Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 94 : Cahaya Di Antara Kegelapan


__ADS_3

Syifa mencoba berteriak, namun hanya setengah kalimatnya saja yang tersampaikan dari mulutnya.


Daffa melihatnya, bahkan ia melihatnya dengan jelas dari samping. Dia langsung berlari sangat cepat ke arah kolam renang di saat-saat terakhir.


Syifa terjebur, ia tahu dirinya sudah berada di dalam kolam renang, tapi entah kenapa pandangan matanya seakan menjadi lebih buram.


Tidak seperti biasanya, Syifa yang biasanya tidak akan tenggelam seperti ini dan akan sangat menikmati pemandangan ini. Mungkin Itu karena dirinya sangat kagok, ketika berenang tanpa memakai kacamata renang.


Buuurrpp ...


Ketika Syifa bernafas, terlihat gelembung-gelembung berkeluaran dari celah mulutnya, dan terpecah-belah saat berkeliaran. Itu membuatnya tersenyum walau hanya sesaat saja.


Buuurrpp ...


Bahkan itu terus berlangsung saat dirinya membutuhkan oksigen di dalam kolam renang. Sangat sesak sekali.


Buuurrpp ...


Dingin, hampa, buram, begitupun dengan heningnya yang Syifa rasakan, tenggelamnya di dalam jurang air, membuat penglihatannya menjadi gelap.


Buuurrpp ...


"Apakah ... Ini akhir dari hayatku?"


Buuurrpp ...


"Apakah ... Ini akhir dari cerita hidupku?"


Buuurrpp ...


Batinnya sangat berpasrah, yang dilihatnya hanyalah air, biru, dan kegelapan saja.


"Byur!" Suaranya sama persis ketika dirinya tercebur ke dalam kolam.


Dalam kegelapan itu, terselip sebuah cahaya terang yang berada tepat di atasnya.


Cahaya terang itu terus mendekat. Jika dilihat-lihat dengan jelas, rupanya itu adalah seorang Daffa yang habis meloncat dari atas.


Dengan niat ingin menolongnya, Daffa berenang dengan sangat gugup ke arahnya.


Buuurrpp ...


"Daffa? ... " Syifa melihatnya, ia menjadi lebih hidup lagi.


Buuurrpp ...


Daffa mengulurkan tangannya, ia berusaha sangat keras untuk menggapainya. Mulutnya menganga seperti sedang berkata sesuatu kepada Syifa, namun Syifa tak bisa mendengar apa yang Daffa katakan.


Tapi ada satu hal yang sangat Syifa ketahui, ia tahu jelas dengan pesannya melalui kontak mata mereka berdua.


Buuurrpp ...


"Sesak sekali ... Tapi, inilah yang membuat pandanganku terhadapnya berubah." Gumamnya dalam hati.


Daffa mengangguk kepalanya, begitu pula dengan Syifa. Mereka melakukannya secara bersamaan.


Dengan matanya yang sudah setengah buram, mereka berdua saling menjulurkan tangannya ke arah yang berlawanan.

__ADS_1


Pesan itu akhirnya sampai ke Syifa, bukan lewat pendengaran telinganya, melainkan lewat pendengaran hatinya.


"Syifa, gapailah tanganku!"


*****


Kejadian itu berlalu sangat cepat, Daffa dan teman-temannya yang lain sudah pada keluar dari gedung kolam renang.


Lebih tepatnya di depan gerbang pintu sekolah, mereka semua berkumpul di sana, karena hari akan menjelang malam.


Tertampak Syifa bersama kedua sahabatnya yang berjalan masuk ke dalam kendaraan mobil.


Syifa telah mengganti pakaiannya, tapi yang dipakainya adalah sebuah pakaian olahraga sekolah.


Dari belakang, ada Daffa yang mengikuti langkah mereka bertiga. Ia juga telah berganti pakaian, bedanya ia mengganti pakaiannya dengan pakaian bebas.


Ridho dan Farrel juga akhirnya menyusul mereka walau sampai paling akhir.


Daffa berdiri di depan mobil, Rupanya mobil itu dikendarai oleh pak Supri. Pintu mobilnya memang sudah tertutup rapat, tapi kacanya masih terbuka lebar.


Dari celah tersebut, Daffa dapat melihat seluruh keadaan di dalam mobil.


Pandangannya tertuju ke arah Syifa. Melihatnya cukup dekat sekali, karena Syifa duduk mendekati kaca mobil tersebut. "Syifa ... "


" ... Yakin kamu baik-baik saja?"


Dengan tidak niatnya Syifa hanya mengangguk sekali secara pelan. Syifa sama sekali tidak menoleh, sepertinya ia merasa sungkan menatap wajahnya.


