
Di jalan raya yang amat ramai akan kendaraannya, terlihat Daffa tengah memegangi kakinya yang tampak terluka itu di pinggir jalan. Mukanya seperti sedang menahan rasa sakitnya.
Daffa melihat salah satu dari tiga orang yang tadi hampir bertabrakan dengannya, nampak berjalan menghampirinya. "Kamu?..." Ucapnya.
"Siapa?..." Tanya Daffa ketika melihatnya seraya mencoba meluruskan kembali kedua kakinya dengan pelan-pelan. "Kayaknya aku pernah sekilas melihat mereka." Gumam Daffa dalam hatinya.
"Kamu... Kamu teman sekelasnya Syifa kan?" Tanya cowok tersebut.
"Eh, iyah," jawab Daffa yang tampak masih kebingungan.
"Tuh kan ternyata aku benar. Aku Fandi, satu angkatan sekaligus satu sekolah denganmu, cuman hanya beda kelas saja. Dan juga! Aku adalah calon pacaranya Syifa. Ingat itu baik-baik ya, Daf. Haha..." Ucap Fandi dengan percaya diri dan bangganya memperkenalkan diri kepada Daffa.
"Eh?... Ternyata kita satu sekolah ya?... Pantas saja aku pernah melihatmu di suatu tempat tapi lupa, hehe..." Balas Daffa dengan sedikit tawaan.
"Maksudnya calon pacarnya Syifa itu apaan? Apa mungkin Fandi sama Syifa itu sudah berpacaran tapi belum direstui?... Eh? Gimana sih?... Bodo amat lah, aku gak maksud sama perkataannya si Fandi," gumam Daffa dalam hatinya selagi tertawa.
Dua orang lagi yang tadi bersama Fandi, mereka berdua kemudian ikut-ikutan berjalan menghampiri Daffa saat tengah berbicara dengan Fandi.
"Oh iya, mereka berdua adalah teman-temanku atau juga bisa disebut anak buahku. Yang ini namanya Fundi, kalau yang satunya lagi namanya Fendi. Itu nama julukan dari aku aja sih biar terasa mirip, haha..." ucap Fandi yang memperkenalkan mereka berdua kepada Daffa.
"Hai bro! Salam kenal, bocah lemah." Ucap salah satu temannya Fandi atau lebih tepatnya Fundi.
"Di senggol dikit aja jatuh, cowok macam apa kamu itu," sindir teman Fandi yang satunya lagi atau lebih tepatnya Fendi.
"Yah... Tadi aku tidak melihat kalian, jadi wajar saja aku terjatuh, hehe..." ucap Daffa sembari salah satu tangannya memegang-megang rambutnya. Sedangkan yang satunya lagi tampak memegang kakinya yang terluka.
Fandi menepuk bahu kedua teman-temannya itu sambil berkata, "Udah yuk, kita lanjutkan pergi ke sana."
"Baiklah bos," balas kedua teman-temannya Fandi dengan kompak.
"Ya udah Daffa, kami bertiga pergi duluan. Kamu pasti bisa berdiri sendiri kan? Kalau gak bisa sih, sudah pasti kamu cewek yang menyamar jadi cowok. Haha..." Ejek Fandi yang kemudian kedua temannya ikut tertawa bersamaan.
Fandi dan kedua temannya tampak bersamaan membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan Daffa di tempat sambil menertawakannya terus-menerus.
Tak lama kemudian. selagi masih berjalan, Fundi tampak berteriak seraya menoleh ke belakang ke arah Daffa. "Hey bocah lemah! Jangan sampai kamu menangis koar-koar saat kami sudah pergi!..."
__ADS_1
"Palingan juga nanti nangis!" Teriak Fendi melanjutkan perkataannya.
"Hahaa!...." Fandi dan kedua temannya terlihat tertawa setelahnya. Mereka bertiga semakin berjalan menjauh dari tempat Daffa terjatuh.
Daffa tampak mencoba berdiri, dan ternyata ia bisa hanya dengan sekali mencobanya. Dia berdiri mengahadap sekaligus melihat ke arah Fandi dan kedua temannya. Tiba-tiba saja keluar senyuman kecil di wajahnya. "Lemah... Kah?..." Gumam Daffa yang kemudian senyumannya semakin melebar.
Daffa pun melangkah berjalan ke arah sebaliknya dari Fandi dan kedua temannya itu.
Berselang beberapa menit kemudian, Daffa kini berada di depan toko orang yang berada di pinggir jalan. Daffa tampak tengah mencoba memasang plester di kakinya yang tadi terluka karena terjatuh.
Daffa pun akhirnya telah usai memasangnya. "Nah, selesai sudah. Sekarang aku akan melanjutkan kembali menuju restoran Chicken Good." Ucap Daffa bersemangat seraya memandang langit yang biru di atasnya.
***
"Apaaa!?..." Teriak Daffa.
