
Hari semakin gelap, diiringi cahaya matahari yang menurun dikarenakan sebentar lagi akan terbenam di sebelah barat.
Di kala itu panorama alamnya sangat indah, Cakrawala langit berwarna merah kekuningan yang begitu mempesona ketika dilihat terus-menerus, ditambah lagi tiupan angin sejuk yang sejak tadi menabrak mereka hingga terasa sangat dingin.
Daffa berjalan sambil menggendong Syifa di antara pemandangan alam yang indah itu, Daffa bersama Syifa berjalan memutari pedesaan.
Akan tetapi di tengah jalan, Syifa tiba-tiba menarik pundak Daffa. "Stoop ... ! Stoop ... !"
Tarikannya mengakibatkan langkah Daffa terhenti secara paksa. "E-eh, kenapa?"
Syifa mengangkat tangannya, jarinya menunjuk ke suatu tempat yang tak begitu jauh dari tempat mereka saat ini. "Ayok, kita ke bukit kecil itu."
Syifa menyuruh Daffa untuk berjalan mengarah ke sebuah bukit kecil, yang tampaknya mempunyai pohon tunggal yang begitu tinggi dan daunnya yang sangat lebat di sana.
Tampaknya kali ini Daffa setuju dengan Syifa. Tanpa berlama-lama, Daffa langsung saja berjalan menuju bukit tersebut.
Tak butuh waktu terlalu lama, mereka akhirnya menapakkan kaki di atas bukit yang penuh tanaman hijau tersebut.
Nafas Daffa terengah-engah. "Akhirnya ... Sampai juga."
"Brukk!"
Dengan sengaja, Daffa menjatuhkan diri ke tanah berumput, tepat di bawah pepohonan yang tumbuh tinggi.
Syifa merasakan sedikit kesakitan di punggungnya sesaat setelah terjatuh. "Aww ... !"
"Ih, kamu mah sengaja."
"Emang, biar sama-sama merasakan."
Mendengar hal itu, Syifa langsung menjewer telinganya Daffa dengan raut wajah kesal. "Iiiihhh ... ! Awas kalau gitu lagi."
Daffa malah tertawa melihat kemarahan Syifa. "Haha ... ! Ad-duh, aduh ... Iya deh aku janji."
Syifa menurunkan tangannya, Syifa melepas jewerannya ketika Daffa telah meminta ampun kepadanya.
Di kala senja itu, mereka sama-sama saling tidur-tiduran berdampingan. Suasananya sangat tenang ketika mereka meneduh di bawah bayangan pepohonan yang tinggi nan lebat.
Sambil berbaring, Daffa dan Syifa dapat melihat dengan jelas panorama matahari terbenam dan menghilang dari cakrawala. Matanya tak bisa berpaling sekalipun dari pemandangan indah itu.
Daffa menggerakkan mulutnya. Tidak biasanya Daffa membuka pembicaraan seperti ini di kala suasana tengah hening dan hanya ada suara hembusan angin saja. "Hey ... Syifa."
Syifa langsung merespon. "Yah? ... "
Daffa mengucapkannya depan pelan. "Syifa, kamu pastinya masih ingat, kan? Tentang kejadian dengan Fandi."
__ADS_1
Syifa sedikit mengerutkan bibirnya. "Tentu lah, mana mungkin aku melupakannya."
Daffa mengobrol dengan Syifa, tapi pandangan matanya tak mengarah pada Syifa, melainkan lurus melihat awan senja. "Fandi bilang kepadaku, dia akan pindah sekolah sekarang juga."
Syifa tertegun mendengar hal itu, dalam hatinya begitu lega hingga terlukis sebuah senyuman di wajahnya. "Eh, benarkah? Aku sangat senang mendengarnya."
"Tapi, Syifa ... Entah mengapa aku sempat curiga dengan temanmu yang mungkin saja merencanakan itu semua dari awal."
"Maksudmu, Melly?"
"Iya, benar."
"Daffa, kamu terlalu berpikir buruk tentang Melly. Kamu memang baru mengenal dia, tapi tidak mungkin Melly melakukan hal itu, soalnya dia juga sering membantuku dari dulu dan aku kenal betul sama dia."
Daffa masih kurang percaya. "Apa iya?"
"Ih, kamu mah gak percayaan. Sebenarnya tuh Melly orangnya sangat baik dan aku sering bercerita dengannya ... "
Syifa berhenti bicara dalam sesaat, pipinya tampak sedikit memerah. " ... M-malahan Melly yang memaksaku untuk ikut denganmu."
Mendengar hal itu, spontan Daffa terbangun dalam sesaat. "Nah, kan! Itu pasti akal-akalannya saja."
Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak tidak tidak ... Kalau Melly berniat mencelakaiku, lalu kenapa sekarang Melly malah mendekatkan aku dengan sosok penyelamatku?"