"Eh, gak apa-apa?" Daffa menanyakannya lagi.


"Iyah ... "


Daffa mengeluarkan napasnya, ia sangat lega sekali. Sejak tadi Daffa merasa tidak enak kepada Syifa, dan dirinya terus mengucapkan permintaan maafnya untuk yang kesekian kalinya.


Dia yang menatap ke arahnya, membuatnya kepikiran dengan satu hal. "Malam nanti jadi?"


Melly membuka mulutnya. "Jad—"


Tapi ia malah menggantungkan perkataannya, karena dirinya tiba-tiba ditatap sinis oleh Syifa.


"A–ah, aku lelah sekali." Ucap Melly, dia langsung membuang wajahnya darinya yang kemudian memejamkan kedua matanya.


Tak berselang lama dari itu, Syifa menoleh ke arah Daffa lalu membalas perkataannya. "Entahlah, kamu tinggal langsung ke sana aja."


Daffa menanggapinya dengan wajah yang sangat bingung. "Hmm ... Kalau aku tidak ikut, gimana?"


"Hah? ... " Syifa terheran-heran, ia tak menduga kata-kata itu akan muncul darinya. " ... Serah kamu aja deh." Sambungnya, suaranya pelan sekali.


"Eh, yang bener?" Daffa masih ragu-ragu.


"Diam,"


"Syifa, seriusan?"


"Diam dan pulanglah."


"Baiklah."

__ADS_1


Wajahnya tampak tertekan setelah mendengar ucapannya. Akan tetapi yang sebenarnya, Daffa sangatlah bersorak-sorai di dalam hatinya saking senangnya ketika ia terbebaskan dari mereka. "Nice sekali diriku!"


Tak ada lima detik, muncul Ridho dan Farrel yang baru saja sampai di sana, ia menepuk bahu Daffa dari belakang. "Pasti jadilah, pokoknya kamu jangan sampai melewatkannya." Farrel menyerobot Daffa begitu saja.


"Kamu masih ingat jalannya, kan?“


"Emm, mungkin?" Daffa jawab mengasal, ia juga tidak begitu yakin.


"Gini aja, Kalau tidak ingat, nanti kamu bisa telpon kita berdua." Ridho memberikan solusi.


"O–oke." Ucapannya keluar sendiri dari mulutnya. Karena hal itu, ia tidak jadi terbebaskan.


Mereka berdua kemudian juga ikut masuk ke dalam mobil tersebut.


Terdengar suara mesin mobil itu yang dinyalakan. Tanpa berlama-lama, pak Supri pun langsung menjalankan mobil itu.


Bim!


Bim ... !


Hanya Daffa yang berdiri di sana, sambil membawa tasnya, melihat mobil itu berjalan, ia seperti orang yang ditinggalkan, namun dirinya sama sekali tak merasakan itu.


Tapi Daffa melihat sesuatu yang tak biasa dilihat olehnya, ia melihat pak Supri melambaikan tangannya ketika menekan tombol klakson mobil.


Wusshh ... !


Hembusan angin beserta debu-debunya melewati depan matanya dengan begitu cepat.


Sejak angin itu lewat, sekarang tidak terlihat ada apa-apa lagi di depan pandangannya.


Jalanan yang begitu panjang di depan matanya, hanya terlihat seekor anjing yang sedang duduk di seberang jalan.


Guk!


Iya, hanya terlihat seekor anjing yang sedang menatapnya dengan ikatan yang terlepas.


Guk!


Matanya Daffa lebar-lebar terus mengawasi gerak-gerik seekor anjing tersebut. "Gawat." Batinnya.


Guk!


Anjing itu terus saja menggonggong, hal itu membuat Daffa merasa sangat was-was sekali. "Aku pernah dengar ini sebelumnya, pokoknya harus tenang dan jangan lari."


Daffa tak bergerak sama sekali, ia seperti patung yang hidup. Kecuali jantungnya, berdetak sangat kencang dalam kondisi seperti itu.


Guk!


Anjing itu berdiri, menggerakkan kakinya, dan dengan pelannya berjalan ke arah Daffa.


Lama-lama Daffa bisa tidak tahan lagi, tubuhnya bergemetaran sendiri, dan kakinya bergerak sendiri. "Ka ... "


" ... KABUR!" Teriaknya sangat keras.


GUK! GUK!


Daffa berlari sangat kencang. Sambil menggonggong, Anjing itu pun tak mau kalah berlomba lari dengannya.

__ADS_1


Pada akhirnya selama tiga puluh menit, Daffa dan seekor Anjing itu hanya bermain kejar-kejaran hingga mengitari perkotaan.


Bersambung ....


__ADS_2