Terdengar suara teriakan Daffa yang kini ia tengah berada tepat di depan restoran Chicken Good. Mukanya tampak tidak percaya ketika melihat restoran tersebut tutup.
Daffa menghela nafasnya dalam-dalam lalu berkata, "Ya ampun... Padahal udah jauh-jauh ke sini."
"Lebih baik tadi aku makan di warung aja..." Ucap Daffa pelan sembari berjalan. "Tapi tetep saja aku ingin makan di situ, karena makanannya enak-enak." Gumam Daffa.
Tak lama setelah Daffa berjalan di pinggir jalan raya, ia tampak melihat toko roti. "Ah, mending aku beli roti aja deh."
Daffa berjalan memasuki toko roti itu. Dan keluar-keluar ia sudah membawa kantong plastik yang berisi beberapa roti di dalamnya. Daffa juga membawa air mineral botol di tangannya yang satunya lagi.
Daffa berjalan lurus meninggalkan tempat toko roti itu, tapi tiba-tiba Daffa tampak berhenti di jalan. "Eh bentar-bentar, ini aku makannya di mana anjir. Nggak mungkin kan kalau aku pulang ke rumah, udah laper ini..." Ucapnya kebingungan.
"Masa iya aku duduk di atas jalan ini yang terlihat kotor, terus memakannya begitu saja?" Daffa mulai kebingungan dan juga panik selagi perutnya yang terus berbunyi.
Tak lama kemudian setelah Daffa berpikir keras, ia tampak menemukan ide. "Nah!... Eh tadi apa yah?" Tapi kelupaan.
"Oh iya, aku pernah sekilas melihat kursi di pinggir jalan saat aku pulang sekolah. Barang kali di sini juga ada." Ucap Daffa sambil senyum-senyum sendiri.
"Okeh... Akan ku coba dengan teropong alami milikku," ucap Daffa yang terlihat bersemangat.
__ADS_1
Daffa nampak menaruh roti dan juga air botolnya yang tadi ia beli di bawahnya atau lebih tepatnya di atas jalan begitu saja. Beberapa orang lain yang berjalan melewati Daffa tampak keheranan melihatnya.
Yang dimaksud teropong alami milik Daffa, ternyata adalah kedua tangannya yang membentuk lingkaran dan ditengahnya terdapat bolongan.
Daffa memfokuskan arah kedua matanya ke berbagai arah secara bergantian dengan teropong miliknya itu. "Mana yah..."
Sementara orang-orang yang kebetulan sedang berjalan melewati Daffa, mereka semua tampak semakin keheranan.
"Hei, lihat-lihat. Anak itu aneh sekali," bisik orang-orang yang melihat Daffa.
"Apa yang sedang dia lakukan? Memalukan sekali," bisik orang-orang lainnya yang tengah berjalan melewati Daffa.
"Itu dia! Aku menemukannya," ucap Daffa dengan lantang.
"Eh!?" Orang-orang yang kebetulan ada di sekitarnya tampak kaget karena mendengar Daffa yang tiba-tiba berkata dengan keras. Sampai-sampai langkah mereka terhenti karenanya.
Tanpa berlama-lama, Daffa seketika langsung mengambil kembali roti dan botol minumnya yang tadi ia taruh di atas jalan itu. Kemudian ia berlari dengan cepat sambil membawanya.
Hanya butuh beberapa menit saja, akhirnya Daffa sampai di depan kursi taman yang tadi ia lihat dari kejauhan. "Nah, gini kan enak. Waktunya makan..." Ucapnya setelah duduk di kursi tersebut. Kursi itu berada di pinggir jalan.
Daffa memakan rotinya sembari duduk santai di kursi taman itu yang tepat berada di depan gedung yang tampak besar. Sedangkan Di pinggirnya terdapat pepohonan yang tinggi dan di depannya terlihat banyak motor dan mobil yang berlalu-lalang.
"Enak..." Ucap Daffa selagi mengunyah rotinya dengan tergesa-gesa.
Daffa tampak memakan rotinya sambil melihat-lihat jalanan di sekitarnya.
Daffa agak sedikit kaget ketika melihat ke arah kirinya. Daffa melihat seorang pria bertubuh besar dan wanita anggun keluar dari pintu masuk gedung tersebut dan berjalan ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Daffa melihat ke arah pria itu terus seakan-akan ia seperti mengenalnya. "Bukankah itu Pak sopir yang waktu itu?"
Daffa memanggilnya tanpa berpikir panjang setelah melihatnya. "Pak Sopiir!..." Teriak Daffa melambaikan tangannya sembari mengunyah rotinya yang belum masuk ke dalam perut.
Langkah keduanya terhenti tepat di depan mobil itu setelah mendengar teriakannya Daffa.
Alisnya Pak Supri seakan-akan menaik ketika melihat Daffa yang ada di situ.
__ADS_1
Bersambung...