Daffa lalu kembali berbaring lagi di sampingnya. "Oh, iya. Benar juga."
"Oh iya, aku hampir lupa. Syifa, Melly memangnya ke rumahmu saat kapan?"
"Oohh ... Aku kira hari Jum'at."
Daffa mengakhiri kalimatnya, ia sudah cukup puas dengan jawaban yang diperolehnya saat ini dan mungkin Daffa sudah tidak mencurigainya lagi.
"Syifa, sisa air punyamu masih ada? Aku minta dong."
Syifa mengangguk, lalu ia memberikan botol minumnya. "Masih kok, nih."
Daffa masih merasa kehausan, dirinya pun kemudian mengambilnya dari tangan Syifa. Daffa melihatnya, air dalam botol itu masih tersisa setengah. Tanpa berlama-lama, Daffa langsung membuka tutup botolnya dan langsung meminumnya dengan menenggak.
"Glukk ... "
"Glukk ... "
"Glukk ... "
Setelah terasa tidak haus lagi, Daffa menaruhnya kembali di tengah-tengah mereka. "Terima kasih."
Syifa melirik ke arah Daffa, sebab dirinya tak lagi mendapat pertanyaan dari Daffa. Dalam pikirannya, ini mungkin gilirannya untuk berbalik bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Daffa ... Aku juga mau tanya."
"Tanya? Tanya apaan?"
Syifa menoleh ke arah Daffa, ia bertanya dengan lemah lembut. "Nama Lio yang sering kamu sebut, itu siapa?"
"Lio, ya? Seperti dengan Risma. Namanya Julio, dia itu temanku saat dulu, sebelum kenal denganmu dan yang lainnya."
Syifa cukup terkejut ketika mendengar jawaban dari Daffa. Tiba-tiba saja keningnya menyerngit, wajahnya seperti menunjukkan sebuah kemarahan. "Julio?! Entah kenapa aku sangat muak mendengar nama itu."
Daffa merasa keheranan dengan reaksi Syifa. "Eh, memangnya kenapa?"
"Namanya agak mirip seperti orang yang kukenal."
"Mirip? Memangnya nama orang yang kamu kenal siapa?"
"Udah ah, aku gak mau ngebicarain tentang yang namanya Lio lagi."
Daffa makin penasaran. "Eh, kenapa? Jangan bikin aku tambah penasaran."
Dengan wajah mengkerut, Syifa menutupi kedua lubang telinganya. Dia sepertinya mencoba untuk menghindari perkataan itu. "Gak mau ... "
Daffa sesekali menarik tangannya itu, tapi sayangnya Syifa selalu menolak belakanginya.
Mengetahui cara biasa tidak berhasil, Daffa pun mencoba untuk menggelitiknya tanpa ampun hingga membuat Syifa tertawa karena tak tahan dengan rasa gelinya. "Aku gelitik terus nih, sampai kamu berbicara."
"Hahaha ... ! Oke-oke, cukup udah ... Haha ... Berhenti ... "
Daffa akhirnya melepaskan tangannya dan itu membuat Syifa kini menjadi lebih tenang. "Rio ... Rio Julio itu namanya, tapi aku tidak suka dengan kehadirannya. Udah, puas kan?" Ucap Syifa pelan.
Daffa agak terkejut mendengarnya. "Eh ... Ternyata hampir mirip yah."
keadaan di antara mereka tiba-tiba menjadi begitu tenang, dikarenakan suara perbincangan mereka yang berhenti dalam sesaat. Tapi keadaan itu hanya berlalu untuk satu menit saja.
"Oh, iya Syifa ... Kamu pastinya masih ingat, kan?"
"Ingat apa?"
Daffa menyerngit, wajahnya tiba-tiba begitu serius. "Tentu saja tentang permintaanku yang harus kamu turuti."
Syifa seakan langsung teringat kembali, wajahnya sungguh kaget. "Permintaan? Eh, kamu mau melakukannya di sini?! Tapi kalau ada orang yang melihatnya bagaimana? ... "
Daffa begitu kesal, entah mengapa Daffa merasa kalau dirinya selalu dikerjai olehnya. "Syifa, kamu ini ... ! Aku tidak pernah bilang, kalau akan akan melakukan hal mesum."
"Oh, maaf-maaf, aku lupa. Habisnya ... Kamu itu lucu sekali sih, saat aku kerjain. Ehe ... !"
"Huh, dia pasti sengaja." Gumam Daffa dalam hati.
__ADS_1
Daffa menoleh dan menatap matanya Syifa, mulutnya mengkerut seperti kembali ke wajah aslinya. "Tapi, Syifa ... Setelah ini tidak akan lucu lagi."
Bersambung ....