" Bisik Fandi selagi berjalan.


"Ya handphone lah," Jawab Fendi.


Seketika itu membuat semuanya bergetar termasuk jantungnya Fandi yang kecepatannya tak kunjung menurun. Laju kakinya terhenti, dan yang lainnya juga ikut berhenti lalu menatap Fandi dengan wajah penuh tanda tanya.


Daffa yang memerhatikan bisikan mereka juga merasakan hawa aneh di sekitarnya.


Fandi menengok ke sebelah kanan dan kirinya. "Sstt..." Tangannya membentuk sebuah kode agar teman-temannya tidak terlalu berisik. "Kalian ini... Jangan menakut-nakutiku." Bisik Fandi sangat pelan hingga sulit didengar.


"Emang bener bos, aku liat di internet." Balas Fundi dengan bisikan.


Suasana yang hening tapi bikin merinding itu seakan berubah. Terdengarlah suara aneh dan berisik di belakang mereka.


Crack...!


Semua jantung berdebar karena mendengarnya, Fandi pun menelan ludah karena ketakutan. "Suara apa tadi?" Bisiknya.

__ADS_1


Craack...! Suara itu kembali terdengar dan membuat tubuhnya gemetaran. "Pokoknya kalian berdua jangan kabur ninggalin gue yah-"


Klotak!


Klotak!


"Allahu akbar!" Fandi sontak terkejut hingga meloncat sendirinya. Tak berhenti begitu saja, suara itu terus terdengar di telinganya yang sensitif.


Gubrak!


Suara yang terakhir kali terdengarnya itu membuat Fandi berlari terbirit-birit bersama Fundi dengan spontan berteriak mengucapkan takbir. "Allahu akbar! Subhanallah! Allahu akbar...!"


Sementara itu, Fendi justru tertinggal di belakang dengan raut wajah kesal. "Woy kalian! Jangan malah meninggalkanku." Ucapnya yang kemudian berlari menyusul mereka berdua.


Kini hanya tinggal Daffa seorang. Wajahnya terheran-heran karena melihat tingkah mereka, walau dirinya pun sempat kaget seperti mereka.


Di tempat yang cukup gelap dan terang, Daffa mencari asal suara yang sangat aneh itu. Yang lebih anehnya lagi, ternyata pelakunya adalah seekor kucing malang yang tampaknya sedang kelaparan. "Kucing?" Gumam Daffa.


Kucing itu mengeong dihadapan Daffa dan sesekali dia menabrakkan diri di kaki Daffa. "Meong... Meong... Meong..."


"Maaf aja ya ini cing, tapi aku gak paham bahasa kucing." Gumam Daffa sembari mengelus kucing itu.


Sebelum meninggalkan jejak di sana, Daffa memberinya secuil remahan roti yang entah dimakan atau tidaknya oleh kucing.


***


Setibanya di rumah, dengan mata pandanya yang hampir terlelap, kedua kakinya yang sudah sangat lentur, Daffa pun bergegas tidur di atas ranjangnya sesaat setelah mengunci pintu rumahnya.


Daffa terlelap di lautan mimpi yang sangat dalam. Ia tak bisa mendengar apa-apa, mulutnya tertutup rapat dan pandangan matanya tampak buram. Ia hanya bisa berlari di dalam dunia itu.


Di saat-saat tertentu Daffa merasakan sesuatu yang aneh dapat menyentuhnya. Dan tak berselang lama, suatu gelombang suara masuk ke dalam telinganya hingga terasa sampai terdengar dimimpinya. "Daffa... Ibu... Dan... Ayah... Pergi... Dulu... Yah..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2